Pupuk Nasionalisme, Pemuda Didorong Gaungkan Kembali Lagu-lagu Perjuangan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA, Cendana News — Putri sulung Raja Kasultanan Yogyakarta, GKR Mangkubumi mendorong penggaungan kembali lagu-lalu nasional dan perjuangan di kalangan generasi muda, khususnya kaum milenial.

GKR Mangkubumi yang juga merupakan Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY itu menyebutkan, pengenalan lagu-lagu nasional maupun lagu perjuangan, penting dilakukan, sebagai salah satu cara memupuk rasa nasionalisme dan patriotisme di kalangan pemuda.

“Lagu-lagu nasional, lagu perjuangan termasuk juga lagu daerah perlu digaungkan kembali, karena mampu menumbuhkan karakter rasa kebangsaan dan nasionalisme yang kuat di kalangan generasi muda,” katanya di sela acara Dialog Penguatan Pancasila Melalui Spirit dah Lirik Lagu Kebangsaan, yang digelar di kantor DPD DIY, Jumat (22/07/2022).

Dalam kesempatan itu, GKR Mangkubumi mewanti-wanti agar kalangan generasi muda saat ini jangan sampai hanya mengenal lagu-lagu asing saja, namun justru melupakan lagu bangsanya sendiri.

Mengenal dan mempelajari lagu-lagu nasional juga dinilai sebagai bentuk pengimplementasian nilai-nilai Pancasila. Sehingga harus terus digaungkan melalui berbagai cara, termasuk memanfaatkan media sosial seperti Facebook, YouTube, Instagram, Tik Tok dan sebagainya.

“Saya kira banyak cara bisa dilakukan anak-anak muda sekarang untuk ikut menggaungkan lagu kebangsaan. Misalnya memanfaatkan media sosial. Itu sangat efektif untuk mengedukasi generasi muda lainnya,” katanya.

Mengundang para generasi muda kaum milenial, seperti duta moseum, duta keistimewaan, duta pariwisata, hingga perwakilan mahasiswa, diskusi ini sendiri digelar sebagai upaya mengingat kembali sejumlah komponis bangsa yakni WR Supratman, Kusbini serta Liberti Manik.

Pasalnya tak bisa ditampik, Kusbini serta L Manik memiliki kedekatan dengan Yogyakarta. Kusbini yang dikenal sebagai pencipta lagu Bagimu Negri, itu diketahui lama tinggal di Yogyakarta. Selain aktif menciptakan lagu perjuangan dan lagu keroncong, ia juga dikenal sebagai tokoh pendiri sekolah musik ISI Yogyakarta.

Begitu juga dengan L Manik. Pencipta lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ dan ‘Desaku Yang Kucinta’ berdarah Batak itu lama tinggal dan menetap di Yogyakarta hingga akhir hayatnya. Selain menjadi pencipta lagu perjuangan, ia juga merupakan seorang dosen/pengajar sekolah ISI Yogyakarta.

“Mungkin generasi muda Jogja sendiri saat ini tak banyak yang tahu mengenai Kusbini dan L Manik. Padahal keduanya lama tinggal dan menetap di Yogyakarta. Bahkan keduanya telah dianggap sebagai warga Jogja. Karena saat meninggal keduanya juga dimakamkan di Jogja. Yakni di makam seniman Imogiri, Bantul,” kata Koordinator Acara, Sigit Sugito.

Sigit sendiri berharap, upaya untuk menggaungkan kembali lagu-lalu nasional ini tidak hanya sekedar menjadi wacana. Namun bisa menjadi sebuah gerakan besar yang bisa meluas ke seluruh wilayah. Sehingga mampu menumbuhkan kembali semangat kebangsaan dan nasionalisme di kalangan masyarakat Indonesia.

“Kita berharap gerakan ini bisa muncul Jogja dan meluas ke tingkat nasional. Apalagi menjelang tahun-tahun politik. Dengan bergaungnya lagu-lagu nasional dan perjuangan ini mudah-mudahan akan membawa suasana sejuk bagi seluruh elemen bangsa,” pungkasnya.