11 Juli, Presiden Soeharto Resmikan Sejumlah Proyek di Sultra Hingga Anjurkan Penelitian Obat-obatan Asli Indonesia
Jenderal Besar HM Soeharto, Presiden kedua Republik Indonesia sejak 12 Maret 1967 hingga 21 Mei 1998 mengukir banyak prestasi bagi Nusantara. Mulai dari penghargaan Nasional hingga Internasional. Banyak peristiwa penting selama masa pemerintahannya yang selalu berlandaskan Ideologi Pancasila.
Beragam pembangunan dilakukan, baik fisik hingga mental, mulai dari pembangunan sekolah Inpres, Wajib Belajar, Puskesmas, Waduk, Infrastruktur Nasional, hingga membangun 999 Masjid yang tersebar di berbagai pelosok Nusantara. Hal ini membuat Pak Harto juga dipanggil sebagai Bapak Pembangunan.
Inilah sejumlah peristiwa yang terjadi pada 11 Juli di masa Pemerintahan Presiden HM Soeharto.
Persiapkan Kabinet Ampera, Letjen Soeharto Lanjutkan Dengar Pendapat Dengan Parpol dan Ormas
SENIN, 11 JULI 1966 Waperdam Hankam a.i. Letjen. Soeharto telah menerima pimpinan partai politik dan organisasi massa, yaitu PNI, IPKI, Parkindo, Partai Katolik, Angkatan Muda Pancasila, dan Muhammadiyah dalam rangka melanjutkan dengar pendapat sebagai langkah persiapan kearah terbentuknya Kabinet Ampera.
Presiden Soeharto Rapat Umum Dengan Masyarakat Madura
SELASA, 11 Juli 1972. Masih berada di Jawa Timur, hari ini Presiden Soeharto bertatap muka dengan rakyat Madura. Di dalam rapat umum di Pamekasan maupun di Sampang, Presiden kembali menegaskan bahwa tahap perjuangan kita sekarang ini ialah mengisi kemerdekaan dengan menyusun masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur, kita harus dapat memperbaiki taraf hidup seluruh lapisan rakyat, terutama kaum tani yang merupakan 80% dari rakyat Indonesia.
Presiden Soeharto Anjurkan Penelitian Obat-Obatan Asli Indonesia
RABU, 11 Juli 1973, Pukul 09.00 pagi ini Presiden Soeharto meresmikan pabrik farmasi milik PT Ciba-Geigy Pharma Indonesia yang terletak di Jalan Raya Bogor Km 27, di pinggiran Jakarta. Pada kesempatan itu, Presiden menganjurkan para ahli farmasi mulai meneliti penggunaan obat-obatan asli Indonesia, sehingga produksi dan pemasarannya dapat ditingkatkan. Dikemukakan pula oleh Presiden bahwa selama Pelita I kita telah dapat memenuhi lebih kurang 90% kebutuhan obat dengan obat-obatan buatan dalam negeri. Ini berarti penghematan devisa, disamping perluasan lapangan kerja dan peningkatan kegiatan ekonomi.
Namun demikian Kepala Negara mengingatkan juga agar masuknya modal asing dalam bidang farmasi jangan sampai mematikan industri farmasi dalam negeri. Sebab, bukan itu yang diharapkan dari masuknya modal asing, melainkan untuk mendorong pengusaha-pengusaha nasional dalam mengembangkan kemampuannya, sehingga nanti mereka dapat menjadi kekuatan ekonomi nasional. Demikian antara lain dikemukakan oleh Presiden.
Pada kesempatan itu pimpinan PT Ciba Geigy telah menyerahkan sumbangan berupa obat-obatan hasil produksi perusahaannya kepada Ibu Tien Soeharto. Sumbangan obat-obatan itu bernilai Rp.1.000.000.
Serahkan Penghargaan KB Lestari, Presiden Soeharto Minta BKKBN Terus Masyarakatkan KB
RABU, 11 JULI 1984 Dalam suatu upacara yang berlangsung di Istana Negara, pagi ini Presiden Soeharto memberikan penghargaan bagi para peserta KB Lestari. Dalam upacara itu Presiden telah menyerahkan piagam dan menyematkan lencana KB Lestari secara simbolis.
Dalam amanatnya, Presiden mengatakan bahwa dengan diberikannya penghargaan oleh pemerintah kepada para peserta KB Lestari bukan berarti bahwa tugas para peserta KB Lestari sudah selesai. Dikatakannya bahwa para peserta KB Lestari perlu terus menerus menyebarluaskan dan menanamkan kesadaran keluarga berencana pada masyarakat sekelilingnya, terutama yang belum ikut melaksanakan program keluarga berencana.
Dalam pada itu, Kepala Negara meminta BKKBN untuk terus berusaha meningkatkan usaha untuk memasyarakatkan keluarga berencana sehingga terus tumbuh menjadi gerakan masyarakat. Di lain pihak, diingatkannya, bahwa cara-cara melaksanakan, memantapkan dan memperluas peserta keluarga berencana hendaklah dilaksanakan sebaik-baiknya, sehingga tidak menimbulkan salah pengertian atau tidak berkenan di hati masyarakat. Ditegaskan oleh Kepala Negara bahwa cara-cara melaksanakan keluarga berencana itu merupakan salah satu kunci bagi suksesnya program nasional yang penting ini.
Presiden Soeharto Resmikan Sejumlah Proyek di Sulawesi Tenggara
KAMIS, 11 JULI 1985 Presiden dan Ibn Soeharto melakukan kunjungan kerja dua hari di Kendari, Sulawesi Tenggara. Kunjungan ini adalah dalam rangka memperingati Hari Koperasi ke-38, Hari Keluarga Berencana ke-15, serta peresmian sejumlah proyek pembangunan. Begitu tiba di pelabuhan udara Wolter Monginsidi, Kendari, Presiden langsung terlibat dalam acara-acara yang padat sampai pukul 22.00 malam.
Diantara kesibukannya siang ini, Presiden dan Ibn Soeharto antara lain melakukan peninjauan di gedung baru BKKBN. Di sini Gubernur Sulawesi Tenggara, Alala, dan Kepala BKKBN memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan program KB di provinsi ini. Kemudian mereka meninjau dan meresmikan gedung PKK, taman kanak-kanak, dan sekolah dasar.
Diantara acara yang padat di malam hari adalah mendengarkan ekspose tentang hasil pembangunan di Sulawesi Tenggara yang berlangsung di Gubernuran. Acara ini dilengkapi dengan peninjauan pameran pembangunan Sulawesi Tenggara. Penutup acara malam ini adalah pertunjukan kesenian daerah.
Presiden Soeharto Memerintahkan Tindak Lanjut Kerjasama Internasional Dalam Program KB
RABU, 11 JULI 1990 Presiden Soeharto memerintahkan Kepala BKKBN Dr Haryono Suyono untuk mempersiapkan tindak lanjut dalam bidang KB dari hasil KTT G-15 Kuala Lumpur. Instruksi ini diberikan ketika pagi ini Kepala BKKBN itu melapor kepada Presiden mengenai keinginan beberapa negara, seperti Senegal, Papua Nugini dan Argentina, untuk mengirim tenaga ahli keluarga berencana mereka ke Indonesia. Sehubungan dengan itu Kepala Negara menginstruksikan BKKBN untuk mendekati lembaga-Iembaga internasional seperti UNDP dan USAID supaya membantu negara-negara berkembang dalam kerjasama ini.