Hari Sepeda Internasional, Begini Sejarahnya di Masa Presiden Soeharto

Editor: Koko Triarko

JAKARTA, Cendana News – Tanggal 3 Juni diperingati sebagai Hari Sepeda Internasional atau World Bicycle Day.

Hari Sepeda ditetapkan sebagai pengakuan atas keunikan, umur panjang, serta keserbagunaan sepeda.

Sepeda selama ini juga telah menjadi sarana transportasi berkelanjutan yang sederhana.

Terjangkau, andal, bersih, dan mampu mendorong pemeliharaan kesehatan Iingkungan.

Hari Sepeda untuk menghormati berbagai jenis pengendara sepeda yang ada di seluruh dunia.

Dan, untuk mendorong pemangku kekuasaan memajukan penggunaan sepeda dalam banyak hal.

Baik itu untuk mendorong pembangunan berkelanjutan atau memperkuat pendidikan jasmani anak-anak dan remaja.

Di Indonesia, salah satu sosok pemimpin yang berperan besar mendorong pemanfaatan sepeda adalah Presiden Soeharto.

Di masa Presiden ke-2 RI ini produksi dan penggunaan sepeda begitu masif dan memasyarakat di tanah air.

Tak hanya sekadar menjadi sarana transportasi penting, sejak era 1970-1980an sepeda juga menjadi gaya hidup.

Sejarah mencatat, sekitar tahun 1971 Presiden Soeharto memanggil seorang pengusaha bernama William Soeryadjaya, pendiri Grup Astra ke kediamannya.

Soeharto meminta William untuk menjual sepeda secara kredit supaya rakyat tidak jalan kaki ke sawah dan ladang.

Saat itu di Indonesia memang belum terdapat pabrik sepeda.

Wiliam pun lalu mengimpor sepeda dari pabrik sepeda asal India dan menjualnya ke masyarakat.

Sayang, sepeda tersebut kurang laku di pasar dan membuatnya merugi.

Pada 12 Juli 1973 bertepatan dengan Hari Koperasi ke-27, Presiden Soeharto meresmikan pabrik sepeda bernama Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN) di Batu Ceper, Tangerang, Jawa Barat.

Pabrik ini memproduksi sepeda dengan merek Turangga. Saat itu, Soeharto mengungkapkan kegembirannya.

Bahwa, IKPN bisa membangun sebuah pabrik sepeda pertama di Indonesia.

Baca juga: Ini Sejarah Hari Lanjut Usia Nasional yang Dicanangkan Soeharto

Dalam pidato peresmiannya, Soeharto mengatakan pembangunan pabrik sepeda untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sepeda dinilai mampu memenuhi kebutuhan transportasi rakyat kecil, termasuk Pegawai Negeri golongan rendah di daerah-daerah. Dan, penghubung di wilayah pedesaan.

Presiden Soeharto memang memiliki cita-cita khusus saat memberikan merek sepeda itu Turangga, yang berarti kuda.

Ia ingin Turangga menjadi alat transportasi yang bisa dinikmati masyarakat secara luas.

Namun, sayangnya pabrik sepeda Turangga hanya bertahan enam tahun sejak diresmikan.

Pabrik ini akhirnya dijual karena terus-menerus merugi.

Pada 9 Agustus 1975, Presiden Soeharto pernah meresmikan pabrik sepeda PT Daya Sakti di Selirit, Panjang, Lampung.

Pada kesempatan itu, pemilik pabrik sepeda tersebut menyumbangkan 30 sepeda kepada Presiden Soeharto.

Sepeda-sepeda tersebut kemudian diserahkan kepada Gubernur Lampung.

Soeharto berpesan, agar sepeda itu diberikan kepada para transmigran sebagai alat penunjang transportasi mereka.

Meski sempat terkendala di era 1970an, perkembangan pabrik sepeda di Indonesia mulai berkembang pesat di era 1980-1990an.

Sejumlah pabrik sepeda nasional bermunculan di tahun-tahun ini.

Salah satunya pabrik sepeda Federal yang didirikan oleh Grup Astra, milik William Soeryadjaya.

Sepeda Federal merupakan salah-satu sepeda paling fenomenal di Indonesia.

Federal yang terkenal dengan jenis sepeda MTB-nya mampu membuat hobi sepeda booming dan populer di masyarakat kala itu.

Tak hanya menguasai pasar dalam negeri, sepeda Federal juga sampai ekspor ke luar negeri, yakni negara-negara Eropa dan menguasai pasar sepeda di benua Biru.

Sepeda buatan Indonesia ini lebih dipilih masyarakat Eropa dibandingkan sepeda buatan Taiwan, Jepang, Inggris, karena lebih murah.

Sayangnya karena dianggap sebagai ancaman, dominasi sepeda asli Indonesia di Eropa ini pun terhenti akibat politik dumping.

Tahun 1994, Eropa memberlakukan pajak tinggi bagi produk sepeda buatan Indonesia sehingga membuatnya tidak laku.

Meski kiprah sepeda Federal harus terhenti atau tutup tahun 1996, tak sedikit produsen sepeda asli Indonesia lainnya yang tetap eksis.

Sejumlah produsen sepeda asal Indonesia bahkan juga mampu bersaing dengan produsen sepeda asal negara lain.

Hal itu terbukti dengan torehan prestasi di sejumlah ajang sepeda internasional.

Majunya dunia sepeda, baik dari sisi produksi maupun gairah masyarakatnya untuk bersepeda di tanah air memang tak bisa lepas dari sosok Presiden Soeharto.

Tanpa adanya komitmen besar dari Soeharto kala itu, mungkin nasib industri sepeda di Indonesia tak bisa berjalan seperti saat ini.

*Berbagai Sumber

Lihat juga...