Pohon Tepi Pantai Efektif Redam Tsunami Gunung Anak Krakatau
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG, Cendana News – Pesisir pantai Lampung Selatan menjadi kawasan rawan bencana (KRB) tsunami Gunung Anak Krakatau.
Pada 22 Desember 2018 lalu, bahkan tsunami akibat erupusi Gunung Anak Krakatau menerjang kawasan pesisir desa Totoharjo di kecamatan Bakauheni.
Sejak itu, masyarakat desa setempat makin masif menanam beragam jenis pohon untuk meredam labrakan gelombang laut.
Rahmat, warga desa Totoharjo, mengatakan pohon waru laut, ketapang dan tanaman lainnya efektif meredam gelombang tsunami.
“Potensi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan debu vulkanik bisa terserap oleh tanaman,” kata Rahmat kepada Cendana News, Rabu (27/4/2022).
Menurutnya pula, sejumlah tanaman efektif membantu menghalangi gelombang laut musiman kala Angin Timur dan Angin Selatan.
Selain itu, keberadaan pohon di tepi pantai juga menjadi sumber pakan bagi burung dan lebah madu.
“Sejumlah pohon jenis ketapang dan akasia penghasil bunga menjadi sumber pakan bagi lebah madu,” katanya.
Dia mengatakan, pembudidaya lebah di Kaki Gunung Rajabasa bahkan menggunakan area tepi pantai sebagai lokasi penggembalaan lebah.
Rahmat menjelaskan, beberapa jenis tanaman tepi pantai menyesuaikan habitat kawasan yang dominan berpasir. Sedangkan proses penyulaman berbagai jenis tanaman secara bertahap.
“Habitat tanah berpasir cocok untuk tumbuh pohon ketapang, pandan, dan waru laut untuk meredam gelombang,” ujar Rahmat.
Beragam pohon peredam gelombang itu ditanam berjajar, dengan pengaturan jarak tanam menyerupai pagar. Dan, dikombinasi dengan saung dari kayu.
“Sejumlah pohon seperti waru laut dan ketapang itu sekaligus berguna sebagai peneduh,” kata Rahmat.
Rahmat memastikan, saat musim angin dan gelombang bangunan di sekitar pantai terlindungi oleh pohon-pohon.
Selain di Pantai Belebuk, penanaman pohon tepi pantai juga dilakukan di kawasan Pantai Pulau Mengkudu.
Di Pantai Pulau Mengkudu itu menurut Rahmat sejumlah pohon seperti ketapang menjadi habitat burung dan monyet.
Di pulau itu pula penanaman pohon menjadi bagian dari pengembangan parwisata berwawasan lingkungan. Dengan pengelolaan sampah berkelanjutan.
“Tersedia tempat khusus sampah plastik, dan warga rutin membersihkan sampah imbas gelombang pasang,” katanya.
Masyarakat desa Sumur dan Legundi juga melakukan penanaman pohon tepi pantai sebagai peredam gelombang.
Rusli, warga desa Sumur menyebut jenis tanaman pantai berupa pedada, api-api, ketapang, cemara, dan kemiri laut.
“Penanaman secara masif untuk menghindari kerusakan akibat abrasi,” kata Rusli.
Selama hampir lima tahun lebih, tanaman tepi pantai berfungsi sebagai peneduh, dan penahan angin.
“Sebagian tanaman mulai menghasilkan buah, sehingga bisa memiliki bibit untuk peremajaan kembali,” ulasnya.
Penanaman pohon tepi pantai pencegah abrasi juga dilakukan warga desa Legundi di kecamatan Ketapang.