Petani Padi di Sleman Lebih Senang Terapkan Pola Tanam Model Tenun

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Pola tanam konvensional dengan sistem tenun, masih manjadi pilihan sebagian besar petani di kabupaten Sleman, Yogyakarta. Mereka mengaku lebih memilih sistem tersebut, karena sejumlah keunggulannya dibandingkan sistem baru, seperti jajar legowo atau SRI. 

Salah seorang petani di dusun Kencuran, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Andri, mengaku menamam padi jenis Inpari 44 di lahan miliknya seluas 1.800 meter persegi. Sistem atau pola tanam konvensional model tenun dipilih, karena menurutnya bisa menghasilkan jumlah anakan tanaman padi lebih banyak, serta perawatan yang lebih mudah.

“Dengan model tenun ini, bibit padi ditanam lebih rapat dengan jarak sekitar 25×25 cm. Sehingga jumlah bibit yang tumbuh lebih banyak, sehingga diharapkan hasil panennya juga maksimal,” katanya, Senin (20/12/2021).

Meski sistem tenun ini dinilai memiliki kekurangan, yakni membutuhkan benih dalam jumlah lebih banyak, namun Andri menyebut sistem ini dapat meminimalisir munculnya gulma. Berbeda dengan sistem lain seperti jajar legowo, yang jarak tanamnya lebih longgar sehingga memungkinkan gulma muncul lebih banyak.

Petani di dusun Kencuran, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, Andri, Senin (20/12/2021). –Foto: Jatmika H Kusmargana

“Karena tidak banyak muncul gulma, maka kita sebagai petani lebih mudah dalam melakukan perawatan. Tidak perlu melakukan penyiangan hingga berkali-kali, sebagaimana jika menggunakan sistem lainnya seperti jajar legowo,” ungkapnya.

Untuk pemupukan pada sistem tenun ini, Andri mengatakan tidak jauh berbeda dengan sistem atau pola tanam lainnya. Pemupukan biasanya dilakukan dua kali, yakni saat padi memasuki usia 10 hari setelah tanam, serta saat padi memasuki usia 40 hari.

“Dari lahan sekitar 1800 meter persegi, saya biasa menghasilkan sekitar 17 karung gabah basah. Atau sekitar 700 kilogram gabah, karena satu karungnya berkisar antara 40-50 kilogram gabah basah,” ungkap petani yang tergabung dalam kelompok tani Guyup Rukun itu.

Menurut Andri, di kawasan pertanian di desanya tidak terlalu banyak kendala yang dihadapi. Selain saluran irigasi dapat mengari lahan pertanian dengan baik, serangan hama di awal musim tanam seperti keong tidak banyak ditemui.

“Kendalanya paling hanya kelangkaan pupuk di saat awal musim tanam seperti sekarang ini. Karena banyak petani yang membutuhkan. Sehingga kadang harus antre. Tapi, hal seperti ini sudah lumrah terjadi setiap tahun,” ungkapnya.

Lihat juga...