Omzet Pinjaman Koperasi Gemah Ripah Trirenggo Capai Rp2,5 M
Editor: Koko Triarko
YOGYAKARTA – Hingga penghujung 2020, unit usaha Modal Kita Koperasi Gemah Ripah Desa Trirenggo, Bantul, mampu mencatatkan omzet pinjaman hingga mencapai Rp2,589 miliar lebih. Jumlah tersebut tercatat meningkat dibandingkan tahun 2019 lalu yang hanya berkisar Rp2,103 miliar.
Dana pinjaman tersebut disalurkan bagi 1.085 nasabah/anggota yang tersebar di 15 kelompok dan 177 subkelompok. Baik itu pedagang kecil, industri kerajinan kecil, ataupun pelaku usaha di sektor pertanian, peternakan dan perikanan.
Mayoritas pemanfaat pinjaman ini adalah masyarakat kurang mampu, yakni dari kelompok prasejahtera dan sejahtera 1, yakni 878 anggota atau mencapai 80 persen lebih.
Data tersebut terungkap dalam kegiatan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Gemah Ripah Trirenggo Bantul tahun buku 2020, yang digelar akhir pekan lalu. Meski mengalami kenaikan jumlah pemanfaat pinjaman, namun Unit Usaha Modal Kita Koperasi Gemah Ripah mengalami penurunan jumlah pemasukan maupun jumlah Sisa Hasil Usaha (SHU).
“Tahun 2020 kita mendapatkan SHU sebesar Rp540ribu. Jumlah SHU ini menurun drastis dari 2019 yang mencapai Rp74juta. Penyebabnya tak lain karena penurunan pemasukan akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan,” ungkap Manajer Umum Koperasi Gemah Ripah Trirenggo Bantul, Ambyah.
Selain mengalami penurunan jumlah SHU, dalam RAT tahun buku 2020 tersebut, Ambyah juga mengungkapkan tingginya angka kredit macet nasabah anggota koperasi. Ditunjukkan dengan melambungnya jumlah Non Performing Loan (NPL) koperasi sebesar Rp54 juta pada 2019 menjadi Rp485 juta pada akhir 2020. Atau meningkat dari 3 persen pada 2019 menjadi 20 persen pada 2020.
“Adanya pandemi Covid-19 menjadi penyebab utama tingginya angka kredit macet koperasi sepanjang 2020. Di mana hampir semua nasabah anggota koperasi kesulitan membayar cicilan bulanan, karena tak bisa bekerja ataupun mengalami penurunan omzet usaha secara drastis selama pandemi,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Ambyah juga mengungkapkan sejumlah faktor lain yang juga dinilai turut mempengaruhi tingginya angka kredit macet. Seperti kurangnya ketelitian pengurus subkelompok dalam melakukan seleksi anggota.
Adanya anggota yang sedang terkena musibah seperti sakit, gagal panen dan lain-lain. Hingga adanya anggota yang tidak jujur saat dilakukan proses wawancara.
“Selain itu ada pula pengurus subkelompok yang kurang berkoordinasi dengan supervisor lapangan terkait anggota yang menunggak. Juga adanya pengurus subkelompok yang bermasalah, karena menggunakan uang setoran dari anggota,” katanya.
Mengatasi hal tersebut, pihak Koperasi Gemah Ripah mengaku telah merumuskan sejumlah strategi. Di antaranya memotivasi pengurus subkelompok agar tak henti memberikan arahan pada anggota. Hingga memperketat proses pencarian pinjaman di setiap subkelompok.
Sebagaimana diketahui, Yayasan Damandiri menetapkan desa Trirenggo, Bantul, sebagai desa binaan sejak 2017 lalu. Melalui program Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML), yayasan yang didirikan oleh HM Soeharto ini, tak henti melakukan berbagai upaya pemberdayaan masyarakat. Baik itu di bidang pendidikan, kesehatan lingkungan, maupun ekonomi.
Selain mendirikan unit usaha Warung Kita, Yayasan Damandiri juga menggelontorkan dana miliaran rupiah melalui unit usaha Modal Kita untuk menggerakkan perekonomian warga desa.
Dengan akses pinjaman modal usaha inilah, warga kurang mampu miskin di DCML Trirenggo mampu memulai dan mengembangkan usaha, sehingga pendapatan dan kesejahteraannya makin meningkat.