Kreatif, Pria Ini Sulap Limbah Kayu Jadi Mobil-mobilan Bernilai Rupiah
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
BANDUNG — Mungkin untuk sebagian orang, limbah kayu tidak ada artinya. Namun bagi Jajang Junaedi (34), pria asal desa Manggunharja, kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, limbah tersebut justru dapat mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Berkat tangan dinginnya, Jajang berhasil memanfaatkan limbah kayu menjadi mainan mobil-mobilan yang unik dan keren, serta cukup diminati oleh masyarakat, khususnya anak-anak.
“Alhamdulillah dari usaha mobil-mobilan kayu ini saya masih bisa dapat penghasilan. Lumayan, walaupun tidak selalu ada yang beli dalam sehari, tapi namanya mainan begini kan tidak ada basinya, jadi kalau kita produksi terus juga tidak ada ruginya,” ujar Jajang kepada Cendana News, saat ditemui di lapak jualannya di Jalan Laswi, Ciparay, Selasa (26/10/2021).
Menurut Jajang, modal yang ia keluarkan untuk memproduksi mobil-mobilan tersebut sangat terjangkau, pasalnya, hampir seluruh bahannya utamanya merupakan limbah, yaitu kayu dan terpal.
“Kayu saya ambil di tempat pemotongan, biasanya banyak sisa-sisa potongan yang tidak bisa dijual di material. Paling yang beli baru itu cuma lampu-lampu LED saja, itupun tidak terlalu banyak, satu meter lampu bisa dipakai untuk 20 mobil,” kata Jajang.
Adapun harga mobil-mobilan yang ia jual mulai dari Rp50.000 sampai dengan Rp150.000 tergantung ukuran dan asesorisnya. Yang termahal tentu saja mobil-mobilan ukuran besar yang disertai dengan lampu LED.
“Mainan ini bisa dipakai untuk anak-anak di rumah, atau bisa juga dijadikan pajangan. Jadi sebetulnya pasar kita bukan hanya anak-anak tapi juga orang dewasa, dan orang tua,” jelas Jajang.
Di tempat yang sama, Farhan, rekan Jajang yang ikut memproduksi mobil-mobilan menambahkan, dalam seminggu, biasanya mereka bisa memproduksi 10 produk, bahkan lebih.
“Kita produksi itu tergantung penjualan saja sih, kalau stoknya sudah menipis, kita produksi lagi. Tapi dalam seminggu pasti ada yang kita bikin,” ucap Farhan.
Sejauh ini, lanjut Farhan, selain membuka lapak di jalan Laswi, ia juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan dagangannya, meski begitu, menurut Farhan hasil penjualan masih lebih banyak dari berdagang di jalan.
“Kita pasarkan di facebook dan instagram tapi memang kurang sih pembelinya dibandingkan yang di sini. Tapi namanya usaha kita teruskan saja, sambil kita juga terus berusaha membuat inovasi di produk ini biar lebih menarik. Tadinya kita sudah berpikir mau kasih instrumen sound biar makin bagus,” pungkas Farhan.