Kelompok Tani Rejo Banyuwangi Peroleh Sertifikat Produsen Kopi Organik
Sementara lembaga ACT Thailand menyebut, Kopi Lego telah memenuhi standar pasar Uni Eropa (UE) karena telah sesuai dengan ketentuan standar organik Amerika Serikat dan Kanada. “Artinya, produk Kopi Lego sudah layak ekspor ke pasar Uni Eropa. Ini membuktikan bahwa kopi rakyat Banyuwangi tidak kalah dengan produk kopi milik perkebunan,” tandasnya.
Arief menyebut, lahan kopi yang dikembangkan petani Kopi Rejo seluas 32,5 hektare. Dan produk yang disertifikasi adalah kopi robusta dan ekselsa, dalam bentuk biji kopi (green bean), biji yang sudah di-roasting, serta bubuk kopi. Budi daya kopi dengan sistem organik, sangat menguntungkan petani, karena saat masih non-organik produksinya hanya 700 sampai 800 kuintal per hektare. Tetapi sekarang menjadi 1,3 ton per hektare. “Harga kopi organik di pasaran lebih tinggi, kopi organik Rp40.000 per kilogram, sedangkan kopi biasa sekitar Rp30.000 per kilogram. Tentu ini meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.
Ketua Poktan Kopi Rejo Banyuwangi, Taufik menjelaskan, penerapan sistem budi daya kopi organik ini telah dirintis sejak lima tahun lalu. “Sejak 2016, anggota poktan kami berkomitmen tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Kami memilih menggunakan pupuk kompos dari kotoran kambing. Di Desa Gombengsari banyak peternak kambing sehingga mudah mendapatkan bahan bakunya,” jelasnya.
Taufik mengklaim, para petani selalu konsisten menerapkan pertanian organik, mulai dari budi daya, panen, hingga pasca-panen. “Kami sama sekali tidak menggunakan bahan kimia dan Alhamdulillah produk kami terbukti bebas kimia,” katanya. (Ant)