Teknik Bajak Kering Alternatif Pemanfaatan Bibit Tebu Ulang
Editor: Makmun Hidayat
SITUBONDO — Tanah seluas 800 meter persegi di wilayah Desa Paowan, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, difokuskan untuk penanaman produksi tebu. Proses pembibitan dilakukan dengan sistem bajak kering, untuk memanfaatkan bibit tebu yang masih produktif.
Abdul Rozak, pemilik lahan tebu, warga Paowan, mengatakan sistem bajak kering menggunakan alat kontraktor mesin bertujuan untuk memutus tebu yang sudah pernah di panen sebelumnya.
“Kalau tanahnya kering, itu lebih mudah memutus akar tebu yang sudah dipanen. Sedangkan kalau tanahnya keadaan basah, akarnya sulit untuk terpotong,” ujar Abdul Rozak kepada Cendana News, di wilayah Desa Paowan, Senin (9/8/2021).
Penanaman ulang tebu lebih mudah dan hemat dengan memanfaatkan bibit tebu yang sebelumnya. Rozak mengaku, hal tersebut lebih menghemat, sedangkan hasil yang di produksi masih cukup bagus.
“Batang tebu yang sudah dipanen, dibiarkan begitu saja. Saya biasanya fokus membersihkan daun-daun kering yang tidak digunakan lagi. Kemudian, beberapa hari, fokus pemberian air agar tanahnya kembali basah, untuk menghidupkan bibit tebu menjadi tumbuh lagi,” ungkapnya.
Pemanfaatan ulang bibit tebu yang digunakan, kata Rozak, masih bisa dimanfaatkan selama akar tebu masih cukup dalam tertanaman di dalam tanah. Sebab, akar yang masih bagus berpengaruh terhadap hasil tebu yang di hasilkan.
“Akar tebu yang pertama itu kan masih cukup dalam berada di bawah tanah, itu baik untuk hasil tebu yang dihasilkan. Pemanfaatan bibit berikutnya, akar akan semakin dangkal, karena pertumbuhan akar mengalami tumpah tindih atau semakin naik ke permukaan tanah, ditambah proses pemutisan akar sebelumnya, mengakibatkan pendangkalan akar yang tertanam,” jelasnya.
Rozak menambahkan, akar yang sudah mengalami pendangkalan, sebaiknya diganti dengan bibit yang baru. Karena mengakibatkan pertumbuhan tebu kurang maksimal.
“Maksimal bibit yang bisa dimanfaatkan tiga kali masa tanam. Lebih dari itu hasilnya kurang maksimal. Pertumbuhan batang tebu semakin mengecil,” ucapnya.
Fatah, warga Desa Bataan, Kecamatan Panarukan, mengatakan proses pengerjaan bajak kering menurutnya lebih sulit dari pada proses bajak tanah yang cenderung basah.
“Waktu proses pengerjaan tanah kering jauh lebih lama, apalagi yang dibajak tanahnya sudah terdapat tanamannya. Tentunya harus hati-hati agar tidak merusak tanaman yang tumbuh,” ucapnya.