PPKM, Pengelola Bukit Soeharto Fokus Vaksin Seluruh Petugas Pengelola

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PONOROGO — Pemerintah secara resmi memutuskan memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 2, 3, dan 4 di sejumlah daerah. Yang semula berlangsung hingga 16 Agustus lalu, kembali dilanjutkan hingga 23 Agustus 2021 mendatang.

Manajer Umum Koperasi Jaya Mandiri Sejahtera, Wahyu Bintoro, dijumpai Cendana News, Rabu (14/4/2021) – Foto: Jatmika H Kusmargana

Adanya kebijakan perpanjangan PPKM ini secara otomatis membuat seluruh pengelola objek wisata di berbagai daerah, harus kembali bersabar. Pasalnya selama PPKM ini berjalan, otomatis seluruh objek wisata dilarang untuk beroperasi dan menerima pengunjung, demi mencegah penularan dan penyebaran Covid-19.

Hal itulah yang juga dirasakan pengelola objek wisata Bukit Soeharto, di Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) Badegan, Ponorogo, Jawa Timur. Objek wisata alam sekaligus sejarah yang dikelola Koperasi Jaya Mandiri Sejahtera ini sendiri sudah berhenti beroperasi sejak 2 bulan terakhir, akibat pandemi Covid-19.

Meski begitu, di tengah ketidakpastian pembukaan objek wisata akibat PPKM saat ini, Koperasi Jaya Mandiri Sejahtera yang merupakan pengelola objek wisata Bukit Soeharto, mengaku sudah mempersiapkan segala hal untuk menyambut dibukanya kembali Bukit Soeharto yang dibangun Yayasan Damandiri ini.

“Karena belum bisa beroperasi, maka saat ini kita fokus untuk menyiapkan segala sesuatu guna menyambut pengunjung, jika nanti PPKM sudah berakhir dan Bukit Soeharto bisa dibuka kembali. Salah satunya adalah terkait penerapan protokol kesehatan,” ujar Manajer Umum Koperasi Jaya Mandiri Sejahtera, Wahyu Bintoro, Rabu (18/08/2021).

Wahyu mengatakan selain menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung seperti wastafel atau tempat mencuci tangan dengan sabun, penyediaan handsanitizer di sejumlah titik, hingga penempatan petugas pengecekan suhu badan, pihaknya juga telah mewajibkan seluruh pengelola Bukit Soeharto untuk mengikuti program vaksinasi.

“Ada sekitar 30 orang yang ikut mengelola Bukit Soeharto ini. Mereka semua merupakan para pemuda desa Bagedan sekaligus anggota Koperasi. Saat ini mayoritas petugas/pengelola telah divaksin seluruhnya. Meskipun semuanya harus mengikuti program vaksinasi secara sendiri-sendiri,” katanya.

Kegiatan vaksinasi bagi seluruh petugas pengelola objek wisata Bukit Soeharto ini dinilai sangat penting dilakukan, guna meminimalisir penularan Covid-19 di lokasi wisata. Terlebih dengan muncul dan berkembangnya wacana penggunaan syarat kartu tanda keikutsertaan vaksinasi bagi setiap pengunjung atau wisatawan yang hendak mengunjungi objek wisata di sejumlah daerah.

“Dengan semua petugas pengelola telah divaksin, maka sewaktu-waktu jika dibuka kembali, kita semua sudah siap. Sehingga objek wisata Bukit Soeharto bisa langsung beroperasi dan menerima pengunjung atau wisatawan. Karena selama dua bulan terakhir ini kita harus tutup, sehingga tak bisa mendapatkan pemasukan sama sekali,” ungkapnya.

Terletak di kawasan perbukitan yang dikelilingi lembah dan sungai, tepatnya di Jalan Raya Ponorogo-Wonogiri, Bukit Soeharto awalnya hanyalah sebuah bukit biasa yang masuk kawasan Perhutani. Pada 1978 silam, Presiden Soeharto pernah singgah ke bukit ini untuk melakukan kegiatan penghijauan atau reboisasi yang ditandai dengan pendirian monumen Soeharto. Sejak saat itu bukit ini dinamai dengan Bukit Soeharto.

Sempat terbengkalai dan kurang terawat, pada 2019 lalu, Yayasan Damandiri, yang merupakan yayasan bentukan Pak Harto, melakukan penataan kawasan bukit Soeharto ini melalui program Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML). Yang awalnya hanya sekitar 0,7 hektare diperluas menjadi enam hektar untuk pengembangan.

Diresmikan oleh Ketua Yayasan Damandiri, Letjen TNI Purn Soebagyo pada Juni lalu, sampai saat ini renovasi dan pembenahan objek wisata Bukit Soeharto masih terus dilakukan. Selain menjadi alternatif objek wisata keluarga yang menarik, kawasan ini juga telah disulap menjadi pusat kuliner bagi para pelaku UKM di desa Badegan dan sekitarnya.

Di samping mampu menjadi pengingat generasi saat ini akan sosok presiden RI ke 2 HM Soeharto, keberadaan objek wisata ini juga diharapkan mampu mengangkat dan mengembangkan potensi wisata serta ekonomi di desa Badegan dan sekitarnya. Sehingga akan mampu mengatasi persoalan kemiskinan yang ada.

Lihat juga...