PPKM, Pelaku Usaha di Bandar Lampung Optimalkan Transformasi Digital

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah sektor usaha di Bandar Lampung mengalami kesulitan penjualan saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level 4. Transformasi berbasis digital menjadi cara agar pelaku usaha bisa melayani pelanggan tanpa datang ke lokasi penjualan. Transformasi tersebut dilakukan oleh sejumlah gerai penjualan, reparasi telepon seluler di pusat perbelanjaan Mall Kartini.

Robert, salah satu pemilik gerai telepon seluler menyebut menggunakan layanan antar jemput. Slogannya “Kamu di rumah aja, kami antar dalam sekejap sampai rumah gratis loh!”.

Layanan tersebut digunakan untuk penjualan telepon seluler, asesoris hingga reparasi. Penutupan gerai di pusat perbelanjaan Jalan RA. Kartini sebutnya tidak lantas menyebabkan usahanya tutup.

Memiliki gerai di lokasi lain jadi peluang untuk tetap melayani konsumen. Transformasi layanan berbasis digital dilakukan Robert untuk konsultasi, pembelian hingga purna jual.

Penyediaan layanan call center dipasang pada area outlet yang tutup. Sistem layanan digital sebutnya jadi cara agar konsumen tetap bisa terlayani. Ia bekerjasama dengan jasa kurir terverifikasi sehingga layanan antar jemput bisa berjalan normal.

“Pelanggan yang ingin membeli telepon seluler baru bisa melihat spersifikasi produk via media sosial, laman resmi perusahaan dan bisa melalukan transaksi melalui platform jual beli terpercaya, transformasi sistem jual beli offline ke online tidak bisa terhindarkan kuncinya menjaga kepercayaan konsumen,” terang Robert saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (17/8/2021).

Selain transformasi layanan digital, sistem pembayaran memakai dompet digital (e-wallet) diganjar diskon. Ia menyebut saat peringatan Kemerdekaan RI ke-76 ia memberi diskon 8 % hingga 17 % pada layanan pembelian dan purna jual.

Memakai e-wallet tertentu yang telah bekerjasama, diskon diberikan agar pelanggan tetap setia berbelanja. Pembelian telepon seluler sebutnya meningkat saat siswa melakukan pembelajaran online.

Strategi tetap menggaet pelanggan dilakukan sejumlah sales marketing telepon seluler. Tatiana, salah satu penyedia jasa penjualan telepon seluler menyebut sejak outlet tidak buka ia harus turun ke jalan.

Sejumlah outlet yang tetap buka sebutnya ada di lantai dua pusat perbelanjaan Mall Kartini. Sebagian memilih tutup dengan pelayanan berbasis digital.

“Saya tawarkan kepada warga yang datang ke mal untuk membeli telepon seluler, asesoris dan layanan perbaikan kerusakan,” ulasnya.

Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat level 4 sebut Tatiana berimbas sektor non esensial tutup. Hanya sejumlah usaha kuliner dengan pelayanan take away masih bisa beroperasi di pusat perbelanjaan Central Plaza, Mall Kartini.

Berbagai cara sebutnya dilakukan agar sejumlah gerai bisa menjangkau konsumen. Sejumlah pelaku usaha penjualan voucer elektrik mulai beralih ke toko digital.

Platform jual beli online sebutnya jadi pilihan bagi sejumlah toko atau konter telepon seluler. Tatiana menyebut cara tersebut menjadi penutup biaya operasional yang harus dikeluarkan.

Sebab biaya sewa sebagian toko harus tetap dibayarkan sebelum ada keputusan penutupan serta perjanjian sewa berakhir. Sebagian pelanggan tetap bisa melakukan transaksi pembelian pulsa, kuota internet di platform jual beli.

“Selain platform jual beli online, kami juga memakai media sosial menawarkan produk dengan sistem live chat, live video penjualan,” ulasnya.

Ihsan, salah satu pelanggan yang datang ke mal Kartini menyebut sebagian besar toko tutup. Ia masih bisa membeli minuman dengan sistem take away  tanpa minum di tempat.

Ihsan (kiri) salah satu pelanggan minuman cepat saji di pusat perbelanjaan Jalan RA. Kartini membeli secara take away, Selasa (17/8/2021) – Foto: Henk Widi

Sejumlah gerai penjualan telepon seluler sebutnya memilih tutup karena pembatasan. Penjualan sejumlah barang esensial sebutnya masih tetap dilayani meski dengan pembatasan jumlah pengunjung, penyekatan akses jalan protokol.

“Sebagian tempat penjualan kuliner tetap buka hanya saja pelayanan dilakukan secara take away,” ulasnya.

Beralih ke digital pada penjualan barang dilakukan Nursanti, pedagang parfum di Jalan Raden Intan. Memiliki toko offline atau gerai yang disediakan pada salah satu pusat perbelanjaan didukung toko online.

Ia memilih media sosial Instagram, platform jual beli online untuk menawarkan produk. Sejumlah parfum berbagai aroma ditampilkan untuk pembelian secara online. Sistem pemesanan, pengemasan hingga pengiriman dilakukan sesuai pesanan.

“Pelanggan tetap masih bisa terkoneksi melalui toko online sehingga tetap bisa dilayani melalui pengiriman jasa kurir,” ulasnya.

Sistem penjualan digital sebut Susanti sebutnya tetap dikombinasikan dengan toko offline. Berjualan di toko pada salah satu pusat perbelanjaan modern dibatasi hingga pukul 17.00 WIB.

Namun selama PPKM level 4 ia masih tetap mengoperasikan toko offline di rumahnya. Toko offline sebutnya juga menjadi toko online untuk memperluas jangkauan penjualan.

Lihat juga...