Harga Jual Kopra di Sikka Naik,Petani Kembali Bergairah
Editor: Makmun Hidayat
MAUMERE — Harga jual kopra di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sebelumnya dibeli dengan harga Rp5 ribu hingga Rp7 ribu per kilogramnya di tingkat petani selama masa pandemi Covid-19, kini mulai berangsur meningkat.
“Kami senang sekarang harga kopra kami jual di papalele atau pedagang pengumpul sudah naik menjadi Rp9 ribu per kilogramnya,” sebut Urbanus Usi, warga Wairbou, Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, saat dihubungi, Selasa (10/8/2021).
Usi sapaannya mengakui, petani di desanya mulai bergairah lagi membuat kopra karena harganya sudah mengalami kenaikan dari sebelumnya yang anjlok hampir setengah dari harga normal.
Dia menyebutkan, bila dijual ke toko di Maumere harganya mencapai Rp11 ribu per kilogramnya namun perlu ongkos transport lagi dan hitung-hitung hampir sama dengan menjualnya kepada pedagang di desa.

“Sejak harga kopra mulai naik, kami tidak lagi menjual kelapa per buah karena lebih untung menjadikannya kopra baru dijual.Kalau sebelumnya kami jual kelapa per buah Rp1.000,” ungkapnya.
Usi mengatakan, sebelum harga kopra meningkat,kelapa tua dijual seharga Rp40 ribu per subur di mana satu subur berisi 40 buah.
Ia mengaku memilih menjual kopra sebab satu subur kelapa isi 40 buah bisa menghasilkan 12 kilogram kopra yang bila dijual bisa mendapatkan uang Rp100 ribu lebih bila dijual dengan harga Rp9 ribu per kilogramnya.
“Sejak harga kopra meningkat,harga jual kelapa bulat pun ikut meningkat. Saat ini harga jual kelapa tua per subur mencapai Rp100 ribu,” terangnya.
Hal senada juga disampaikan Don Lewuk, pedagang kopra di Desa Nebe yang mengatakan, harga jual kopra di tingkat petani di desanya mencapai Rp8 ribu hingga Rp9 ribu per kilogramnya.
Don mengatakan, harga jual ini tergantung dengan harga di toko-toko pembeli hasil komoditi perkebunan di Kota Maumere yang biasa menjual hasil komoditi tersebut ke Pulau jawa.
“Kami membeli sedikit lebih murah seribu sampai dua ribu rupiah dari harga jual di toko-toko yang membeli hasil komoditi di Kota Maumere. Setelah terkumpul baru kami jual ke pembeli yang biasanya datang mengambil di tempat kami,” ungkapnya.
Don menambahkan, memang sejak harga kopra meningkat para petani lebih memilih membuat kopra daripada menjual kelapa secara gelondongan karena merasa lebih untung.