Penanggulangan Dengue Tercapai dengan Peran Aktif Masyarakat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Target pemerintah untuk mencapai daerah dengan tingkat paparan Dengue di bawah 49 kasus untuk 100 ribu penduduk pada angka 90 persen, hanya dapat dicapai jika setiap individu mampu berperan aktif  melakukan penanggulangan Dengue.

Direktur P2PTVZ Kemenkes, Dr. drh. Didik Budijanto, M. Kes, menyatakan, penyusunan strategi nasional dalam upaya menanggulangi Dengue, diharapkan dapat meningkatkan koordinasi, sinergitas dan jejaring di lintas sektor, serta dunia usaha.

“Sehingga bisa bersama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya Dengue dan akan semakin memahami bahwa setiap individu harus berperan aktif agar bisa menanggulangi Dengue di Indonesia,” kata Didik dalam acara Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021 – 2025, Jumat (30/7/2021).

Penurunan tingkat kasus dan angka kematian DBD di Indonesia sejak tahun 1968, yang disampaikan Plt. Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Kemenkes, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS, pada acara launching Strategi Nasional Penanggulangan Dengue, Jumat (30/7/2021) – Foto: Ranny Supusepa

Didik juga menyatakan, bahwa dengan meningkatnya kerja sama multi sektoral, baik dari pemangku kepentingan, mitra kerja, akademisi, organisasi profesi maupun pelaku usaha, dalam jangka panjang diharapkan bisa mendorong percepatan Indonesia bebas Dengue, termasuk di masa pandemi ini.

“Kami juga mendorong gerakan satu rumah satu jumantik sebagai wujud masyarakat hidup sehat yang akan berdampak pada kesehatan secara keseluruhan,” ujarnya.

Dalam strategi nasional penanggulangan Dengue, selain tiga program utama yang selama ini sudah dijalankan yaitu, pengendalian vektor, peningkatan kapasitas surveillance serta tata kelola dan deteksi dini, akan ditambahkan tiga strategi lainnya.

“Yaitu, peningkatan partisipasi masyarakat dan institusi yang berkesinambungan, penguatan kebijakan manajemen program kemitraan dan komitmen pemerintah serta pengembangan kajian, penelitian dan inovasi sebagai dasar kebijakan. Tiga program baru ini akan menguatkan tiga program yang sebelumnya,” tandasnya.

Plt. Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Kemenkes, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS, menyatakan di Indonesia, dengue masih menjadi masalah kesehatan utama dan merupakan penyebab utama DBD.

“Sejak pertama kali dilaporkan di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968, kasus Dengue ini meningkat pesat di seluruh kabupaten/kota. Tapi, angka kematiannya sudah menurun jauh sejak kejadian tahun 1968 dan kurang dari satu persen sejak 2008,” kata Maxi Rein dalam kesempatan yang sama.

Namun demikian, secara absolut masih menjadi perhatian, terutama di daerah yang masih menunjukkan angka tinggi.

“Enam strategi nasional penanggulangan dengue ini diharapkan, secara umum dapat menurunkan beban kesehatan masyarakat yang muncul akibat dengue,” ucapnya.

Dan secara khusus akan meningkatkan upaya pencegahan kejadian dengue yang efektif, meningkatkan akses masyarakat terhadap tata laksana dengue yang berkualitas, menguatkan surveilans dan respons terhadap kejadian dengue maupun KLB, serta meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat berkesinambungan terhadap penanggulangan dengue.

“Targetnya adalah mencapai lebih besar dari 90 persen pada tahun 2025, dengan baseline di tahun 2020 adalah 71,6 persen. Dan angka kematian dari baseline 0,7 persen di tahun 2020 menjadi 0,5 persen di tahun 2025,” ucapnya lagi.

Maxi Rein mengakui bahwa target ini bukanlah target yang sangat ambisius tapi merupakan target yang harus dilakukan bersama, pemerintah pusat dan daerah.

“Ini merupakan komitmen dalam mencapai tujuan SDGs dengan kerja cerdas dan kerja tepat yang didukung oleh semua stakeholder. Dan tak lupa untuk melakukan evaluasi secara berkala,” pungkasnya.

Lihat juga...