Budidaya Jambu Kristal Variegata Kian Digemari di Semarang

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Jambu kristal, sebagai salah satu varietas unggulan jambu biji, mulai banyak dibudidayakan. Tidak hanya oleh patani, namun juga masyarakat umum. Daging buah yang renyah, manis dan berair, menjadi daya tarik utama. Tidak hanya itu, kandungan biji dalam jambu kristal juga sedikit, sehingga buah ini juga menjadi favorit.

Dalam perkembangannya, varietas jambu kristal pun beragam, termasuk jenis variegata, yang kian digemari. Variegata mengacu pada bagian tanaman yang memiliki belang atau warna yang berbeda, dibanding warna aslinya. Ada banyak warna, mulai kuning hingga merah, namun paling umum, warna putih.

“Jenis variegata saat ini mulai digemari, tidak hanya untuk tanaman hias saja, namun juga jenis tanaman buah-buahan. Termasuk jambu kristal variegata. Cara perawatannya pun mudah, sama halnya dengan jenis jambu kristal pada umumnya,” papar Tono, pedagang bibit jambu kristal, saat ditemui di kawasan Tembalang, Semarang, Senin (14/6/2021).

Dipaparkan, meski tidak jauh berbeda dengan jambu kristal pada umumnya, namun jenis variegata memiliki daya tarik tersendiri, yakni pada warna buah yang dihasilkan.

“Jika umumnya buah jambu berwarna hijau kekuningan, maka untuk jenis variegata ini, buahnya berbeda warna, ada garis belang hijau putih. Jadi secara estetika jadi unik dan menarik. Kalau soal rasa, sama, tidak berbeda,” terangnya.

Tono menuturkan jambu jenis tersebut, cocok dibudidayakan di lahan pertanian atau pun menggunakan metode tanaman buah dalam pot (tabulampot).

Tono, menunjukkan bibit jambu kristal variegata, saat ditemui di kawasan Tembalang, Semarang, Senin (14/6/2021). -Foto Arixc Ardana

“Metode tabulampot menjadi pilihan masyarakat perkotaan, termasuk di Kota Semarang, karena tidak memerlukan lahan yang luas. Mereka bisa menanam buah di dalam pot, dan pot tersebut dapat diletakkan di depan rumah atau tempat lainnya. Jadi tidak perlu lahan yang luas,” tandasanya.

Meski demikian, jika dibudidayakan melalui tabulampot perlu lebih diperhatikan soal pemupukkan dan penyiraman. Hal ini penting karena akar tanaman dibatasi pot, sehingga tidak bisa mengakar jauh ke dalam tanah, untuk memenuhi kebutuhan air dan nutrisinya.

Terpisah, hal senada juga disampaikan petugas Urban Farming Corner (UFC) Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Wahyudi saat ditemui di UFC Semarang, Senin (14/6/2021).

Dijelaskan, jambu kristal menjadi salah satu jenis tanaman yang paling digemari untuk dibudidayakan masyarakat, termasuk di Semarang.

“Selain mudah perawatannya, jambu kristal ini juga cepat berbuah. Apalagi jika diperbanyak secara vegetatif seperti stek, okulasi, sambung pucuk maupun cangkok. Dalam kurun waktu kurang dari enam bulan, sudah bisa berbuah,” terangnya.

Termasuk untuk jenis variegata, juga mudah dibudidayakan, karena sifatnya tidak berbeda dengan jambu kristal pada umumnya. “Perbedaannya hanya pada warnanya saja, misalnya ada corak warna putih atau kuning di sepanjang pinggir daun, kemudian buahnya juga belang, hijau putih,” tambahnya.

Terkait budidaya dengan tabulampot,  Wahyudi menuturkan metode tersebut dapat dipraktekkan ke semua jenis tanaman buah, termasuk juga jambu kristal variegata.

“Untuk tabulampot jambu kristal, harus disiapkan pot tanam dengan ukuran yang besar. Hal ini karena kebutuhan nutrisi atau unsur hara pada tanaman tersebut, juga besar. Media tanam yang perlu disiapkan yaitu campuran tanah, pupuk kompos dan sekam padi, dengan perbandingan 2:1:1. Jika semuanya sudah siap, segera lakukan penanaman. Masukkan bibit jambu kristal ke dalam media tanam dan isi pot hingga penuh dan padatkan,” terangnya.

Pada awal-awal penanaman, berupa pemindahan bibit jambu kristal dari polybag ke pot. Perlu dilakukan proses pendinginan. Hal ini harus dilakukan agar bibit tersebut, bisa menyesuaikan dengan tempat baru.

“Letakkan dahulu di tempat yang teduh selam 1 -2 minggu. Setelah itu, pindahkan pot tanaman tabulampot ke tempat yang terkena sinar matahari langsung,” tandasnya.

Agar tanaman jambu kristal tidak stres dan mati, penyiraman harus dilakukan secara rutin dan berkala. Tidak hanya itu, penyiangan gulma atau tanaman liar lainnya, juga diperlukan.

“Termasuk juga pemupukan dengan menggunakan pupuk NPK mutiara sebanyak satu sendok makan yang dicampurkan dengan air satu liter, pemupukan ini dilakukan setiap satu bulan sekali. Tujuannya untuk memperkuat akar dan mempercepat munculnya bunga dan buah,” lanjut Wahyudi.

Pada prosesnya, saat sudah mulai muncul calon bunga pada ujung dahan, perlu dilakukan pemangkasan. “Jadi daun yang masih tumbuh di atas batang calon bunga, harus dipotong. Ini bertujuan agar nutrisi pada tanaman tersebut, fokus pada pertumbuhan bunga atau calon buah tersebut. Tidak terbagi dengan pertumbuhan daun. Selebihnya, tinggal menunggu buah menjadi besar dan siap dipanen,” pungkasnya.

Lihat juga...