BOR di Semarang Capai 92 Persen, COVID-19 Bergejala Ringan Disarankan Isolasi Mandiri

Editor: Maha Deva

Kepala DKK Semarang, Abdul Hakam, saat dihubungi, di Semarang, Sabtu (26/6/2021) - Foto Arixc Ardana

SEMARANG – Angka bed occupancy ratio (BOR) atau penggunaan tempat tidur di sejumlah rumah sakit dan tempat isolasi COVID-19 di Kota Semarang, per Jumat (25/6/2021) mencapai 92 persen. Tingginya angka BOR tersebut, mendorong Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, mengedepankan perawatan isolasi mandiri bagi masyarakat terpapar COVID-19, dengan gejala ringan atau tanpa gejala.

“Sebetulnya masyarakat yang terpapar COVID-19, bisa melakukan isoman (isolasi mandiri) di rumah atau tempat tinggal masing-masing, khususnya bagi mereka yang tanpa gejala atau bergejala ringan. Alangkah baiknya secara isoman,” papar Kepala DKK Semarang, Abdul Hakam, Sabtu (26/6/2021).

Pada saat menjalani isolasi mandiri, apabila masyarakat membutuhkan pelayanan medis, bisa mengubungi puskesmas, ambulans hebat Semarang atau call center 1500 132. “Ini dilakukan, agar yang menjalankan isoman terkontrol dengan baik, termasuk kebutuhan jenis vitamin atau obat-obatan yang diperlukan, bisa menghubungi hotline 1500 132. Masyarakat bisa bertanya seputar kebutuhan untuk isolasi mandiri,” lanjutnya.

Sementara, mereka yang bergejala, saturasi rendah hingga sesak nafas, harus dirawat di rumah sakit atau karantina terpusat. “Saat ini kondisi BOR rumah sakit memang sedang tinggi, jadi banyak yang menunggu antri di Unit Gawat Darurat (UGD), bahkan sejumlah rumah sakit di Semarang juga sudah mendirikan tenda darurat, karena kebutuhan ruangan tinggi,” tambahnya.

Pihaknya juga mendorong disediakannya rumah karantina atau isolasi di masing RT atau RW, yang fungsinya sebagai rumah isolasi bagi pasien bergejala ringan atau non gejala. “Kalau ini bisa, lebih bagus lagi. Jadi lebih memudahkan dalam pengawasan dan perawatannya, petugas kita bisa datang langsung kesana, beri obat, vitamin. Jadi tidak door to door, dari satu rumah ke rumah yang lain,” terangnya.

Dibagian lain Hakam menyebut, mengenai kebutuhan oksigen untuk pasien COVID-19, di Kota Semarang masih tercukupi, meski terjadi lonjakan kasus hingga 300 persen. “Oksigen ini salah satu kebutuhan utama dalam perawatan pasien COVID-19, mereka yang sesak nafas harus dibantu pernafasannya dengan oksigen. Sejauh ini stok aman, meski terjadi lonjakan, biasanya hanya dua ton per hari, saat ini kebutuhannya bisa sampai enam ton oksigen per-hari. Saat ini yang dibutuhkan itu armada truk pengangkutnya, perlu ditambah, karena kebutuhan tinggi dan bisa segera terlayani,” terangnya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi memaparkan, berbagai langkah dilakukan untuk menekan BOR, yang angkanya sudah mencapai lebih dari 90 persen. “Perlu langkah konkret, untuk menekan peningkatan BOR ini, misalnya saja di RS Wongsonegoro saat ini kapasitas untuk perawatan pasien COVID-19 sudah mencapai 400 tempat tidur, sudah dua kali lipatnya,” terangnya.

Pemkot Semarang saat ini juga terus menambah tempat karantina terpusat, untuk menekan BOR. Termasuk meminta setiap kecamatan dan kelurahan, untuk menyediakan tempat karantina di wilayah masing-masing. “Harapannya nanti mereka yang bergejala ringan atau OTG, bisa menempati tempat-tempat tersebut, di lingkungan masing-masing sehingga BOR di tempat karantina terpusat dan rumah sakit tidak penuh,” tambahnya.

Dirinya kembali mengimbau, masyarakat Kota Semarang atau pun pendatang, untuk menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan bertanggung jawab. Sehingga laju COVID-19 bisa ditekan

Lihat juga...