Pandemi, Titik Balik Wisata Daerah Menuju Destinasi Unggulan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Masa pandemi bukanlah masa dimana para pelaku usaha wisata harus diam dan pasrah. Tapi momen ini harus menjadi titik balik dalam melakukan persiapan dan promosi wisata untuk menuju destinasi unggulan yang aman bagi wisatawan nusantara untuk saat ini, dan mancanegara untuk jangka panjang.

Direktur Event Daerah, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Drs. Reza Pahlevi, AP, MSi, menyatakan, walau pandemi memang mempengaruhi sektor pariwisata tapi para pelaku usaha tak boleh menyerah.

“Masa pandemi ini harus menjadi masa dimana semua operator mulai berpikir kreatif dan mempersiapkan semua infrastruktur di daerahnya. Mempersiapkan destinasi yang aman bagi wisatawan dengan berkolaborasi seluruh pihak,” kata Reza dalam acara mudik dan silaturahmi online yang diselenggarakan oleh Dispar Sumedang, diikuti Cendana News, Minggu (16/5/2021).

Terutama dalam membangun keunikan dari masing-masing daerah agar menarik hasrat pecinta wisata untuk datang berkunjung.

“Sudah menjadi tugas kita untuk menjadikan keunggulan dan keunikan daerah menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mau berkunjung,” katanya.

Caranya dengan mempelajari berbagai aspek. Baik dari destinasi, pemasaran, SDM dan industri serta ekonomi. Dan menjadikan semua aspek ini bersinergi  maju bersama.

Mengenali posisi daya saing, lanjutnya, dapat dilakukan dengan mengenali nilai dan diferensiasi produk dibandingkan dengan wilayah sekitar.

“Kita harus melihat wilayah samping, apa kesamaannya dan bagaimana kita menjadikan wilayah kita lebih menarik wisatawan,” ucapnya lagi.

Reza juga menegaskan para operator wisata dan pemda harus bisa memilah keunikan dan keunggulan daerahnya lalu memilih beberapa untuk ditonjolkan.

“Kita harus menentukan segmen yang akan kita sasar. Apakah yang massal, atau yang premium. Atau yang suka alam. Sehingga bisa disusun kebijakan daerah yang mendukung. Tentunya hal ini dilakukan dengan bench marking pada wilayah sekitar dan melakukan penguatan pada pilihan wisata agar mampu menonjol dibandingkan wilayah di sekitar kita,” paparnya.

Selama pandemi ini, Reza menyebutkan, Kemenparekraf juga terus mensosialisasikan kebiasaan adaptasi.

“Pada intinya, Kemenparekraf dalam meningkatkan sektor pariwisata, mendorong pelaku usaha daerah dan pemda untuk melakukan revitalisasi destinasi, yaitu membenahi setiap aspek destinasi terutama yang berkaitan dengan protokol kesehatan dan pelaksanaan CHSE di setiap lokasi wisata,” ungkapnya.

Hal ini penting, karena para wisatawan akan cenderung mengunjungi destinasi yang sudah berstandar.

“Jika tidak menerapkan maka akan berdampak pada keengganan wisatawan untuk berkunjung. Akhirnya pemda dan pelaku usaha wisata juga yang merasakan dampak negatifnya,” tutur Reza.

Selanjutnya adalah mempersiapkan SDM dan visitor manajemen guna membangun kepercayaan wisatawan untuk tetap dapat berwisata dengan aman dan selamat.

“Sebagai operator wisata, kita harus mampu menyampaikan pada target sementara kita yaitu wisnus bahwa mereka akan aman selama berwisata di daerah kita,” kata Reza tegas.

Ia menekankan bahwa banyak yang bergantung pada sektor pariwisata ini. Oleh karena itu, pemerintah mendorong setiap operator wisata dan pemda untuk bisa membuka lokasi wisata dengan menomorsatukan kesehatan.

“Memang berat bagi para pelaku usaha pariwisata dalam masa pandemi ini, walaupun pemerintah sudah banyak melakukan bantuan. Namun, kita tidak bisa hanya diam. Satu-satunya cara adalah penerapan standar CHSE secara ketat. Bukan hanya di akomodasi saja tapi juga pada setiap event dan kegiatan yang dilakukan secara sinergi dari seluruh aspek daerah,” pungkasnya.

Lihat juga...