Mainan Tradisional Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Teknologi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURWOKERTO — Memasuki pusat pertokoan kawasan Kebondalem, Kota Purwokerto, tepat di sebelah pintu masuk supermarket, ada puluhan mainan kapal-kapalan yang terbuat dari kaleng bekas. Kapal berukuran kecil tersebut berjalan di atas air, memutari baskom bulat.

Mainan kapal yang menggunakan bahan bakar kapas dan minyak goreng ini sudah sangat jarang dijumpai, karena sekarang ini lebih dominan mainan modern yang hanya perlu dicash jika baterai habis. Namun, Darsun (63), tetap bertahan berjualan mainan tradisional, meskipun peminatnya sudah sangat menurun.

“Kalau sedang ramai, terkadang dalam satu hari bisa laku sampai 20 kapal-kapalan, tetapi kalau sedang sepi hanya laku 5 biji, bahkan terkadang tidak laku sama sekali,” kata lelaki asal Kuningan, Jawa Barat ini, Selasa (18/5/2021).

Kapal-kapalan yang terbuat dari kaleng bekas ini berukuran kecil, sekitar 10 centimeter panjangnya dan untuk yang besar 15 centimeter. Membuatnya cukup rumit, karena ukurannya yang mini. Pada bagian dalam kapal diberi kapas kecil yang ditetesi dengan minyak goreng sebagai bahan bakarnya. Jika bagian atas kapas dinyalakan dengan korek api, maka kapal akan mulai berjalan. Karena tidak menggunakan pengontrol ataupun remote, maka kapal akan berjalan mengikuti bentuk tempat air.

Lebih lanjut Darsun bercerita, dulu mainan kapal-kapalan tersebut pernah sangat laku, yaitu sekitar tahun 1980 – 1990 an, namun seriring perkembangan teknologi, mainan tersebut mulai tergusur oleh mainan modern. Tetapi, Darsun memilih untuk tetap bertahan berjualan kapal-kapalan tradisional tersebut.

“Tetap berjualan kapal saja, supaya anak-anak tahu mainan jaman dulu yang dibuat dari bahan baku sederhana, tetapi awet dan tahan lama,” tuturnya.

Harga satu buah kapal-kapalan berukuran kecil cukup murah, hanya Rp 15.000 dan untuk yang ukuran lebih besar Rp 20.000. Untuk sebuah mainan yang bisa bertahan bertahun-tahun, harga tersebut terbilang sangat murah. Namun, terkadang masih saja ada yang mencoba menawarnya.

“Namanya jualan, pasti ada yang menawar, kalau menawarnya tidak terlalu banyak, saya kasihkan saja, yang penting anaknya senang bisa dapat mainan,” katanya.

Awalnya bapak dari 12 anak ini sempat membuat sendiri kapal-kapalan tersebut, namun karena faktor usai, sekarang Darsun memilih untuk membeli kapal-kapalan dari penjual lain. Setiap hari ia berjualan di halaman salah satu supermarket besar di kawasan Kebondalem Purwokerto mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB.

Salah satu pembeli kapal-kapalan, Dika mengatakan, mainan tradisional sebenarnya bagus untuk anak, karena membuat anak tidak kecanduan terhadap teknologi. Sebaliknya justru merangsang kreatifitas anak dan rasa keingintahuan pada anak.

“Supaya anak-anak kita tidak terpaku pada mainan modern saja, maka sesekali mainan tradisional perlu diberikan, seperti kapal-kapalan ini,” ucapnya.

Lihat juga...