Ulet, Kunci Sukses Tekuni Usaha Kuliner
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Peluang usaha kecil menjadi salah satu sumber penghasilan tetap bagi sejumlah warga Bandar Lampung.
Memanfaatkan lokasi strategis sebagai aset yang tak berwujud (intangible asset) dilakukan Nur Ahmad (52) di depan area pendopo rumah dinas Gubernur Lampung. Lokasi strategis itu juga berada di dekat pusat perkantoran lembaga pemerintah dan swasta di Jalan Dokter Susilo.
Nur Ahmad bilang, lokasi tersebut digunakan olehnya untuk berjualan memakai motor gerobak. Motor yang telah dimodifikasi dengan etalase dipakai untuk berjualan mi ayam.
Menu kuliner yang disukai berbagai kalangan sebutnya memakai modal sekitar Rp15 juta. Modal itu digunakan untuk membeli motor bekas pakai, etalase. Investasi modal dilakukan setelah sebelumnya memakai gerobak dorong.
Kunci usaha kuliner mi ayam sebutnya, selain keuletan adalah menciptakan rasa khas yang sesuai dengan lidah pelanggan. Nur Ahmad yang dikenal sebagai pemilik Mi Ayam Ompong menyebut sejak akhir 2020 bergeser lokasi sekitar 50 meter dari depan pendopo gubernur Lampung.
Namun ia mengaku lokasi di jalan yang sama masih tetap strategis. Buka sejak pukul 07.00 WIB ia akan tutup maksimal hingga pukul 17.00 WIB.
“Usaha kecil berjualan mi ayam bagi saya sebuah investasi karena saya bisa meningkatkan nilai jual bahan baku berupa mi, sayuran dan daging ayam untuk memperoleh keuntungan, selanjutnya diinvestasikan dalam bentuk aset tak bergerak untuk tabungan,” terang Nur Ahmad saat ditemui Cendana News, Selasa (16/3/2021).
Setiap hari Nur Ahmad mengaku bisa menjual sebanyak 10 kilogram mi ayam. Jumlah itu selalu habis dinikmati oleh pelanggan dari berbagai kalangan baik pegawai, tukang ojek hingga petugas kebersihan.
Namun semenjak pandemi Covid-19 ia mengurangi jumlah mi ayam yang dijual dengan rata-rata 5 kilogram per hari. Bisa mendapat omzet sekitar Rp3 juta per hari ia sudah puas mendapat hasil Rp1,5 juta per hari.
Menurunnya penjualan sebut Nur Ahmad cukup beralasan, sebab sebagian kantor menerapkan Work From Home (WFH). Menjual mi ayam dengan harga Rp10.000 per porsi ia mengaku kerap sudah habis hingga pukul 16.00 WIB.
Uang hasil penjualan dipergunakan untuk modal berdagang hari berikutnya. Sisanya dipergunakan untuk biaya hidup harian, membiayai anak sekolah.
“Investasi jadi hal wajib bagi saya dengan menabung lalu saya belikan tanah kavlingan di Kabupaten Pesawaran,” cetusnya.
Tanah kavling hasil dari menabung usaha berjualan mi ayam sebutnya dibeli seharga Rp45 juta. Tanah berukuran 16×27 meter atau seluas 432 meter tersebut yang dibeli dua tahun silam ditanami pohon buah.
Jenis durian, pisang dan tanaman produktif telah menghasilkan. Nilai investasi tanah setelah dua tahun sebutnya cukup lumayan karena sudah ditawar senilai Rp100 juta oleh pembeli.
Meski hanya berjualan mi ayam, Nur Ahmad mengaku melek finansial tetap penting. Memiliki pelanggan tetap, rasa khas mi ayam yang dikenal memberinya penghasilan stabil.
Ia memilih mengalokasikan sebagian hasil keuntungan untuk berinvestasi tanah. Setelah membeli kavlingan ia kembali berencana membeli tanah sistem kredit.
“Bagi saya usaha kuliner bisa menjadi roda penggerak ekonomi keluarga dan bisa menjadi modal investasi lain,” cetusnya.
Nur Ahmad mengaku pernah ditawari untuk berdagang mi ayam di kantin Mall Pelayanan Publik Kota Bandar Lampung. Namun memiliki aset lokasi strategis membuatnya tetap bertahan.
Pertimbangan fleksibel bisa berpindah lokasi memakai motor gerobak memudahkannya untuk membuka usaha. Meski hasil menurun imbas pandemi Covid-19 ia mengaku masih bisa menabung Rp300 ribu per hari.
Menjadikan usaha kuliner sebagai investasi juga dilakukan Renggapati Permadi. Warga asal Solo, Jawa Tengah itu mengaku semula hanya bekerja sebagai pelayan usaha sejenis.

Mengumpulkan modal ia mulai membeli peralatan untuk menjual mi ayam. Peluang usaha itu dikreasikan dengan menciptakan varian mi ayam organik. Strategi marketing usaha kecil dilakukan menciptakan mi ayam yang unik.
Mi ayam organik dibuat memakai bahan wortel, ubi ungu dan bayam. Hasil penjualan sebutnya digunakan untuk mempersiapkan usaha sejenis.
Ia mengaku akan membuka usaha sejenis dibantu sang adik. Investasi dilakukan dengan penambahan gerobak untuk berjualan. Mimpi untuk memiliki kios sebutnya akan dilakukan dengan modal pinjaman.
“Usaha kecil tetap bisa menjadi besar jika memiliki keinginan untuk mengembangkannya,” terangnya.
Renggapati Permadi juga bilang ia ikut mengikuti perkembangan zaman. Investasi dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan aplikasi pesan antar.
Pembelian aplikasi dan sistem pembayaran online sebutnya akan menjadi modal. Selain itu menjalin jejaring pertemanan ia bisa mempromosikan produk agar lebih dikenal.
Hasilnya omzet penjualan meningkat dari ratusan ribu menjadi lebih dari Rp1 juta per hari.