Diversifikasi Produk Penjualan, Cara Petani Kelapa Tingkatkan Penghasilan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Komoditas kelapa jadi salah satu hasil pertanian yang memiliki nilai ekonomis beragam. Produk buah, batang, daun hingga produk turunan memiliki nilai jual. Diversifikasi atau penganekaragaman produk penjualan jadi cara petani Lampung Selatan mendapatkan pemasukan. Kelapa yang bisa dijual dalam kondisi tua sebagian dijual saat tua, lalu ada juga bagian air hingga batok.

Hendra, pemilik usaha pembuatan kopra menyebut produksi daging kelapa yang dikeringkan jadi bahan baku minyak.

Limbah pengupasan jadi batok kelapa yang berfungsi untuk bahan baku arang kelapa. Ia juga menjual produk yang hanya menjadi limbah saat dibuang berupa air. Diversifikasi produk itu dilakukan menyesuaikan kondisi pasar, cuaca dan permintaan.

Saat penghujan, Hendra, warga Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan itu bilang produksi kopra terhambat proses pengeringan.

Memanfaatkan matahari saat penghujan berimbas pengepul membuat kopra dengan pengasapan atau penggarangan. Ia memperbanyak penjualan kelapa muda dan grade sedang, besar untuk bahan santan. Bahan kopra hanya diperoleh dari grade kecil yang sudah disortir.

“Petani pekebun dan pengepul kelapa harus bisa memaksimalkan produk yang bervariasi sehingga bisa mendapat keuntungan dari beberapa jenis produk, meski dari satu hasil pertanian dalam bentuk mentah, produk setengah jadi dan bahan baku,” terang Hendra saat ditemui Cendana News, Senin (15/3/2021).

Hendra menyebut kreativitas dalam menentukan produk yang akan dijual dipelajari selama bertahun-tahun. Berkembangnya tren minat masyarakat juga jadi peluang pengepul kelapa.

Sebab permintaan akan bahan baku briket arang kelapa untuk karbon mendorong peningkatan permintaan batok. Semula hanya limbah batok kelapa yang bisa dijual senilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Mansuri, pemilik usaha pengepulan kelapa di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan juga mendapat peluang. Usaha sektor pertanian berbasis kelapa sebutnya bisa menjadi penghasil bahan baku nata de coco. Proses pemecahan kelapa yang menghasilkan air bisa dijual dengan harga Rp5.000 per jeriken. Satu jeriken berisi sekitar 10 liter akan diambil oleh produsen nata de coco.

“Produk sisa dari kelapa yang semula terbuang bisa menghasilkan uang untuk membantu biaya operasional pekerja,” cetusnya.

Produk kelapa kopra sebutnya, saat penghujan tidak maksimal dikeringkan dengan sinar matahari. Sebagian batok kelapa hanya digunakan untuk pengasapan.

Sisa limbah batok kelapa bisa dijual untuk pembuatan briket. Kelapa hasil panen petani berukuran besar dan sedang dijual ke pasar tradisional dan pabrik pembuatan santan.

Memaksimalkan hasil pertanian kelapa juga dilakukan oleh Subarkah. Pengepul dan petani kelapa berbagai kultivar hijau, merah dan gading itu melakukan diversifikasi produk.

Maksimalkan hasil, Subarkah, pengepul kelapa di Desa Hatta Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan menjual kelapa  muda dan tua, Senin (15/3/2021) – Foto: Henk Widi

Saat mendekati bulan Ramadan ia menangkap peluang permintaan kelapa muda yang meningkat. Kuota permintaan pada pertengahan Maret sebutnya bisa mencapai 2000 butir.

Kelapa muda atau dugan dijual ke pengecer mulai harga Rp3.000 hingga Rp4.000. Sebagian kelapa yang sudah tua dijual sebagai bahan baku pembuatan nata de coco.

Kelapa yang belum dipecah itu bisa dijual seharga Rp3.000 hingga Rp5.000 per butir. Diversifikasi penjualan kelapa butir akan memberikan hasil yang lebih banyak. Sebab setiap butir kelapa diberi harga berbeda.

“Sebelumnya peluang bisnis kelapa hanya untuk membuat kopra, tapi kini bisa dijual sebagai dugan, bumbu dan bahan nata de coco,” cetusnya.

Hasil diversifikasi produk berbahan kelapa sebutnya bisa memberi hasil maksimal. Ia juga menyebut sebagian produsen pengolah ada di wilayah Jakarta, Tangerang.

Ia berharap di wilayah Lampung pabrik pengolahan tepung kelapa, santan hingga nata de coco bisa menyerap kelapa petani.

Cara itu akan memangkas distribusi pengiriman. Sebab harga kelapa rendah dipengaruhi oleh distribusi dengan biaya operasional tinggi untuk kendaraan, bongkar muat.

Lihat juga...