Usaha Produksi Teri Rebus dan Ikan Asin Terkendala Musim Penghujan
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Musim penghujan atau rendengan ikut berdampak pada sektor usaha kecil perikanan, seperti teri rebus dan ikan asin. Curah hujan tinggi membuat proses pengeringan lebih lama, karena mengandalkan sinar matahari.
Mardan, produsen teri rebus dan ikan asin di Kampung Sukamina, Lempasing, Teluk Betung Barat menyebutkan, musim penghujan sudah terjadi sejak awal tahun.
“Hasil tangkapan nelayan tidak mengalami kendala, karena saat ini meski kondisi cuaca tidak bersahabat namun nelayan masih tetap melaut terutama ukuran perahu besar, namun sampai di darat proses produksi terkendala hujan gerimis hingga deras sehingga butuh waktu lebih lama untuk pengeringan,” terang Mardan saat ditemui Cendana News tengah melakukan perebusan, Selasa (19/1/2021).
Mardan bilang usaha produksi teri rebus, ikan asin menggunakan modal terbatas. Bermodalkan bahan bakar, tungku perebusan, cekeng, senoko untuk penjemuran produksi bisa berlangsung. Jenis ikan teri jengki, nasi dan medan dibeli mulai harga Rp180.000 hingga Rp280.000 per cekeng atau ukuran 15 kilogram.
Produksi harian dengan ikan teri mencapai 1 hingga 2 kuintal. Sementara jenis ikan untuk ikan asin dibeli mulai harga Rp50.000 hingga Rp70.000 per kilogram. Kedua jenis bahan produksi tersebut diperoleh setiap pagi sehingga proses pengolahan bisa langsung dilakukan. Stok bahan bakar untuk perebusan membutuhkan belasan kubik kayu yang dibeli Rp350.000 per mobil L300. Sementara ikan teri kering dijual mulai harga Rp70.000 dan ikan asin Rp45.000 perkilogram.
“Pengeringan dilakukan dengan cara di-angin-anginkan saat hujan turun lalu akan dikeringkan saat matahari muncul,” ungkapnya.
Pengeringan teri dan ikan asin saat penghujan kerap berimbas kualitas menurun. Mardan menyebut saat kondisi normal proses pengeringan hanya butuh waktu dua hari. Namun selama penghujan pengeringan sempurna bisa butuh waktu empat hari lebih.

Hasanudin, nelayan bagan congkel menyebut teri hasil tangkapan akan dikirim ke usaha pengeringan. Bahan baku tersebut diperoleh dari perairan Teluk Lampung dan wilayah Lampung Selatan. Proses penangkapan ikan teri dan bahan ikan asin kerap diperoleh pada malam hari. Pada bulan mati nelayan memakai lampu khusus untuk menarik berkumpulnya ikan teri.
“Saat hasil tangkapan ikan teri meningkat sebagian dipergunakan untuk bahan baku teri kering namun dijual pedagang keliling untuk campuran bahan kuliner,” cetusnya.
Memasuki musim penghujan dan kondisi cuaca buruk ia menyebut hasil tangkapan ikan berkurang. Meski demikian ia tidak menjual ikan laut dengan harga stabil. Sistem langganan dalam produksi ikan teri rebus dan ikan asin saling menguntungkan. Sebab hasil tangkapan ikan akan selalu terserap oleh produsen pembuatan teri dan ikan asin di wilayah Lempasing. Produsen ikan teri dan ikan asin juga bisa memasok ke sejumlah pasar di Bandar Lampung dan kota lain di Lampung.