Rantai Pasok Tanaman Herbal Dukung Usaha Jamu Tradisional

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Lancarnya rantai produksi tanaman herbal untuk bahan baku jamu di Bakauheni, Lampung Selatan mendukung usaha jamu tradisional. Bahan empon empon tersebut di antaranya kunyit, jahe, kencur, kapulaga, jeruk nipis, temu lawak, puyang, adas, sirih dan tanaman herbal lainnya.

Sri Mulyani, pedagang jamu di Bakauheni menyebut bahan baku diperoleh dari petani Lampung Selatan.  Kelancaran bahan baku jadi cara menjaga eksistensi usaha yang dilakukan dengan jalan kaki tersebut.

Sri Mulyani bilang usaha penjualan jamu tradisional lebih dipandang orang selama pandemi Covid-19. Dikarenakan memiliki khasiat menjaga stamina jadi buruan warga untuk menjaga kesehatan. Selain itu kondisi untuk menjaga kondisi tubuh saat cuaca didominasi hujan, angin kencang yang menurunkan stamina.

“Selama rantai pasok bahan baku lancar untuk pembuatan jamu usaha yang saya tekuni tetap bisa berjalan bahkan alami peningkatan pesanan selama masa pandemi, kesadaran masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh tanpa bahan kimia ikut menjadi sumber penghasilan bagi pelaku usaha,” terang Sri Mulyani saat ditemui Cendana News, Selasa (19/1/2021)

Bahan baku yang sulit diperoleh menurut Sri Mulyani meliputi cabai jamu atau dikenal puyang. Tanaman dengan nama ilmiah Piper retrofactum Vahl menurutnya hanya ditanam oleh petani sebagai tanaman sela. Pembelian dilakukan dalam kondisi kering dengan harga Rp50.000 per kilogram, terbilang cukup mahal sehingga satu kilogram bisa dipergunakan satu bulan.

Jenis bahan jamu dengan pasokan lancar meliputi jahe, kunyit, kencur. Relatif lebih murah dengan harga mulai Rp5.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Beberapa bahan ang ditanam di kebun tanpa harus membeli meliputi sirih dan kencur.

“Produsen jamu tradisional juga mulai berinovasi untuk menanam bahan baku di pekarangan meminimalisir ketergantungan dengan membeli,” cetusnya.

Supiati, pedagang jamu tradisional di pasar Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut rantai pasok memperlancar usahanya. Ia memiliki pelanggan tetap di pasar tradisional saat berdagang di pasar tersebut. Jenis jamu yang dijual meliputi beras kencur, pegal linu, masuk angin, galian singset hingga penambah nafsu makan.

“Saat ini pedagang jamu mulai mempergunakan motor keliling sehingga bisa menjangkau banyak pelanggan,” cetusnya.

Kebutuhan cabai jamu atau dikenal puyang untuk kebutuhan jamu tradisional membuat Rosa, warga Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyediakan bahan baku melalui proses penanaman, Selasa (19/1/2020). Foto: Henk Widi

Suyatinah, warga Pasuruan menyebut mengeringkan rimpang temu lawak, jahe dan kunyit dengan cara tradisional, memakai sinar matahari. Rimpang kering tersebut selain akan dikirim pada produsen jamu tradisional juga untuk kebutuhan keluarga. Proses pengeringan akan mempermudah penyeduhan seperti pembuatan teh.

Penanam bahan jamu tradisional, Rosa, warga Desa Kelaten menyebut membudidayakan puyang. Jenis tanaman merambat itu berbuah sepanjang waktu dan bisa dijual dalam kondisi kering. Bahan untuk pembuatan jamu itu dijual seharga Rp50.000 hingga Rp75.000 perkilogram. Pasokan yang lancar membuat usaha jamu di desanya tetap beroperasi setiap hari.

Lihat juga...