Nelayan Tambaklorok Semarang Terpaksa tak Melaut
Editor: Koko Triarko
SEMARANG – Cuaca ekstrem menyebabkan gelombang tinggi di perairan Laut Jawa dan menyebabkan banyak nelayan tidak berani melaut, termasuk para nelayan di Tambaklorok, Kota Semarang, Jawa Tengah.
“Tidak berani melaut kalau gelombang tinggi seperti sekarang ini. Kalau nekat dipaksakan, perahu bisa terbalik, karena tinggi gelombang bisa dua meter lebih,” papar Hasim, salah seorang nelayan saat ditemui di kawasan Tambaklorok, Semarang, Sabtu (30/1/2021).
Dijelaskan, cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang sudah terjadi sejak Rabu (27/1/2021), bahkan pada Kamis (28/1/2021) gelombang tinggi sampai menghantam perahu-perahu milik nelayan yang bersandar di dermaga.

“Kemarin Kamis-Jumat, gelombangnya sampai ke dermaga, akibatnya perahu-perahu nelayan yang tengah bersandar, saling bertabrakan karena terkena ombak. Ada satu perahu yang sampai terbalik,” tambahnya.
Bahkan saat malam hari, mereka rela tidur di pinggir dermaga guna menjaga perahu, untuk mengantisipasi jika gelombang tinggi datang.
“Kalau tidak melaut seperti sekarang ini, kita manfaatkan untuk memperbaiki jala atau perahu yang rusak, namun kalau gelombang tingginya cukup lama, kita juga yang repot karena tidak ada pemasukan,” ungkapnya.
Nelayan lainnya, Kustoni berharap, pemerintah segera membangun kembali talud penahan gelombang yang saat ini kondisinya sudah rusak atau ambrol terhantam gelombang tinggi. Talud tersebut penting, untuk melindungi rumah penduduk atau perahu yang bersandar di dermaga.
Jebolnya talud tersebut melengkapi derita nelayan Tambaklorok yang belum bisa melaut akibat musim angin barat, sehingga menyebabkan gelombang tinggi seperti sekarang ini.
“Biasanya kalau musim angin barat ini, bisa sampai bulan Februari – Maret. Info dari BMKG juga seperti itu, gelombang tinggi ini bisa berlangsung hingga Februari 2021 mendatang. Tentu ini merugikan kita, nelayan tidak bisa melaut, sedangkan kebutuhan jalan terus, tetap makan, bayar listrik dan lainnya,” imbuhnya.
Terpisah, Kepala BMKG Ahmad Yani Semarang, Sutikno, saat dihubungi juga membenarkan, bahwa saat ini kondisi cuaca sedang tidak bagus.
Dijelaskan, dari analisis kondisi dinamika atmosfer menunjukkan adanya zona Intertropical Convergence Zone (ITCZ), yaitu daerah pertemuan angin pasat dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan di sekitar wilayah Jateng.
“Kondisi ini diperkirakan masih akan bertahan hingga beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut didukung dengan massa udara yang labil, serta kelembapan udara yang cukup tinggi dari lapisan bawah hingga lapisan atas, sehingga mendukung proses pembentukan awan hujan di Jateng,” tambahnya.
Tidak hanya itu, BMKG juga sudah mengeluarkan peringatan terkait adanya aktivitas pasang laut, kondisi gelombang tinggi, hingga curah hujan yang mempengaruhi dinamika pesisir di wilayah pantura Jateng, termasuk di Kota Semarang.