Tumpang Sari Maksimalkan Hasil Pada Lahan Pertanian di Lamsel
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Pengelolaan lahan pertanian secara tumpang sari atau polikultur terus diterapkan petani di Lampung Selatan. Sistem tersebut dinilai efektif memberi keuntungan.
Rotijah, petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan menyebutkan, saat musim kemarau ia masih bisa memanen pisang dan kelapa. Dua komoditas pertanian itu ditanam pada lahan jagung yang baru bisa ditanami saat musim penghujan.
Hasil jual pada tanaman pisang dan kelapa sebutnya mencapai puluhan kuintal dan ratusan butir. Tanaman pisang berbagai varietas meliputi kepok, janten, raja nangka dan muli dijual sistem timbangan, per kilogram mulai Rp2.000 hingga Rp3.000. Sementara kelapa dijual sistem butir Rp2.500 per butir.
“Waktu tanam jagung dari proses penebaran benih hingga pemanenan sekitar empat bulan, selama waktu menunggu bisa melalukan pemanenan pisang dan kelapa, sistem tumpang sari tersebut telah dijalankan sejak puluhan tahun silam,” terang Rotijah saat ditemui Cendana News, Senin (7/12/2020)
Penerapan sistem tumpang sari sebutnya berpotensi menngurangi kerugian. Saat penanaman jagung dengan penggunaan pupuk Urea, NPK,SP-36 bisa menguntungkan tanaman lain. Saat alami gagal panen ia masih bisa mendapat hasil dari tanaman kelapa dan pisang. Keberadaan kedua tanaman tersebut jadi peneduh tanaman jagung pada masa pertumbuhan.
Ratijo, petani di desa yang sama menyebut sistem tumpang sari memberi hasil berlipat. Petani penanam pisang dan jagung itu menyebut membagi empat hektare lahan miliknya. Sistem pengaturan jarak tanam jadi solusi untuk memaksimalkan lahan.
“Tingkat kerapatan tanaman dengan pembuatan alur atau guludan efektif memaksimalkan lahan sehingga semua tanaman bisa tumbuh,” terangnya.

Ratijo bilang memanfaatkan pupuk kompos kotoran ternak untuk tanaman pisang dan kelapa. Ia bisa memanen ratusan tandan jenis muli dan kepok. Jenis muli yang dikenal pisang dua pekan bisa dipanen dalam waktu singkat.
Panen kelapa saat jagung masih berusia satu bulan dilakukan oleh Ahmad, petani di Desa Kelaten. Pola penanaman kelapa pada tepi lahan menghindari kerusakan oleh aktivitas panen.
“Agar lebih cepat mendapat hasil saya memanen kelapa muda dibandingkan menunggu hingga tua,” cetusnya.
Panen kelapa muda yang menghasilkan sekitar jutaan rupiah bisa digunakan untuk membeli pupuk. Sistem subsidi silang dari hasil pertanian lain membuat ia bisa meminimalisir utang. Sebab selama ini petani kerap terjebak hutang bibit, pupuk dan obat obatan.