Pemindahan TPA Sampah di Pelabuhan Bakauheni, Kurangi Polusi

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Aroma tidak sedap dan lalat beterbangan pada tempat pembuangan sampah tepat di tepi Jalan Lintas Sumatera tercium pengendara yang melintas. Saat musim penghujan aroma busuk semakin bertambah dan air lindi sampah mengalir ke sungai. Dipindahnya lokasi tempat pembuangan sampah berasal dari kapal ferry di Pelabuhan Bakauheni disambut positif oleh warga.

Pemindahan lokasi  ke tempat berbeda tepatnya di Dusun Cilamaya dari semula di Dusun Gubuk Seng, memberi dampak bagi warga. Robiin, salah satu warga di Dusun Gubuk Seng menyebut dampak lokasi pembuangan akhir sampah dirasakan warga. Aroma busuk yang muncul dan asap saat proses pembakaran sampah kerap mencemari kualitas udara.

Usulan untuk pindah lokasi sebut Robiin telah disampaikan melalui pemerintah desa hingga kecamatan. Kendala sewa lahan pada satu lokasi yang dekat dengan perumahan warga membuat kepindahan lokasi baru tempat akhir pembuangan sampah bisa dilakukan beberapa bulan silam. Warga mulai lega dengan berkurangnya potensi polusi udara dan pencemaran air.

“Sampah yang dibuang dari kapal meski dalam kemasan plastik kerap masih dibongkar oleh pencari sampah, saat mulai membusuk aromanya menyebar mengundang lalat beterbangan, sejumlah warung makan terpaksa tutup karena banyaknya lalat yang menghinggapi makanan, air sungai juga tercemar,” cetus Robiin saat ditemui Cendana News, Rabu (2/12/2020).

Robiin, salah satu petani di dekat tempat pembuangan akhir Gubuk Seng menyambut positif pindahnya lokasi pembuangan sampah dari kapal mengurangi dampak aroma busuk dan tempat berkembangnya lalat buah pengganggu tanaman, Rabu (2/12/2020). -Foto Henk Widi

Robiin menambahkan selain menimbulkan polusi udara,air keberadaan tempat pembuangan akhir sampah menggangu petani. Penanam sayuran tomat,cabai dan labu madu itu ikut terpengaruh lokasi pembuangan sampah. Ketika musim berkembang biak lalat akan menggunakan media buah untuk meletakkan telur. Imbasnya buah menjadi busuk dan panen kerap gagal.

Dampak langsung bagi petani imbas lokasi tempat pembuangan akhir sampah berujung kerugian. Belum adanya sistem pengolahan sampah berimbas pemilahan dilakukan secara manual. Sampah berpotensi untuk daur ulang sehingga bisa dijual kembali meliputi botol,gelas plastik bekas minuman. Sisanya dibiarkan membusuk dan hanya dibakar.

“Pemusnahan sampah memakai sistem pembakaran terbuka justru menambah masalah polusi udara,” bebernya.

Ia mengaku berkurangnya pencemaran udara dan air bisa terjadi saat lokasi pembuangan akhir sampah berpindah. Tata kelola sampah agar tidak terbuang di Sungai Kubang Gajah tepat di lokasi pembuangan sampah baru juga harus diperhatikan. Sebab persoalan pencemaran air berpotensi terjadi saat musim penghujan ketika sampah terbawa aliran sungai.

Hariyati, pengepul sampah di Dusun Cilamaya menyebut pemindahan lokasi ikut mengubah pola pembuangan sampah. Berkurangnya sampah kapal selama masa pandemi Covid-19 sebutnya mendukung pemilahan sampah. Jenis sampah makanan sisa kerap dimanfaatkan sebagai pakan ternak babi, itik dan ayam. Sampah plastik yang bisa didaur ulang selanjutnya bisa dijual.

“Lokasi pembuangan sampah kering dan basah telah dipisah sehingga potensi pencemaran bisa diminimalisir karena pemilahan sampah lebih bagus,” terang Hariyati.

Selain mendapatkan hasil mingguan, setiap hari Hariyati bisa mendapat puluhan ribu. Sebab nasi sisa dan makanan dari kapal bisa dijual kepada peternak dengan harga mulai Rp1.000 per kilogram. Sementara sampah plastik bernilai jual akan dijual saat kuota mencapai puluhan kuintal. Harga plastik botol, gelas dijual mulai Rp2.000 hingga Rp3.000 termasuk kertas kardus dan kaleng.

Warsa, ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) mengaku menggandeng pihak ketiga. Pembersihan sampah pada semua kapal di lintas Selat Sunda sebutnya telah diserahkan pada petugas khusus. Terkait lokasi pembuangan akhir sampah ia menyebut jadi kewenangan pihak ketiga.

Selama ini sampah dari kapal dan pelabuhan yang dibersihkan untuk meminimalisir pencemaran laut. Setiap kapal wajib memiliki tempat sampah dan kantung plastik. Cara tersebut memudahkan kendaraan pengangkut sampah untuk memindahkan ke tempat pembuangan sampah. Pemilahan sampah dengan prosedur benar akan meminimalisir pencemaran bagi lingkungan.

Lihat juga...