Petani Lamsel Tetap Gunakan Insektisida untuk Minimalisir Hama Wereng

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sejumlah petani di Lampung Selatan (Lamsel) masih memanfaatkan zat kimia untuk pengendalian hama. Legiman, salah satu petani pemilik lahan tanaman padi di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut masih memakai insektisida, herbisida, fungisida dan pestisida. Meski berefek kepada polusi lingkungan, cara tersebut tak terhindarkan.

Proses pengendalian OPT memakai bahan kimia diakuinya lebih efesien, cepat dan tuntas. Paham akan efek iritasi kulit, mata, hidung dan gangguan lain, ia kerap memakai masker dan pakaian pelindung lengkap. Sebagian limbah berupa botol, kemasan dan juga residu air sisa penyemprotan kerap dibuang pada lahan sawah.

“Saat ini sedang ada peningkatan populasi hama wereng, pengendalian hama terpadu secara biologis tidak mampu meminimalisir serangan sehingga memakai insektisida agar produksi padi tidak terganggu,” terang Legiman saat ditemui Cendana News, Rabu (23/9/2020).

Membersihkan sisa pestisida yang berpotensi membahayakan ia akan langsung mandi. Pembersihan alat yang digunakan untuk menyemprot dan mengumpulkan kemasan dilakukan agar tidak terbuang di sungai. Sebab selama ini pencemaran sungai oleh limbah kemasan bahan kimia kerap terjadi. Limbah botol plastik, kaleng kerap menumpuk di bendungan imbas tidak dikumpulkan.

Penggunaan bahan kimia untuk memusnahkan hama wereng juga dilakukan oleh Iis Sumaryanto. Warga Desa Pasuruan itu menegaskan tidak ada pilihan lain untuk pengendalian hama.

Ia mengaku paham terkait bahaya penggunaan bahan kimia jenis insektisida. Hama wereng atau Siphanta acuta sebutnya alami peningkatan populasi imbas perubahan cuaca.

“Saat ini musim kemarau namun ada curah hujan berimbas pada kerusakan tanaman padi oleh hama wereng,” paparnya.

Wereng hijau atau Nephotettix virescens menghisap cairan tanaman daun padi mengering. Hama mulai menyerang dari fase pembibitan hingga pembentukan malai. Sebagai cara antisipasi populasi tidak meluas, ia memakai insektisida aktif meliputi Etofenproks, Imidakloprid dan Sitox.

Iis Sumaryanto menyebutkan, pengendalian biologis memakai berbagai tanaman refugia belum efektif. Meski penggunaan bahan kimia dianjurkan untuk dikurangi, ia menyebut langkah tersebut dilakukan menghindari kerugian akibat produksi menurun.

“Bahaya pemakaian insektisida bisa kami atasi dengan pembersihan badan, membuang limbah ke tempat yang aman,” cetusnya.

Meski tetap memakai insektisida, Iis Sumaryanto mengaku mencoba menggunakan bahan organik. Penggunaan bahan organik memakai bahan dari daun sirsak, daun mindi, sereh yang difermentasi menjadi cairan.

Lihat juga...