Pengamat: Penghapusan Mapel Sejarah Harus Dikaji

Editor: Koko Triarko

Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji, saat dihubungi, Minggu (20/9/2020) – Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA – Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang ingin menghapuskan pelajaran sejarah dari kurikulum SMK, dan menjadikannya sebagai mata pelajaran pilihan di SMA, menimbulkan pro dan kontra dari para pengamat pendidikan.

Rencana perubahan kurikulum pendidikan sejarah di SMA/SMK tersebut tertuang dalam draf sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional tertanggal 25 Agustus 2020, yang merupakan hasil kerja dari tim Kemendikbud untuk menyederhanakan kurikulum dan asesmen nasional.

Pengamat Pendidikan, Indra Charismiadji, menyatakan saat ini adalah era pelajaran yang terpadu atau yang lebih dikenal dengan sebutan STEAM atau STEM.

“Maksudnya, pelajaran sejarah itu harus terintegrasi dengan mata pelajaran-mata pelajaran lain dan bentuknya project, atau problem based learning,” kata Indra, saat dihubungi Minggu (20/9/2020).

Ia menyatakan, bahwa dalam mempelajari sejarah tidak harus dalam bentuk mata pelajaran (mapel) tersendiri. “Tapi, tentunya ini harus dilakukan kajian akademis terlebih dahulu. Untuk memastikan, bahwa kebijakan ini memang selaras dengan upaya perubahan kurikulum menuju STEAM,” ujarnya.

Komisioner Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti, saat dihubungi, Minggu (20/9/2020). –Foto: Ranny Supusepa

Usulan serupa, menurut Indra pernah diajukan juga oleh Kemendikbud pada Juli 2020 lalu. “Ini sudah yang ke dua kali. Juli lalu kan kurikulum SD, mau menggabungkan mapel agama dengan PKN,” ujarnya.

Indra menegaskan, bahwa kajian akademis tetap harus dilakukan sebelum melakukan penerapan perubahan kurikulum.

“Ini kan Kemendikbud, ya harus melakukan kajian akademis. Harus segera dilakukan dan beberapa bulan cukup kok untuk melakukan kajiannya,” tandasnya.

Sementara, Komisioner Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, menilai upaya Kemendikbud untuk melakukan penyederhanaan materi kurikulum dengan menempatkan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di SMA, bahkan menghilangkannya di SMK, adalah tidak tepat.

“Semua anak, baik di jenjang SMA atau pun SMK berhak mendapatkan pembelajaran sejarah dengan bobot dan kualitas yang sama. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Bagaimana mau menghargai kalau pelajaran tersebut tidak diberikan?” kata Retno, saat dihubungi terpisah.

Nilai-nilai yang dipelajari dalam sejarah bangsa, lanjutnya, merupakan nilai karakter nyata dan teladan bagi generasi muda. “Pembelajaran sejarah juga dapat meningkatkan apresiasi terhadap karya para pendahulu, memberikan perspektif dan ukuran untuk menilai perjalanan bangsa,” ujarnya.

Tapi, ia mengakui bahwa memang perlu perubahan dalam muatan-muatan kurikulum sejarah dan materi pelajaran sejarah yang harus diperbaiki, begitu pun metode pembelajaran sejarahnya.

“Mumpung Kemdikbud sedang menyederhanakan kurikulum. Jadi, bisa melakukan perubahan,” ucapnya.

Seperti kurikulum sejarah Indonesia didominasi oleh sejarah perang dan kekerasan, mulai dari Perang Bubat, Perang Diponegoro, Perang Padri, Perang Jawa, Perebutan tahta Singosari Ken Arok, dan lain-lain.

“Barangkali ini perlu diperbaiki, agar generasi muda tidak salah menafsir, seolah-olah sejarah bangsa kita penuh kekerasan sehingga nantinya dicontoh oleh generasi berikutnya. Dikhawatirkan generasi mudanya akan menyelesaikan masalah dengan kekerasan bukan dengan dialog. Padahal, pembelajaran sejarah sejatinya dapat menjadi  instrumen strategis untuk membentuk identitas dan karakter generasi muda, sebagai penerus bangsa,” urai Retno.

Selain itu, Retno juga menyatakan kurikulum sejarah juga didominasi oleh sejarah Jawa dan kurang memberikan tempat sejarah wilayah lain.

“Sehingga, anak Papua, anak Aceh, Anak Kalimantan, Anak Sulawesi, Anak Sumatera, dan lain-ain  belajarnya sejarah Jawa, padahal daerahnya juga memiliki sejarah yang layak dipelajari anak bangsa ini,” ujarnya.

Dan, menurutnya, pembelajaran sejarah oleh para guru selama ini memang cenderung hafalan, bukan pemaknaan dan esensi nilai-nilai apa saja dari suatu peristiwa sejarah tersebut bagi perjalanan bangsa, dan bagaimana peristiwa buruk bisa menjadi pembelajaran yang tidak boleh terulang di kemudian hari.

“Selama ini, pembelajaran sejarah cenderung membosankan bagi anak-anak, karena hanya hafalan seputar apa kejadian, di mana kejadiannya, siapa saja tokoh sejarahnya, kapan terjadinya dan di mana kejadiannya. Bagaimananya dari peristiwa sejarah itu jarang digali dan didalami melalui dialog. Kalau hafalan, cenderung mudah dilupakan dan tidak dipahami makna suatu peristiwa sejarah,” pungkasnya.

Lihat juga...