Polikultur Jadi Konsep Pengelolaan HKm di Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Pengelolaan hutan kemasyarakatan (Hkm) di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) mengedepankan prinsip konservasi berkelanjutan. Polikultur salah satunya jadi pilihan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan hutan agar bisa mendapat sumber ekonomi sekaligus menjaga hutan.

Wahyudi Kurniawan, Kepala UPT KPH XIII Gunung Rajabasa, Way Pisang, Batu Serampok saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (19/8/2020). Foto: Henk Widi

Wahyudi Kurniawan, Kepala UPT KPH XIII Rajabasa-Way Pisang-Batu Serampok menyebutkan, sistem polikultur jadi sumber penghasilan bagi petani pengelola hutan. Berkonsep pertanian tumpang sari konservasi tanaman kayu penghasil buah memiliki fungsi sebagai penyedia air. Sejumlah pohon kayu tersebut menjadi rambatan jenis tanaman lada, cabe jawa. Jenis kayu penghasil buah produktif memungkinkan pohon tidak ditebang.

“Petani di kawasan hutan kemasyarakatan dianjurkan menanam berbagai jenis pohon kayu penghasil buah produktif yang menghasilkan secara ekonomis tanpa merusak fungsi ekosistem hutan,” terang Wahyudi Kurniawan saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (19/8/2020).

Jenis tanaman produktif yang kerap dibudidayakan pada hutan kemasyarakatan menurutnya dominan kopi. Tanaman tahunan tersebut cocok dikembangkan pada kawasan hutan dengan berbagai jenis tanaman peneduh.

Petani penanam kayu di kawasan HKM menurutnya dianjurkan untuk tidak melakukan penebangan kayu produktif. Sejumlah tanaman kayu keras bisa memiliki fungsi untuk menjaga mata air seperti tanaman damar yang menghasilkan gubal.

“Menghasilkan getah damar tanaman tersebut memiliki perakaran yang kuat untuk menjaga konsevasi air,” bebernya.

Pilihan tanaman kopi menurutnya cukup tepat karena tanaman tersebut butuh pelindung alami. Tanaman bertajuk tinggi akan menjadi pelindung alami bagi tanaman kopi. Jenis kopi arabica dengan biji yang dikembangkan bisa menghasilkan rata rata satu ton pada satu hamparan dengan tanaman lebih dari 500 batang

“Tanaman kopi yang lama bisa diregenerasi sehingga bisa tetap memiliki perakaran yang kuat,” bebernya.

Hartanto, pemilik tanaman kopi di kaki Gunung Rajabasa menyebut konservasi hutan kemasyarakatan sangat penting. Berada di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan penanaman kopi yang dilakukan bersama pohon kayu keras tetap dilestarikan. Sosialisasi menjaga kawasan hutan dengan tetap melestarikan tanaman produktif dilakukan dengan menanam pohon buah produktif.

“Pohon kayu produktif yang saya tanam jenis jengkol, kopi, petai, nangka dan tanaman buah lain diselingi pohon sengon yang bisa dipanen,” terang Hartanto.

Hasil panen kopi robusta jadi sumber penghasilan. Saat panen kopi ia bisa menjualnya dalam kondisi kering dan bubuk yang telah digiling.

Fauzi, salah satu petani di dekat kawasan hutan menyebut polikultur atau dikenal dengan tumpang sari. Lada dan kopi jadi pilihan tanaman yang dikembangkan bersama jenis tanaman keras lainnya. Komoditas pertanian yang menghasilkan secara ekonomis menurutnya sangat cocok dikembangkan pada kawasan hutan kemasyarakatan.

Lihat juga...