Petik Merah, Cara Petani Kopi di Lamsel Jaga Kualitas Buah
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Masa pemanenan kopi jenis arabica (coffea arabica) mulai berlangsung sejak awal Agustus silam di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan. Petani dominan lakukan sistem petik merah untuk menjaga kualitas yang dihasilkan.
Zainal Abidin, petani kopi menyebutkan, sistem tersebut dilakukan dengan memetik buah kopi yang telah matang ditandai kulit berwarna merah. Masa berbunga kopi yang tidak seragam membuat petani bisa panen bertahap.
Sejak awal Juli bagian ranting tanaman mulai berbunga, sebagian telah berbuah. Memasuki Agustus buah mulai menguning dan merah. Dalam satu pohon bisa memanen sekitar 200 hingga 500 gram kopi basah. Usai dipanen kopi akan dijemur hingga kering.
“Penanganan pra dan paska panen buah kopi menentukan kualitas, lokasi kebun di kaki Gunung Rajabasa yang juga masih kerap ada hama tupai dan luwak bisa menjadi musuh alami namun bisa memberi nilai tambah dengan membuat kopi luwak,” terang Zainal Abidin saat ditemui Cendana News, Senin (24/8/2020).
Tanaman kopi arabica yang dimiliki oleh Zainal Abidin menurutnya dominan telah berusia puluhan tahun. Sistem regenerasi dengan sambung pucuk dilakukan agar tanaman tetap produktif.
Pemilihan buah hanya yang telah memiliki warna kulit merah menjadi cara menjaga kualitas kopi.
“Usai dipanen kopi petik merah akan dijemur selama tiga hingga empat hari lalu akan dikupas,” terangnya.
Proses pengupasan kulit kopi akan dilakukan menggunakan alat penumbuk khusus, selanjutnya akan disangrai memakai bahan bakar kayu. Cara tersebut akan menghasilkan biji kopi yang memiliki aroma khas. Terlebih kualitas kopi petik merah memiliki tingkat kematangan buah yang sempurna.

Hasil kopi sangrai biji petik merah masih akan disortir sesuai ukuran. Biji kopi arabica yang kecil akan langsung dihaluskan menjadi bubuk. Sebagian biji yang memiliki ukuran sedang hingga besar akan dijual ke sejumlah cafe dan warung kopi. Hasil sangrai biji kopi akan memiliki nilai jual lebih tinggi. Saat kondisi kering panen harga kopi mencapai Rp22.000 per kilogram. Saat disangrai bisa mencapai Rp60.000 per kilogram.
Tren minum kopi dan munculnya sejumlah cafe kopi membuat kopi arabica yang ditanam petani kembali menghasilkan. Permintaan kopi dalam bentuk biji sangrai menurutnya bisa mencapai satu kuintal per bulan. Sebagai stok untuk memenuhi kebutuhan cafe ia memilih menyimpan biji kopi dalam wadah kedap udara. Biji kopi akan bertahan hingga setahun sehingga bisa dijual kapanpun.
Hendrik, barista di gerai Dekranasda Lamsel yang menyediakan menu kopi mengaku memakai bahan baku hasil panen petani di wilayahnya. Meski saat ini tren minum kopi mendorong minat kopi asal berbagai daerah di Indonesia ,kopi Lamsel cukup diminati.
“Biji kopi yang telah disangrai bisa disimpan dalam waktu lama dan akan lebih praktis, sebagian dijual dalam bentuk kopi bubuk dalam kemasan,” cetusnya.
Hasil panen kopi petik merah menurutnya berasal dari petani di kaki Gunung Rajabasa dan sejumlah penghasil kopi Lamsel. Berbagai jenis kopi tersebut bisa menjadi sumber penghasilan petani yang melakukan pengolahan biji kopi menjadi produk siap jual. Ade Eka, salah satu pecinta kopi membeli hasil panen petani asal Kecamatan Rajabasa. Satu kemasan kopi bubuk 50 gram dibeli seharga Rp50.000.