Lasry, Pelajar Asal Pessel Sumbar yang Dihantarkan dengan Gerobak ke Sekolah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PESISIR SELATAN — Kekurangan yang dialami oleh Lasry, seorang siswi kelas IV Sekolah Dasar Negeri 15 Sungai Nyalo Kecamatan Koto XI Tarusan Pesisir Selatan, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap melanjutkan sekolahnya.

Lasry bisa dikatakan anak yang mengalami gangguan pada bagian kakinya, sehingga sulit baginya untuk menggunakan kaki untuk beraktivitas. Di sini, ia dibantu oleh ibunya untuk bisa sampai ke sekolah.

Mengingat Lasry berasal dari keluarga yang kurang mampu, sehingga sang ibu tidak memiliki kendaraan yang lebih layak digunakan, selain menghantarkan Lasry dengan menggunakan gerobak.

Hal yang dilakukan oleh sang ibu ini, terbilang cukup menyentuh hati. Sebab di zaman sekarang, ternyata masih saja ada keluarga yang melakukan hal-hal yang mungkin sudah tak biasa. Namun dikarenakan persoalan ekonomi, ibu dari Lasri memilih untuk menggunakan gerobak mengantarkan anaknya ke sekolah.

Tak banyak yang terucap dari mulut ini saat melihat seorang ibu saat mendorong anaknya untuk sampai ke sekolah. Ketika ditanya pun, sang ibu ini hanya mengucapkan kata-kata yakni ada rasa sedih, haru, dan ada rasa bahagianya.

“Harus bagaimana lagi, saya lihat Lasry tetap semangat untuk tetap ke sekolah. Saya pun turut bersemangat, meskipun hanya menggunakan gerobak seperti ini,” kata ibu dari Lasry, yang tidak mau menyebutkan namanya, Kamis (20/8/2020).

Di Sekolah Dasar Negeri 15 Sungai Nyalo, proses belajar tatap muka dilakukan secara bergantian, terkadang dilakukan secara daring. Begitu juga pada hari ini Kamis (20/8) dimana libur sekolah, sehingga Lasry bisa beristirahat di rumah.

Kini di tengah ketidakberdayaan ekonomi orang tua, sang ibu ini dengan tenaga yang masih tersisa, ia mendorong gerobak tua yang beralas kain untuk menghantarkan anaknya ke sekolah dengan jarak sekolah lebih kurang lebih 2 kilometer.

Tidak dapat dibayangkan, bagaimana penatnya yang dirasakan oleh ibu dari Lasry ini, untuk mendorong gerobak sampai sekolah dengan jarak yang tidak begitu dekat. Tapi hal itu tak sedikitpun menyulutkan semangat ibu dan anak ini untuk mengecap bangku pendidikan.

Haru, tentu saja, karena melihat semangat dan senyum dari wajah Lasry yang bagus menandakan dia adalah anak yang gigih dan bersemangat untuk belajar. Bicara soal sedih, bepatapa tidak, coba bayangkan, melihat kondisi Lasry duduk di bangku kelas empat tersebut, berjuang untuk pendidikannya.

Lasry yang ketika ditanya, mengatakan bahwa ia memiliki keinginan dan harapan yang sangat besar untuk bisa mengecap pendidikan di tengah keterbatasan fisik seperti itu.

Ia juga tidak mempersoalkan apa yang telah diperjuangkan oleh ibunya itu, dan cara yang digunakan seperti gerobak, bukanlah hal yang harus dipermasalahkan. Baginya, asalkan sang ibu mendukung dirinya, adalah sebuah rasa semangat yang paling dibutuhkan saat ini.

“Saya senang ibu bisa menghantarkan saya ke sekolah. Saya senang berada di sekolah, banyak kawan-kawan dan saya senang bisa ke sekolah,” kata Lasry.

Perjuangan dan rasa semangat yang ditunjukan oleh Lasry, patut menjadi perhatian bersama, termasuk bagi pelajar yang terbilang memiliki fisik yang lebih baik. Kekurangan fisik bukanlah menjadi alasan untuk terus bisa belajar ke sekolah bersama anak-anak lainnya.

Lihat juga...