Dishut Sumbar Hijaukan Bukit Nobita
Editor: Koko Triarko
PADANG – Dinas Kehutanan Provinsi Sumatra Barat terus berupaya untuk melakukan penghijauan di kawasan-kawasan yang dinilai sebagai tempat bekas terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatra Barat, Yozarwardi, mengatakan, ada salah satu kawasan perbukitan di Kota Padang yang sering dilanda kebakaran hutan dan lahan.
“Tempat itu disebut Bukit Nobita, terletak di Kelurahan Kampung Jua, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang,” katanya, Rabu (19/8/2020).
Sesuai namanya, Bukit Nobita, saat berada di atas puncak bukit ini, pemandangan yang terlihat adalah hamparan Kota Padang. Lebih menakjubkan lagi, bila hamparan Kota Padang tersebut dilihat di malam hari. Maka, jelas terlihat seperti dalam film kartun Doraemon, yakni di sebuah bukit di belakang sekolah Nobita.
Namun sayangnya, di kawasan perbukitan itu terbilang rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Sehingga, tak aneh bila berada di atas puncaknya itu banyak melihat sejumlah titik tidak lagi ditumbuhi kayu maupun rumput yang lebat.
“Melihat hal itu, kita di Dishut melakukan penanaman pohon buah. Dengan harapan pohon itu dapat memberikan suasana hijau kembali, serta tanaman itu dapat pula memberikan banyak manfaat bagi orang yang datang ke Bukit Nobita,” katanya.
Ia mengaku, salah satu alasan Dinas Kehutanan melirik Bukit Nobita untuk melakukan penanaman pohon, karena dukungan kepada seluruh Civitas Alumni Semen Padang dan Anggota Karang Taruna setempat, yang rata-rata dari generasi muda milenial.
Atas ide dan gagasan mereka untuk melaksanakan penanaman pohon, Dishut berharap dapat memberikan pemahaman, bahwa pohon yang ditanam saat ini akan berbuah kebaikan bagi masyarakat dan lingkungan. Untuk itu, kegiatan semacam ini agar terus dikembangkan dan jangan berhenti sampai saat acara seremonial penanaman.
“Saya berharap, hal ini tidak hanya sekadar seremonial saja, tapi dapat dilanjutkan pada tahap pemeliharaan dan perlindungan dari ancaman kerusakan, terutama bahaya kebakaran. Karena lokasi Bukit Nobita sejauh ini sudah terpetakan sebagai kawasan yang rawan bencana kebakaran hutan dan lahan,” ujar dia.
Ia melihat, kawasan Bukit Nobita bisa saja ke depan dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasiskan Agrowisata dan Ekowisata, dan Dinas Kehutanan, melalui KPHL Bukit Barisan.
“Saya rasa jika hal itu terwujud, KPHL Bukit Barisan akan memberikan dukungan untuk pengembangannya. Karena dengan demikian, dapat mewujudkan hutan dan pegunungan menjadi hijau dan indah, serta tidak lagi menjadi lokasi rawan kebakaran hutan dan lahan,” harap dia.
Salah seorang warga setempat, Erel, mengaku di Bukit Nobita atau di Bukit Batu Jarang itu, memang sering terjadi kebakaran hutan dan lahan. Bila cuaca lagi panas dan hujan sudah lama tidak turun, Bukit Nobita tiba-tiba akan terlihat muncul api.
“Di sana memang ada perkebunan masyarakat. Tapi, tidak berada di kawasan terjadi kebakaran itu. Saya tidak tahu pasti penyebab, yang jelas kawasan Bukit Nobita benar cukup sering terjadi kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.
Erel mengatakan, pada 2015 Bukit Nobita mendadak viral dan mengundang banyak perhatian masyarakat. Tapi sejak banyaknya aktivitas masyarakat, bisa dikatakan tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan. Bahkan, ketika masyarakat sudah tidak lagi naik ke atas, tiba-tiba terjadi kebakaran.
“Jadi, memang tidak bisa diketahui penyebab kebakaran hutan dan lahan di sana. Kami sering memperhatikan itu, bila cuaca lagi panas dan berlangsung lama tanpa turun hujan, siap-siap akan muncul percikan api di atas bukit itu. Damkar pun langsung turun,” sebutnya.