UMKM di Purbalingga Terdampak Pandemi Covid-19
Editor: Makmun Hidayat
PURBALINGGA — Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Purbalingga sangat terdampak oleh pandemi Covid-19. Di mana omzet penjualan menurun akibat permintaan yang terus merosot.
Kabid UMKM Dinkop UKM Kabupaten Purbalingga, Adi Purwanto mengatakan, sebagian besar UMKM terutama industri makanan, minuman dan kerajinan sangat terdampak. Namun ada UMKM yang justru meningkat yaitu sektor konveksi.
“Kalau sektor konveksi ini banyak yang berinovasi dengan memproduksi masker atau pun Alat Pelindung Diri (APD) seperti baju hazmat yang menjadi kebutuhan selama pandemi ini, sehingga penjualan mereka justru meningkat,” terangnya, Selasa (7/7/2020).

Meskipun begitu, UMKM di Purbalingga tidak lantas terpuruk, menurut Adi, mereka juga berupaya melakukan inovasi. Seperti yag dilakukan salah satu usaha koktail di Purbalingga. Masa pandemi ini dimanfaatkan dengan memperbaharui kemasan produk.
“Usaha koktail Nanasqu Purbalingga ini patut dicontoh, mereka sedang melakukan inovasi pengemasan produk yang sebelumnya menggunakan plastik biasa, sekarang akan dibuat dengan kemasan kaleng, bahkan mereka melibatkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yogyakarta untuk melakukan pengujian koktail ini bereaksi terhadap kaleng atau tidak dan tahan dalam waktu berapa lama,” tuturnya.
Pihak LIPI Yogyakarta, lanjutnya, juga sedang menguji kandungan gizi produk koktail tersebut, karena permintaan ekspor sudah mulai ada. Adi menyatakan, sebagian UMKM di Purbalingga sudah siap melakukan ekspor, hanya saja sebagian besar kendala yang dialami pada sistem pengemasannya. Sehingga mereka harus melibatkan pelaku usaha lain seperti perusahaan dari luar Purbalingga.
“Kendala kita memang dari sisi pengalengan. Sehingga pilihannya kita harus bekerja sama dengan LIPI atau PT Bams yang ada di Kabupaten Banjarnegara,” jelasnya.
Salah satu pelaku UMKM kuliner di Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga, Romlah mengatakan, ia memiliki usaha produk olahan makanan dari pepaya. Mulai dari manisan pepaya, dodol pepaya dan keripik. Namun, selama pandemi ini omzet penjualannya menurun dratis.
“Produksi saya memang belum begitu banyak, hanya untuk pasar lokal saja, tetapi sekarang sangat terdampak. Bahkan sempat tidak produksi karena penjualan merosot dan stok masih banyak. Kalau untuk produk makanan kan ada batas kedaluwarsanya, apalagi saya tidak menggunakan pengawet,” tuturnya.
Harga produk olahan pepaya yang diproduksi Romlah sebenarnya cukup terjangkau, untuk dodol pepaya misalnya dijual dengan harga Rp 30.000 per kilogram, manisan pepaya Rp 27.000 per kilogram dan keripik pepaya Rp 80.000 per kilogram. Disediakan juga kemasan yang lebih kecil, seperti 500 gram dan 250 gram. Namun menurutnya, daya beli masyarakat menurun, sehingga produk yang murah pun tidak terbeli.