Tingkatkan Pendapatan Petambak, KKP Dorong Diversifikasi Garam Rakyat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) mendorong pelaku usaha melakukan diversifikasi atau penganekaragaman produk garam sebagai upaya menuju kemandirian dalam meningkatkan kesejahteraan petambak garam.

Produksi garam rakyat sebagian besar masih berupa garam krosok dengan kandungan NaCl 88-92,5%. Garam tersebut digunakan untuk garam konsumsi atau pengawet produk UKM perikanan seperti ikan asin dan pindang. Sedangkan standar garam untuk kebutuhan industri harus memiliki kandungan NaCL di atas 96%. Sehingga butuh diversifikasi produk garam rakyat menjadi produk yang bernilai tinggi.

“Diversifikasi produk garam krosok ini, dapat menjadi alternatif ceruk pasar baru bagi garam lokal, di luar pasar garam industri,” terang Nilanto Perbowo, Direktur Jenderal PDSPKP, berdasarkan rilis yang diterima Cendana News, Jumat (17/7/2020).

Nilanto Perbowo, Direktur Jenderal PDSPKP, dijumpai Jumat (17/7/2020). – Foto: Dok KKP

Dikatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa garam krosok dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi karena mengandung berbagai kadar mineral yang berperan penting bagi kesehatan tubuh.

Sebagai contoh, sambungnya, kandungan mineral magnesium memiliki banyak manfaat diantaranya melembutkan dan menghaluskan kulit. Zat pengikat oksigen dan hemoglobin di dalam darah yang dapat memberikan sensasi relaksasi serta mengurangi stress saat berendam dengan larutan garam.

Ia mencontohkan kesuksesan pengembangan produk garam lokal diolah menjadi produk kesehatan dan kecantikan seperti yang dilakukan Septi Ariyani di Cirebon.  Kesuksesan Septi menunjukkan bahwa garam lokal bisa berdaya saing sekaligus berkompetisi dengan produk negara lain.

Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi KKP, Budi Sulistiyo, mengungkapkan potensi lain dari diversifikasi produk turunan garam yang bisa dikembangkan di antaranya garam atau bittern yang diolah menghasilkan magnesium ataupun perpaduan satu rangkaian produksi tambak garam dengan artemia.

“Sehingga bisa menjadi salah satu solusi kebutuhan pakan pada perikanan budidaya,” jelas Budi.

Diketahui sebagian besar produksi garam di Indonesia dihasilkan dari tambak rakyat yang berpusat di beberapa lokasi seperti Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan.

Proses Diversifikasi Cukup Sederhana

Septi Ariyani, pelaku usaha asal Cirebon, Jawa Barat , berhasil menangkap peluang tersebut dengan mengembangkan garam rakyat untuk kesehatan dan kecantikan yang dilabeli “Rama Shinta Rumah Garam Cirebon” produk relaksasi dengan bahan alami menggunakan garam lokal.

Dari inovasi tersebut, Rumah Garam Rama Shinta berhasil memproduksi 500 kg/hari atau rata-rata 10 ton per bulan.

“Proses pembuatannya terbilang sederhana, yaitu garam bahan baku dicampurkan dengan bahan pelengkap seperti essential oil dan perfume,” kata Septi saat menjadi salah satu pembicara webinar yang digelar oleh Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP).

Septi menyebut garam sudah kaya kandungan mineral seperti natrium, klor, kalsium, kalium, besi, iodium, mangan, tembaga, zink, kobalt, dan fluor yang bermanfaat sebagai hidrasi mineral.

Kandungan tersebut masuk melalui kulit saat tubuh berendam menggunakan air rendaman garam laut.

“Kandungan mineral yang terdapat dalam garam memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat menenangkan kulit, jerawat, iritasi, serta menyeimbangkan produksi minyak dan mempertahankan hidrasi,“ terang Septi.

Septi mengungkapkan, saat ini usahanya telah menghasilkan aneka produk garam kecantikan dan kesehatan antara lain face scrub, bath salt, body scrub, hair treatment, lulur mandi dan foot salt.

Adapun harganya bervariasi, seperti produk foot salt bisa laku seharga Rp50.000/kg, jauh di atas harga jual garam krosok yang hanya Rp500/kg. Keuntungan yang diperoleh pun bisa mencapai Rp34.500/kg.

“Produk yang kami hasilkan ada dalam bentuk suvenir, produk kecantikan dan garam spa. Pokoknya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki ada,” ujarnya.

Lihat juga...