‘Posyandu Mobile’ Terobosan di Tengah Pandemi Covid-19

JAKARTA – Kekhawatiran akan tidak tersedianya layanan kesehatan bagi anak, yang bisa mengakibatkan peningkatan stunting maupun wasting, mendorong para kader posyandu untuk berinovasi dengan melakukan pelayanan posyandu mobile

GM Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa, dr. Yeni Purnamasari, MKM., menyatakan masa pandemi Covid-19 yang membatasi kegiatan posyandu, baik dalam fungsi hingga ruang interaktif, menyebabkan kecemasan bagi ibu yang sedang hamil maupun yang memiliki anak balita.

“Mereka cemas karena tidak bisa melakukan pemeriksaan kehamilan dan pemantauan tumbuh kembang bagi anak balita,” kata Yeni saat dihubungi, Sabtu (25/7/2020).

Kondisi ini mendorong para kader posyandu dan kader kesehatan berpikir kreatif dalam menerapkan kehidupan sehat bagi masyarakat dan lingkungannya.

Ahli kesehatan dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung,  Dr. dr. Djatmika Setiabudi, Sp. A. (K)., MCTM., Trop. Ped.,  Sabtu (25/7/2020). –Foto: Ranny Supusepa

“Posyandu mobile merupakan salah satu langkah yang tepat di tengah pandemi Covid-19, sebagai bagian menjaga kesehatan bagi kelompok rentan, baik ibu hamil maupun anak-anak,” ucapnya.

Yeni menjelaskan, pelayanan yang dilakukan oleh program posyandu mobile adalah memberikan edukasi konseling menyusui dan pemberian makan bayi dan anak (PMBA), pendampingan intervensi gizi terpusat, praktek PMBA, pemberian makanan tambahan (PMT) Gizi Seimbang, pemantauan berkala bagi ibu hamil maupun anak-anak dan jejaring rujukan untuk tidakan selanjutnya.

“Selain mengadakan posyandu mobile, di dalam lingkup Kampung Cekal Corona yang terdapat di 8 Provinsi se-Indonesia, kami juga memberikan edukasi terkait ketahanan pangan keluarga seperti budi daya ikan dalam ember hingga bercocok tanam sayuran di lahan terbatas atau ruang terbatas di sekitar masyarakat tersebut, sehingga dapat dimanfaatkan dalam pemenuhan gizi keluarga di tengah pandemi Covid-19,” ucapnya lagi.

Kampung Cekal Corona yang dimaksud adalah Kampung Ciwaru, Serang, Banten; Kampung Tanjung Sayang, Cawang, Jakarta Timur; Kelurahan Pandang Panakukkang, Makassar, Sulawesi Selatan; Desa Lambang Jaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat; Pulau Nasi, Kabupaten Aceh Besar; Distrik Abepura, Jayapura, Papua; Desa Gili Gede Indah, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat dan Kelurahan Namoasi, Nusa Tenggara Timur.

“Selama pandemi Covid-19 ini, peran keluarga harus lebih intensif, terutama dalam membantu perkembangan anak. Adanya kebijakan Work From Home (WFH), menjadikan kedekatan orang tua dan anak, serta berperan penuh dalam memberikan asupan bagi pertumbuhan anak, hal yang perlu dicatat, yaitu pentingnya program gizi dengan protein hewani seperti ikan kembung, telur, tetelan daging dan ayam,” kata Yeni lebih lanjut.

Ia juga meminta agar masyarakat menghindari jajanan dari minimarket untuk menghindari anak obesitas dan tumbuh pendek, yang disebabkan dari kurangnya protein hewan.

“Dan, masyarakat juga tetap melakukan protokol kesehatan dan sekaligus melakukan pemantauan mandiri, sehingga jika ditemukan kendala akan cepat ditangani,” tandasnya.

Kekhawatiran akan potensi peningkatan prevalensi stunting dan wasting yang mengganggu pertumbuhan kembang anak juga diungkapkan oleh Ahli kesehatan dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung,  Dr. dr. Djatnika Setiabudi, Sp. A(K)., MCTM.,  Trop. Ped.

“Orang tua takut untuk membawa anaknya. Di sisi lain, ada juga pelayanan kesehatan yang melakukan pembatasan. Potensi penularan bisa terjadi pada anak, selama proses perjalanan ke lokasi pelayanan kesehatan,” kata Djatnika dalam kesempatan terpisah.

Sehingga, efek terbesar yang bisa dirasakan adalah pemantauan pada anak dan program imunisasi terhambat.

“Jika ini terjadi dalam waktu lama, artinya ada kemungkinan pada jangka panjang, akan terjadi penurunan kualitas kesehatan,” imbuhnya.

Sementara bagi anak yang memiliki riwayat penyakit, proses kontrol dan pengobatan juga akan terganggu.

“Data Kemenkes menunjukkan adanya penurunan imunisasi penta 1 dan 3 hingga 52 persen. Dan, ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh negara. Bayangkan, apa yang akan terjadi pada jangka panjang?” pungkasnya.

Lihat juga...