PAGI masih berkabut. Sisa hujan semalam masih terasa. Air masih menetes dari genting dan beberapa daun yang menimbulkan irama khas.
Pagi ini mestinya aku ditugasi menjemput beberapa tamu kantor. Sebagai seorang sopir kantor, salah satu tugasku adalah menjemput dan mengantar para tamu sebaik mungkin. Jarum jam dinding perlahan tapi pasti mendekati angka 6. Mestinya aku sudah bersiap melaksanakn tugas rutinku.
Seperti biasa, istriku juga sudah menyediakan sarapan lengkap dengan segelas kopi hangat. Aku belum berniat menyentuhnya. Aroma kopi biasanya mampu mendorongku untuk menyeruput.
Tapi tidak pagi ini. Ada keraguan bahkan kegalauan yang membekapku. Bahkan ada juga rasa khawatir yang nyaris menjadi rasa ketakutan. Bukan takut pada setan dan sebangsanya, bukan juga pada binatang buas atau pada manusia jahat.
Jujur, aku sendiri tidak tahu persis hal apa yang membuatku merasa demikian khawatir. Namun yang pasti, sekarang aku merasa khawatir bahkan takut bertemu orang yang baru kukenal.
Sebagai seorang sopir, aku biasa ditugasi menjemput tamu di bandara atau stasiun atau kantor lain dan mengantar sampai ke kantorku atau menemani ke manapun tamu ingin pergi. Dalam tugasku itu, tentu aku sering bertemu orang yang baru kukenal. Tamu kantorku memang relatif banyak dan berganti-ganti.
Kembali perasaan takut itu menghantuiku. Sebenarnya bagi orang lain, ketakutanku itu mungkin tidak beralasan bahkan seperti mengada-ada. Aku takut dengan suatu pertanyaan. Aku khawatir dengan satu kalimat tanya. Kalimat tanya? Ya, kalimat tanya. Aneh kan? Itulah masalahku sekarang.
Aku tidak menyentuh sarapan yang telah disediakan istriku. Pagi ini aku sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melahap sarapan yang sebenarnya merupakan masakan pesananku semalam. Pasti istriku kecewa. Bahkan kopi hangat yang biasanya tidak tersisa kali ini hanya kuseruput beberapa teguk saja.
Aku masih saja membayangkan kalimat tanya yang kukhawatirkan itu meluncur dari mulut tamu yang akan kujemput pagi ini. Sebenarnya aku bisa menjawab sekenanya atau aku bisa bohong atau justru kujawab apa adanya, tapi membayangkan kalimat tanya itu aku merasa sudah tak sanggup lagi.
***
BANDARA pagi ini sudah ramai. Orang sibuk berlalu lalang, datang dan pergi. Bahkan ada seorang perempuan yang tampaknya terburu-buru.
Diseretnya koper sembari berlari kecil. Keringatnya sudah membasahi sebagian tubuhnya tapi tetap tidak mengurangi kecantikannya. Aku berbegas menuju tempat penjemputan berjajar dengan para penjemput lain.
Segera aku bentangkan kertas kecil bertuliskan nama tamu yang kujemput yang memang sudah dipersiapkan oleh staf kantor. Tak membutuhkan waktu lama, seorang lelaki setengah baya yang pakaiannya rapi mendekat. Dan memang itulah tamu kantor yang kujemput pagi ini. Namanya Pak Budi, lengkapnya Drs. Budi Sumardi, M.Hum.
“Selamat datang di kota ini Bapak” sapaku setelah kami berada di mobil. Pak Budi belum menjawab. Beliau masih sibuk dengan gawainya. Mobil meluncur pelan keluar dari area parkir.
“Oh ya, terima kasih pak. Eh, siapa nama Anda?” jawab Pak Budi setelah meletakkan gawai di sebelahnya.
“Halim, Bapak” jawabku pendek. Aku tak berniat melanjutkan percakapan berikutnya. Sebagai sopir, aku biasanya memang lebih pasif dalam percakapan. Kalau ditanya saja aku baru menjawab, tapi kalau tidak ya aku pilih diam saja.
Tiba-tiba rasa khawatir yang sejak pagi tadi membelengguku muncul kembali. Rasa was-was jika ada pertanyaan dari Pak Budi tentang satu hal. Satu hal yang aku pasti gelagapan kalau menjawabnya. Mobil baru keluar dari bandara.
Itu berarti perjalanan masih cukup lama untuk sampai ke kantorku. Apalagi jam-jam seperti ini pasti di beberapa tempat agak tersendat.
“Pak Halim sudah lama bekerja di kantor itu?” Pak Budi memecah keheningan.
“Sudah Pak, sudah lama” aku menanggapi dengan rasa deg-degan. Aku merasa Pak Budi akan bertanya banyak hal tentang diriku. Rasa khawatir itu kian membuncah. Apalagi ketika Pak Budi sudah mulai bertanya tentang hal-hal yang menyangkut keluargaku.
Tiba-tiba aku merasa badanku tidak seenak tadi. Keringat dingin di beberapa bagian tubuhku mulai keluar. Jantungku berdetak lebih kencang. Duh Gusti, apa aku sudah mendekati gila ya? Hanya karena khawatir tentang satu kalimat tanya dari tamuku bisa membuatku tak berdaya seperti ini.
Gawai Pak Budi berbunyi. Aku lega. Semoga percakapan Pak Budi dengan orang di seberang agak lama. Syukur kalau sampai kantor Pak Budi masih berbicara dengan penelpon. Aku berusaha menenangkan diri. Kupacu mobil agak cepat mumpung jalan juga agak sepi.
“Nggak usah kencang-kencang, Pak Halim. Saya nggak terburu kok” Pak Budi mengingatkan sambil menyentuh bahuku pelan. Aku mengangguk.
Mungkin Beliau terganggu dengan goncangan dan suara menderu. Aku maklum karena memang Pak Budi sedang berbicara lewat telepon. Kembali mobil kujalankan dengan agak lambat. Sebenarnya aku sudah tak sabar ingin segera sampai kantor sebelum kalimat tanya itu keluar dari mulut Pak Budi.
Beberapa kali kudengar Pak Budi menyebut nama orang di seberang gawai dengan sapaan penuh kebapakan. Aku menduga orang yang tengah berbicara dengan Pak Budi adalah anaknya. Bahkan beberapa kali Pak Budi terkekeh penuh bahagia. Pada jeda lain Pak Budi juga memberi beberapa nasihat yang arif.
Tiba-tiba hatiku merasa hampa. Entahlah apa yang tengah kurasakan. Yang jelas ada perasaan kehilangan sesuatu yang demikian berharga yang sudah tidak mungkin kudapatkan lagi.
“Telepon dari anakku. Dia akan liburan di Indonesia” cetus Pak Budi memberi tahu tentang jati diri penelpon. Aku hanya mengganguk tanpa menoleh. Aku tidak ingin kegelisahanku diketahui Pak Budi. Mobil melaju pelan.
Dalam beberapa saat, mobil kuhentikan karena lampu lalu lintas berwarna merah. Seorang pengamen mendekatiku. Ia lantas menyanyikan sebuah lagu yang tidak jelas, juga petikan gitarnya. Aku masih diam.
Setelah satu lagu habis, pengamen itu memberi kode meminta uang. Aku masih membisu. Dengan mencibirkan mulut, pengamen itu pindah ke mobil lain.
Tiba-tiba suara klakson mobil belakang mengagetkanku. Tampaknya lampu sudah berganti menjadi hijau beberapa detik yang lalu tanpa kusadari. Ah, laju mobil masih separo perjalanan lagi. Kegelisahanku masih menggunung.
Pak Budi lantas bercerita tentang anaknya yang lain yang ada di Singapura, Medan, dan Jakarta. Bahkan Beliau juga bercerita tentang masa kuliah anak-anaknya, tentang kesuksesan dan tidak lupa tentang pekerjaan anak-anaknya sekarang.
Keempat anak Pak Budi semua bekerja di kantor yang sangat mapan. Ah, betapa bahagianya Pak Budi, pikirku.
Aku hanya mengangguk-angguk saja mengiyakan apa yang disampaikan Pak Budi. Kali ini aku memposisikan sebagai pendengar yang baik.
Pak Budi melihat jam tangannya. Ia masih tersenyum bangga setelah menceritakan kesuksesan anak-anaknya. Kulirik Beliau dari kaca spion dalam. Mukanya berseri-seri tanda Beliau sangat bahagia.
Hatiku kian hampa. Rasa khawatir yang menyelinap dari pagi tadi bahkan dari kemarin dan kemarin lagi masih bersemayam dalam diriku. Entahlah, sejak anakku tiada ada sesuatu yang membuat diriku gelisah jika bertemu orang baru.
“Anak Pak Halim berapa? Pasti juga sudah sukses hidupnya ya?” tanya Pak Budi membuyarkan lamunanku. Deg. Kalimat tanya yang tidak ingin kudengar akhirnya meluncur juga dari mulut tamu kantor kali ini. Aku masih diam, pura-pura tidak mendengar pertanyaan Pak Budi.
“Anak Pak Halim sudah bekerja?” pertanyaan itu diulang lagi dengan volume suara agak keras. Aku tidak mungkin lagi berpura-pura tidak mendengar. Aku tergagap. Ya betul-betul tergagap. Aku jadi ingat anak wedokku. Anak yang cantik seperti bidadari itu kini pasti sudah berada di suatu tempat yang sangat indah. Jujur, aku tak sanggup menjawab pertanyaan Pak Budi.
Sampai mobil yang kusetiri memasuki halaman kantor, pertanyaan Pak Budi belum juga aku jawab. Kuparkir mobil lantas Pak Budi kupersilakan turun. Ada tatapan aneh lelaki setengah baya itu yang sempat dialamatkan kepadaku. Tapi aku tak peduli. Ketakutanku terbukti juga. Kalimat tanya itu akhirnya memberondongku layaknya tembakan yang mematikan.
***
HARI berikutnya aku menghadap Direktur tempatku bekerja. Pak Direktur terkejut dengan kedatanganku pagi-pagi sekali. Pak Direktur juga baru sampai kantor. Bahkan Beliau belum sempat duduk di kursinya.
“Mohon maaf Bapak, pagi-pagi saya menghadap” sapaku membuka percakapan setelah beberapa saat Beliau duduk.
“Ada masalah apa, kok tumben Pak Halim menghadap saya” jawab atasanku itu ramah.
“Apakah boleh saya jadi staf saja?”
“Maksud Pak Halim?” ada nada terkejut dalam pertanyaan Pak Direktur.
“Saya tidak lagi jadi sopir yang selalu menjemput tamu-tamu kantor ini” kataku berusaha menjelaskan.
“Lho, keahlian Pak Halim kan nyopir. Dulu melamar di kantor ini kan juga sebagai sopir. Ya tidak bisa kalau tiba-tiba minta pindah jadi staf” timpalnya serius. Suasana jadi hening. Aku kecewa.
“Kalau begitu, saya bermaksud mengundurkan diri dari pekerjaan ini” kataku kemudian. Pak Direktur terkejut. Namun sebelum Pak Direktur sempat merespon, aku sudah pamit.
Ya tekadku sudah bulat daripada selalu ketakutan menghadapi orang baru dengan kalimat tanya yang aku sendiri bingung untuk menjawabnya. ***
Lembah Bulusari, awal Juli 2020
Hari Bakti Mardikantoro, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Beberapa cerpen telah ditulisnya dan dimuat di media massa.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.