Dinkes Sikka Manfaatkan Ruang Isolasi untuk Anak ‘Stunting’

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah membangun 13 ruang isolasi di Puskesmas dan kantor Dinas Kesehatan serta sebuah ruang isolasi untuk anak balita dan ibu hamil yang terletak di pusat kota Maumere.

Ruang isolasi yang awalnya diperuntukan untuk ibu hamil dan balita yang positif Covid-19 ini memiliki 10 kamar tidur dan masing-masing kamar memiliki 3 tempat tidur dan sudah rampung dikerjakan.

“Ruang isolasi ini sementara kami gunakan untuk merawat ibu hamil dan anak-anak stunting yang ada di Kabupaten Sikka,” sebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, Jumat (10/9/2020).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus saat ditanyai di kantornya, Jumat (10/7/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Petrus menyebutkan, sebanyak 32 anak yang mengalami stunting ditempatkan di ruangan isolasi ini yang belum dipergunakan untuk pasien Covid-19 sehingga bisa dipergunakan sementara waktu.

Anak-anak stunting tersebut sebutnya, dirawat secara intensif dan diberikan makanan dan gizi seimbang sehingga bisa sembuh dan kondisi tubuhnya bisa kembali normal seperti anak seusianya.

“Setiap hari jam 9 sampai jam 10 WITA, kami akan memberikan makanan tambahan bagi 32 anak yang mengalami stunting yang kami tempatkan di ruang isolasi dan kami namakan Rumah Pemulihan Stunting,” ungkapnya.

Mantan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Bernadetha Maria  Koltidis  Gandut, SKM, mengemukakan tahun 2019 terdapat 5.601 anak di Kabupaten  Sikka menderta  stunting.

Anak stunting ini sebut Bernadetha,ada  di 21  kecamatan yang ada di Kabupaten Sikka di mana tiga kecamatan dengan angka stunting  tertinggi  yakni  Kecamatan Tanawao,  Waiblama dan Talibura.

“Masalah utama stunting di  Sikka  yakni   masalah air bersih  dan pemanfaatan jamban keluarga. Masih banyak warga  yang Buang Air Besar (BAB) sembarangan selain juga pola  asuh anak dan pemberian  makan,” ungkapnya.

Bayi yang berumur  di atas  6  bulan kata Bernadetha, seharusnya diberi makan  lima  5 sehari yang terdiri   dari  3 kali makan utama  dan 2 kali makan   snak.   Tetapi akibat kesibukan orangtua,  kata dia, pemberian makan hanya  dilakukan sebanyak 2 kali dalam seharinya.

Selain itu tambahnya, porsi gizi dan jenis makanan yang diberikan masih sangat kurang memenuhi kebutuhan gizi anak. Pola pengasuhan anak juga sarannya harus diperhatikan dengan baik.

“Berdasarkan rekomendasi WHO, ada 4 standar emas pemberian makan untuk bayi. Pertama melakukan inisiasi menyusu dini.Umur nol sampai enam bulan diberikan ASI eksklusif,” terangnya.

Setelah itu lanjut Bernadetha, di atas enam bayi harus diberikan makanan pendamping ASI dari makanan lokal bukan pabrikan. Ini yang menurutnya, belum banyak dilakukan secara baik.

Lihat juga...