Corona Guncang Perekonomian Masyarakat Petani di Pessel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PESISIR SELATAN – Pandemi Covid-19 yang melanda khususnya Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, telah membuat perekonomian masyarakat petani jadi terganggu. Persoalan ini, beranjak dari anjloknya harga jual sejumlah produk pertanian selama pandemi.

Tokoh masyarakat yang juga merupakan utusan dari gabungan kelompok tani se-Nagari Inderapura, Kecamatan Pancungsoal, Afrizal Kirun, menyatakan bahwa Pandemi Covid-19 yang terjadi hingga sekarang, benar-benar telah mengguncang perekonomian masyarakat. Meski produksi atau panen terbilang baik, namun tidak memiliki pangsa pasar yang bagus.

Padahal, sebelum adanya Covid-19, hasil panen seperti halnya jagung, telah memiliki pembeli atau pasar yang pasti. Selain telah memiliki pasar yang pasti, harga jual masih terbilang menguntungkan. Namun kini, semua kondisi terbalik dari dulu.

“Saat ini saya juga tengah melakukan kerjasama pemasaran jagung manis dengan pengusaha. Sehingga bila ada petani yang mengeluh dengan anjloknya harga jagung manis, saya siap untuk membantu mencarikan solusi melalui jaringan yang saya miliki,” katanya, Senin (20/7/2020).

Tidak hanya untuk petani jagung, Afrizal Kirun, juga menyebutkan kondisi perekonomian terguncang juga dialami oleh petani kelapa sawit. Harga kelapa sawit akhir-akhir ini jauh dari kata bagus.

“Saya dapat kabar bahwa ada petani kelapa sawit yang harus menunggak cicilan pinjaman terhadap bank. Nah ini pertanda kondisi perkebunan kelapa sawit lagi tidak bagus. Saya harapkan, kondisi ini ada solusi dari pemerintah,” pinta dia.

Di sisi lain Afrizal Kirun merasa cukup terbantu dengan adanya subsidi benih jagung yang diberikan oleh Pemkab Pesisir Selatan kepada petani di Indrapura khususnya. Ia berharap selain benih, pemerintah perlu membantu pasar bagi petani jagung di daerah tersebut.

Wali Nagari/Kepala Desa Teluk Ampalu Indrapura, Darwin, seiring diresmikannya gedung Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pancungsoal, Pemkab Pesisir Selatan turut menyerahkan bibit jagung untuk petani.

Menurutnya sebagian besar masyarakat di daerah itu adalah sebagai petani jagung dan juga kelapa sawit. Perhatian pengadaan bibit yang ada sangat berarti, mengingat kini kondisi Pandemi, perekonomian benar-benar lagi dalam kondisi tidak baik.

“Setidaknya dapat memberikan kemudahan dan mengurangi uang keluar untuk membeli bibit jagung. Saya harapkan masyarakat petani tetap semangat, dan pemerintah akan memberikan solusi terkait harga jual yang menurun,” sebutnya.

Sementara itu, Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, menyatakan, potensi pengembangan tanaman jagung di daerah Pancungsoal amatlah besar.

Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni yang diwawancarai beberapa waktu lalu sebelum Covid-19/Foto: M Noli Hendra

“Potensi ini tersebar di semua kecamatan yang ada. Namun bibit yang disalurkan saat ini akan dikembangkan di tujuh kecamatan, mulai dari kecamatan Linggo Sari Baganti, hingga ke Kecamatan Silaut,” ujarnya.

Hendrajoni juga berharap tingkat kesejahteraan petani dan kenyamanan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan di bidang pertanian akan semakin baik di masa datang.

“Sedangkan terkait jaminan harga pasar hasil produksi jagung manis, kita akan berupaya untuk mencarikan penyalurannya, dengan harga ideal Rp 3.500, per kilogram,” tegasnya.

Kepala Distanhortbun Pesisir Selatan, Nusirwan, mengatakan bahwa bibit jagung yang disalurkan itu berasal dari provinsi dan juga dari pusat. Sedangkan gedung BPP, sumber dananya berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2018/2019, dengan total anggaran Rp 1,073, miliar.

“Saya berharap melalui keberadaan gedung baru ini, kita bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” jelasnya.

Ditambahkan lagi bahwa bibit yang bersumber dari pusat dan provinsi itu, disalurkan kepada masyarakat yang tergabung pada kelompok tani pada tujuh kecamatan. Bibit jagung ini akan dikembangkan pada lahan seluas 9.526 hektar dengan jumlah per hektarnya 15 kilogram.

Diantaranya yang bersumber dari pusat seluas 7.551 hektar, terdiri dari dua varietas, bisi 18, dan NK 212. Dari TP Provinsi, 1.975 hektare, masing-masing sebanyak 15 kilogram per hektar. Ini tersebar di tujuh kecamatan dari 15 kecamatan yang ada.

Lihat juga...