Konsep Agroforestri Tingkatkan Hasil Ekonomi Petani Lamsel
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Konsep konservasi hutan berdampingan dengan tanaman pertanian bisa memacu hasil ekonomi petani di Lampung Selatan (Lamsel).
Demikian diungkapkan Idi Bantara, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih Way Sekampung.

Pengelolaan lahan hutan dan pertanian berdampingan disebut Idi Bantara menjadi cara konservasi lahan hutan berbasis pertanian.
Penanaman komoditas pertanian jenis jagung, pisang bisa yang dipanen usia bulanan bisa berdampingan dengan tanaman kayu yang bisa dipanen tahunan. Tanpa meninggalkan konservasi agroforestri bertujuan meningkatkan ekonomi petani.
Membantu petani melakukan agrofororestri, BPDASHL WSS sebut Idi Bantara menyiapkan ratusan ribu bibit. Sejak 2012 hingga 2019 bibit gratis disediakan Persemaian Permanen mencapai 16.400.000 tanaman. Jenis bibit yang disediakan untuk rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) berkonsep agroforestri diprioritaskan tanaman produktif.
“Agroforestri bertujuan untuk menghijaukan kawasan hutan yang sebagian masuk hutan produksi, hutan kemasyarakatan dengan tujuan konservasi lahan namun tetap memberikan nilai ekonomis bagi petani pengelola hutan,” terang Idi Bantara di Persemaian Permanen, Karangsari, Lamsel (20/7/2020).
Menerima kunjungan reses komisi IV DPR RI yang diketuai Sudin, Idi Bantara menerangkan potensi produksi RHL berkonsep agroforestri.
Jenis tanaman yang telah dibagikan kepada masyarakat total mencapai 6.600.000 tanaman. Tanaman tersebut meliputi pala, alpukat, cengkih, petai, durian, jengkol, nangka, kemiri, duku, pinang. Potensi 10 jenis tanaman dengan harga jual terendah Rp5.000 mencapai Rp5,7 miliar.
Sebagai cara menghasilkan bibit yang berkualitas Idi Bantara menciptakan alat media semai cetak (MSC). Media tersebut dicetak memakai alat untuk menghasilkan tempat menyemai bibit tanaman. Rata-rata sebanyak 2,5 juta bibit disediakan oleh persemaian permanen di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang. Namun karena refocusing anggaran di 2020 bibit tersedia hanya mencapai 900.000 tanaman.
“Semua jenis bibit yang disediakan memiliki fungsi untuk konservasi lahan sekaligus memberi hasil ekonomis bagi masyarakat,” terang Idi Bantara.
Jenis tanaman produktif yang memiliki nilai ekonomis didominasi tanaman buah. Hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang digencarkan melalui tanaman buah jenis jengkol, petai, nangka dan buah lain memberi hasil petani.
Idi Bantara juga menyebut telah melakukan pendampingan kepada petani penyangga hutan lindung untuk menanam jenis gaharu dan damar. Kedua jenis tanaman itu memiliki nilai ekonomis tinggi tanpa harus menebangnya.
Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin, politisi dari Partai PDIP menyebut konsep agroforestri sangat tepat diterapkan. Sebab komisi yang membidangi lingkungan hidup dan kehutanan, pertanian dan kelautan itu mendorong mitra kerja untuk memaksimalkan potensi yang ada untuk kesejahteraan masyarakat. Bibit yang disediakan dengan anggaran pemerintah bisa dimanfaatkan untuk konservasi dan ekonomi.
“Inovasi harus dilakukan dengan penyiapan bibit yang berkualitas berbasis kemasyarakatan untuk menyerap tenaga kerja,” cetusnya.
Sudin juga memuji inovasi BPDASHL WSS yang menciptakan MSC dan kompos blok. Media semai cetak memungkinkan menciptakan bibit untuk tanaman kayu, buah hingga sayuran. Jenis kompos blok memanfaatkan limbah kotoran gajah bisa dimanfaatkan untuk menanam pohon pada kawasan tandus.
“Prioritas rehabilitasi lahan tetap dilakukan dengan tetap memperhatikan ekonomi masyarakat,” cetus Sudin.
Topan Hariyono, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut menanam sirsak madu. Jenis tanaman tersebut mudah tumbuh pada berbagai lahan dan bisa dimanfaatkan untuk konservasi.

Satu pohon yang mulai berbuah usia tiga tahun menghasilkan buah belasan kilogram. Satu tangkai menghasilkan buah yang cukup banyak dan bisa dijual sebagai bahan pembuatan minuman.
Penanaman sirsak pada lahan miring disebutnya sangat cocok karena bisa menahan longsor. Sebagai tanaman pertanian yang menghasilkan buah segar sirsak dipakai sebagai bahan baku pembuatan dodol. Penanaman sirsak menjadi kosep agrofirestri dengan hasil yang cukup menjanjikan pada bidang pertanian yang berdampingan dengan hutan.