Wamenag Sesalkan Tuduhan Soal Motif Pembatalan Haji
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Saadi, menegaskan tidak ada motif lain yang mendasari keputusan pemerintah membatalkan pelaksanaan ibadah haji tahun ini, selain karena untuk menjaga keselamatan jemaah haji dari wabah pandemi Covid-19.
“Kami sangat menyayangkan tuduhan yang mengatakan pembatalan keberangkatan jemaah haji karena ada motif-motif lain, seperti akan menggunakan uang jemaah untuk memperkuat nilai tukar rupiah,” ujar Zainut di Jakarta, Jumat (5/6/2020).
Tuduhan tersebut, kata Zainut, merupakan fitnah yang sangat keji, dan sama sekali tidak berdasar. Menurutnya, statemen seperti itu hanya mungkin keluar dari orang yang sudah terbiasa dengan pikiran kotor dan suka mencari sensasi.
“Kami sangat menghormati kritik, sepanjang kritik tersebut dilandasi niat yang baik, obyektif, dan argumentatif. Bukan kritik yang subyektif, asumtif dan hanya untuk mencari sensasi semata,” tandas Zainut.
Menurutnya, kebebasan berpendapat, termasuk menyampaikan kritik dalam sebuah negara demokrasi adalah hak asasi yang dilindungi oleh konstitusi, tetapi hendaknya disampaikan dengan penuh tanggung jawab, bermartabat dan berbudaya.
Dirjen Penyelenggaraan Haji Umrah, Nizar Ali, menambahkan, bagaimana alur kebijakan pembatalan tersebut akhirnya diambil pemerintah.
Sejak awal Maret Covid-19 mewabah di Indonesia, telah berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk layanan sosial keagamaan di bidang penyelenggaraan ibadah haji. Kementerian Agama membentuk Pusat Krisis Haji 2020 melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 392 TAHUN 2020, yang diberi mandat untuk merancang, menyusun dan mengoordinasikan mitigasi krisis pada penyelenggaraan ibadah haji 2020.
“Tim ini telah menyusun dokumen lengkap skenario mitigasi penyelenggaraan ibadah haji, yang disusun mengikuti perkembangan dan dinamika Covid-19, baik di Arab Saudi maupun di Indonesia hingga akhir April. Ada 3 skema penyelenggaraan ibadah haji disiapkan; Pertama, ibadah haji diselenggarakan normal; Ke dua, penyelenggaraan dengan pembatasan kuota; Ke tiga, penyelenggaraan haji tahun 2020 dibatalkan,” kata Nizar.
Pada akhirnya, Kemenag mengambil keputusan untuk membatalkan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2020, demi melindungi keselamatan jiwa jemaah dan petugas haji dari wabah Covid-19, dan karena pentimbangan tidak cukup waktu untuk menyiapkan teknis penyelenggaraannya, karena faktanya sampai sekarang Kementerian Haji Arab Saudi belum juga ada kepastian terkait hal tersebut.
“Kebijakan pembatalan keberangkatan jemaah haji reguler dan khusus, maka Kementerian Agama menerbitkan Surat Keputusan Menteri Agama (KMA) RI Nomor 494 Tahun 2020 Tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 1441 H/2020 M,” tukas Nizar.
KMA tersebut merupakan payung hukum yang mengatur hal ihwal yang berhubungan dengan akibat hukum yang timbul dari pembatalan penyelenggaraan ibadah haji 2020, antara lain, hak jemaah haji yang telah melunasi Bipih (Biaya Perjalanan Ibadah Haji) tahun 2020 ini, akan menjadi jemaah haji tahun 1442 H/2021 M.
Lebih lanjut Nizar menyampaikan, bahwa setoran pelunasan Bipih yang sudah dibayarkan oleh jemaah haji, ada dua pilihan. Pertama, setoran pelunasan Bipih yang dibayarkan akan disimpan dan dikelola secara terpisah oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
“Nilai manfaat dari setoran pelunasan itu akan diberikan oleh BPKH kepada jemaah haji yang bersangkutan paling lambat 30 hari sebelum pemberangkatan kloter pertama penyelenggaraan ibadah haji tahun 1442 H/2021 M. Ke dua, setoran pelunasan Bipih dapat diminta kembali oleh jemaah haji,” ungkap Nizar.
Skema pengaturan Bipih tersebut, juga sudah disampaikan oleh Menteri Agama pada saat Rapat Kerja dengan Komisi 8 DPR RI pada 11 Mei 2020 secara virtual, dan Komisi VIII DPR RI dapat menerima usulan Kemenag tersebut, sehingga menjadi kesimpulan dalam rapat.