Usaha Penjualan Terpal Sistem Yarnen Dukung Sektor Pertanian
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Kebutuhan akan terpal, jenis media pengeringan komoditas pertanian meningkat saat musim panen.
Peluang tersebut dimanfaatkan oleh Madruk, warga asal kota Serang, Banten untuk berjualan terpal. Menerapkan penjualan dengan sistem bayar saat panen (yarnen) ia mampu menjual ratusan lembar terpal berbagai ukuran.

Terpal yang dijual menurutnya langsung dipasok dari pabrik sehingga ia memperoleh harga lebih murah. Berjualan sejak tahun 2000 ia menyebut usaha berkeliling menawarkan terpal dilakoninya memanfaatkan musim. Saat musim panen padi dan jagung kebutuhan terpal meningkat 100 persen dibandingkan kondisi normal.
Jenis terpal yang dijual menurutnya dalam kondisi baru dominan untuk menjemur gabah. Namun sebagian warga memanfaatkan terpal untuk alas tempat tidur di lantai dan dilapisi kasur.
Selain terpal ia menjual tikar plastik yang bisa dilipat menjadi beberapa bagian. Meski menjual terpal, tikar sistem bayar panen ia memastikan petani lebih memiliki kedisiplinan dan tepat waktu membayar.
“Sektor pertanian, perkebunan dan perikanan sangat membutuhkan terpal sebagai media untuk pengeringan dan kerap difungsikan untuk melindungi hasil panen dari potensi kehujanan, praktis dilipat dan diangkat bersama komoditas yang dikeringkan,” terang Madruk saat ditemui Cendana News, Selasa (9/6/2020).
Madruk menyebut sebelum terpal ada sebagian petani mempergunakan karung yang dijahit. Saat proses penjemuran sebagian petani bahkan mempergunakan tikar pandan serta anyaman bambu.
Semenjak tikar mulai banyak dijual petani memilih media pengeringan dengan harga terjangkau. Terpal yang ditawarkan dari ukuran 4×6 meter hingga 6×8 meter.
Bagi petani yang memiliki lahan luas, hasil panen banyak terpal ukuran besar jadi pilihan. Setiap terpal dijual dengan sistem yarnen mulai harga Rp275.000 hingga Rp500.000 per lembar.
Harga tersebut menurutnya cukup murah karena satu kali panen dengan harga per kuintal gabah kering panen (GKP) seharga Rp375.000 bisa membeli selembar terpal.
“Sistem bayar panen juga bertujuan agar petani penggarap yang tidak memiliki lahan bisa memiliki terpal tanpa membayar tunai,” cetusnya.
Madruk mengaku mulai menjual terpal sejak harganya hanya Rp50.000 per lembar. Meningkatnya permintaan terpal membuat harga cenderung naik.
Terlebih saat masa panen raya sebagian petani memilih mengganti terpal yang rusak setelah dipakai selama lebih dari dua tahun. Kerusakan terpal kerap terjadi imbas terkena panas, hujan dan diseret saat proses pengeringan gabah.
Selama masa panen sejak awal Mei hingga awal Juni, Madruk mengaku telah menjual sebanyak 100 lembar terpal. Sebagian petani yang memiliki uang tunai memilih melunasinya.
Namun harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan sistem pembayaran dengan tempo. Sebab sistem yarnen diasumsikan selama 4 bulan untuk masa panen padi dan jagung.
“Ada petani yang membeli terpal untuk digunakan sebagai alas tempat tidur saat berada di gubuk ladang dan sawah,” paparnya.
Yatemi, salah satu petani di kecamatan Penengahan mengaku membeli satu lembar terpal untuk cadangan. Sebanyak lima terpal yang dimilikinya berukuran 6×8 meter khusus untuk menjemur padi.
Sebelumnya saat musim panen kakao ia mempergunakan terpal untuk pengeringan. Namun saat musim panen padi kakao sementara dikeringkan memakai tampah dari bambu.
“Menjemur padi dengan terpal lebih praktis karena saat tiba-tiba turun hujan bisa dilipat, diberi tutup lembaran plastik dan bisa diangkat ke gudang,” terang Yatemi.
Sistem yarnen dalam pembelian terpal cukup membantu. Sebab usai panen ia menyebut belum pasti memegang uang. Gabah kering panen (GKP) yang tidak dijual akan disimpan menjadi gabah kering giling (GKG).
Setelah menjemur dalam bentuk beras ia bisa memiliki uang. Saat panen berikutnya ia telah menyediakan uang untuk membayar terpal seharga Rp275.000 per lembar.
Rustanto, petani lain di Desa Berundung, Kecamatan Ketapang mengaku terpal sangat diperlukan. Terlebih saat musim panen bersamaan dengan padi roboh ia harus melakukan sistem panen ngasak. Padi yang terendam air harus dipanen dengan pemotongan malai padi dan diletakkan pada terpal. Terpal bisa diseret ke tepi jalan untuk dijemur.

Setelah proses pengeringan terpal bisa dipergunakan untuk memisahkan bulir padi. Imbas roboh ia harus menginjak atau mengiles padi di dalam terpal agar padi rontok.
Padi yang sudah rontok dan terpisah dari merang selanjutnya akan dijemur oleh sang istri bernama Astuti. Penggunaan terpal akan mempercepat pengeringan gabah yang sebagian rusak akibat terendam air.