Tabela, Solusi Sawah Padi Tadah Hujan di Pessel

Editor: Koko Triarko

PESISIR SELATAN – Penanaman padi dengan sistem tanam benih langsung (Tabela) dinilai sebagai solusi bagi petani sawah tadah hujan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pesisir Selatan, Nuzirwan, mengatakan, di Pesisir Selatan masih terdapat sawah-sawah yang belum memiliki aliran irigasi yang bagus, sehingga banyak lahan yang hanya bisa dikelola bila di daerah itu dalam kondisi musim hujan.

Menurutnya, solusi untuk kondisi yang demikian ialah melakukan cara pertanian dengan sistem tabela. Cara ini dapat mengatasi keterbatasan pasokan air di lahan sawah tadah hujan tersebut.

Dikatakannya, sistem tabela bisa dikatakan suatu hal yang baru bagi petani di Pesisir Selatan. Sebab, selama ini sebagian masyarakat lebih memahami cara bertanam seperti proses yang telah lama dijalani.

“Bisa dikatakan sistem tabela ini hal yang baru. Bagaimana supaya tabela ini bisa diterapkan, kita akan minta kepada penyuluh pertanian di kecamatan untuk turun ke masyarakat, dan memberikan sosialisasi terkait sistem tabela itu,” katanya, ketika dihubungi, Senin (22/6/2020).

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pesisir Selatan, Nuzirwan beberapa waktu lalu/ Dok: CDN

Ia menyebutkan, sistem tabela dapat meningkatkan efisiensi produksi, terutama efisiensi dalam penggunaan tenaga kerja tanam. Hal ini karena sistem tanam benih langsung atau tabela tersebut, tanpa melalui persemaian dan pemindahan bibit.

Nuzirman memaparkan, sistem tabela pada dasarnya dibedakan atas dua cara, yaitu tanam benih langsung dalam larikan, atau tanam benih langsung secara merata (broadcast) pada areal pertanaman.

Untuk cara tanam benih langsung dalam larikan, tidak banyak mengubah cara budi daya yang telah berlangsung selama ini. Sebab, dalam penerapannya tetap menggunakan larikan dengan jarak antarbarisan antara 22-25 cm, tergantung varietas yang ditanam.

“Kalau tentang cara tanamnya itu, dengan cara menyebarkan benih secara merata pada areal pertanaman mampu menurunkan curahan tenaga kerja sekitar 28 persen,” jelasnya.

Sementara untuk cara pengolahan tanah dan perawatan dalam budi daya padi tabela, ini pada dasarnya juga sama dengan budi daya padi pada umumnya, hanya ada beberapa hal yang membedakannya. Seperti tentang pengelolaan tanah, untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan pengolahan tanah yang sempurna.

Pengolahan tanah yang dalam akan mempercepat pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman tidak mudah rebah pada stadia generatif. Permukaan tanah harus rata, agar tinggi permukaan air dapat dikontrol.

Untuk kondisi air, dipastikan tidak menggenang agar bibit tidak terbawa air. Jika kondisi air melimpah, di sekitar jarak tanam harus diberi saluran air untuk mencegah bibit yang hanyut.

“Nah, hal selanjutnya itu persiapan benih yang penting. Untuk persiapan benih dilakukan dengan cara merendam benih terlebih dahulu hingga tumbuh sedikit akar. Kemudian setelah akar tumbuh, baru siap ditanam. Perendaman dilakukan 24 jam dan ditiriskan selama 12 jam,” sebutnya.

Lalu, lanjut dengan penanaman, di mana cara yang dilakukan dengan memasukkan 2-3 benih ke dalam lubang tanam yang sudah ditugal. Untuk penanaman bisa dilakukan dengan bantuan tambang atau benang kecil, untuk meluruskan supaya rapi. Atau bisa juga menggunakan atabela atau alat tanam benih langsung yang sudah ada pengaturan jarak dan benih yang akan digunakan.

“Perlu diperhatikan juga, bahwa untuk tidak menabur benih jika menurut perkiraan akan turun hujan,” tegasnya.

Untuk itu, Nuzirman menilai sistem tanam tabela akan sangat baik, jika dipadukan sistem pertanian organik SRI atau dipadukan dengan sistem Hazton. Ia berharap, terkait hal ini segera disosialisasikan kepada masyarakat, agar untuk petani yang memiliki lahan tadah hujan, tidak harus menunggu musim hujan saja.

“Saat ini, petani terus mengoptimalisasi lahan yang ada untuk ditanami berbagai jenis komoditi pangan, seperti padi, jagung dan lainnya. Tapi dengan adanya sistem tabela, diharapkan tanaman padi bisa lebih baik,” ungkap Nuzirwan.

Di sisi lain, pihaknya terus melakukan pembinaan dan bimbingan kepada petani dalam pemanfaatan lahan pertanian yang ada. “Kita meminta petani tidak membiarkan lahan pertanian terlantar, karena pemenuhan kebutuhan pangan saat pandemi Covid-19 sangat penting,” ucapnya.

Ia mengakui, bahwa sektor pertanian selama ini menjadi basis ekonomi masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan. Hal itu didukung tersedianya lahan pertanian yang cukup luas.

Sementara itu, salah seorang petani di Koto Baru Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Asril, menceritakan pengalamannya, setelah melakukan alih fungsi lahan, dari lahan sawah beralih menjadi lahan semangka.

Dikatakannya, kondisi demikian harus dijalani karena lahan tersebut merupakan sawah tadah hujan. Sementara kondisi di daerah setempat, hujan yang turun belum mampu membuat sawah digenangi air.

Seperti yang dikatakan Asril, salah seorang petani semangka daerah Bayang, alasan petani mengubah lahan persawahan menjadi lahan tanaman semangka cukup beralasan. Alasannya untuk mengatasi pengangguran akibat sawah yang terlantar, terutama pada musim kemarau.

Daripada lahan dibiarkan terlantar, petani memilih untuk menggunakannya sebagai perkebunan semangka. Hasilnya, dengan adanya upaya memanfaatkan lahan sawah yang kering, produksi semangkanya cukup menjanjikan.

“Hal ini terlihat dari masa panen hanya berselang waktu 60 hari dan tidak rawan kena penyakit tanaman, membuat petani memperoleh keuntungan yang menggembirakan. Kita dari para petani di sini sudah sepakat untuk tetap mengolah sawah yang kering ini, jadi perkebunan semangka,” sebutnya.

Menurutnya, upaya itu bukanlah bersifat permanen, tapi sebagai langkah selingan tanaman padi. Sebab, tanaman semangka masa panen tidak telalu lama, hanya sekitar 2 bulan sudah bisa panen.

“Jadi kalau memang ada cara atau solusi dari pemerintah untuk lahan sawah tadah hujan ini, ya hal itu kabar baik. Bagaimana cara menerapkannya, saya belum tahu,” ungkapnya.

Lihat juga...