PPL di Sikka Diminta Tingkatkan Ilmu Pertanian

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Menjadi seorang Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tentunya merupakan sebuah tanggungjawab untuk membina petani dan membuat petani menjadi lebih baik dari segi produksi pertanian.

Tantangan ini yang membuat seorang petugas PPL harus memiliki ilmu pertanian yang mumpuni agar bisa menularkan ilmunya tersebut kepada petani agar jangan sampai petani lebih pintar dari petugas PPL.

“Saya dulu tugas di kantor Dinas Pertanian di bagian perencaan dan saya pindah ke fungsional bagian penyuluhan,” sebut Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Manserius Menga, SSt, Senin (29/6/2020).

Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, Manserius Menga, SSt, saat ditemui di kebun petani, Senin (29/6/2020). Foto: Ebed de Rosary

Manse sapaannya, menyebutkan, dirinya ingin bekerja sebagai penyuluh pertanian karena pertimbangan dia agar ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat bagi banyak orang terutama petani.

Selama 10 tahun dia bertugas di desa Hale dan Hebing di kecamatan Mapitara, dirinya melihat, kalau dari sumber daya alam sangat luar biasa subur, tetapi orangnya tidur atau tidak bergerak.

“Beda dengan petani di Kecamatan Nita. Orang Nita dia terjaga dan bangun artinya untuk makan dan kebutuhan keluarga harus dari usaha sendiri, bukan bantuan dari pemerintah atau lembaga lainnya,” ungkapnya.

Untuk bisa memenuhi standar yang baik maka tegas Manse, penyuluh harus dibekali. Dia beralasan, tidak semua penyuluh handal sehingga jangan sampai petani lebih pintar dari penyuluh pertanian.

Hal ini sebutnya menjadi tantangan bagi penyuluh agar terus memperbarui ilmunya. Penyuluh sarannya, harus senantiasa diganggu dan ini menjadi tantangan bagi penyuluh agar terus belajar.

“Selama 10 tahun saya di desa Hale dan Hebing petaninya selasar alam. Bibit hambur saja, kalau tumbuh bersyukur kalau tidak tumbuh ya sudahlah. Maka saya katakan petaninya tidur,” terangnya.

Di Nita, Manse mengaku belajar dan dalam 2 bulan dia sudah paham budidaya tanaman hortikultura. Sebagai pemimpin ucapnya, dirinya harus lebih paham dari penyuluh dan petani itu sendiri.

Kalau jadi pemimpin maka sebutnya, dia harus bisa menjadi hamba dan pelayan, serta harus melayani banyak orang. Karena digaji untuk disuruh petani. Ini yang membuatnya saat tugas di Nita, sehari pun dia tidak pernah alpa ke kantor dan menemui petani di kebun.

“Beda di Hale dan Hebing dimana seminggu tiga kali ke lapangan tapi hasilnya tidak ada. Anda harus menjadi berkat bagi banyak orang, karena itu merupakan tugas pelayan namun petani juga harus ada kemauan,” tegasnya.

Di kecamatan Nita sebut Manse, modal tidak ada masalah karena petaninya berdaya, karena lembaga keuangan ada dan mendukung.

Selain itu sebutnya, LSM dan Bumdes juga maksimal membantu petani dan melaksanakan kemitraan secara bagus. Baik dengan petani dan lembaga pertanian di wilayah ini.

“Petani di Nita berdaya dan memiliki kemauan untuk terus belajar dan bekerja keras meraih sukses. Makanya banyak anak muda yang terjun ke dunia pertanian dan sukses,” ungkapnya.

Sementara itu, Verentinus Wenger petani di Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, mengatakan, petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Nita sangat membantu petani khususnya dalam budidaya hortikultura.

Veres sapaannya menyebutkan, BPP Nita petugasnya sangat perhatian dan selalu membagi ilmunya kepada petani, terutama petani budidaya hortikultura yang ada di Desa Nitakloang.

“Setiap kali dibutuhkan petani mereka selalu hadir. Kami diajarkan ilmu bercocok tanam hortikultura dengan benar sehingga banyak petani di sini yang sukses dan hidup mapan berkat bertani,” ungkapnya.

Lihat juga...