Lestarikan Kekayaan Hayati, Warga Perbukitan Prambanan Budidayakan Gembili

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Masyarakat di wilayah perbukitan Prambanan Sleman hingga saat ini diketahui masih memegang teguh tradisi nenek moyang dalam menjaga kelestarian alam.

Selain senantiasa menjaga kondisi lingkungan, mereka juga terus berupaya mempertahankan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar mereka.

Salah satu jenis kekayaan hayati yang masih mereka jaga dan lestarikan adalah tanaman gembili. Tanaman lokal asli Indonesia ini memang banyak tumbuh di kawasan lereng perbukitan Prambanan. Agar tanaman yang sudah mulai langka tersebut tidak punah, warga pun membudidayakannya di lahan pekarangan mereka.

Selain dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari, warga di kawasan lereng perbukitan Prambanan juga kerap memanfaatkan hasil panen berupa umbi gembili untuk dijual. Cukup mahalnya harga gembili di pasaran karena faktor kelangkaan, ternyata menjadi peluang ekonomi tersendiri bagi warga masyarakat sekitar.

Salah seorang warga Dusun Bendo RT 7 RW 7, Gayam, Gayamharjo, Prambanan, Sleman, Ignatius Parwoto, menjelaskan gembili merupakan tanaman lokal sejenis umbi-umbian yang tumbuh secara merambat di pohon-pohon besar.

Salah seorang warga Dusun Bendo RT 7 RW 7, Gayam, Gayamharjo, Prambanan, Sleman, Ignatius Parwoto, saat dijumpai Rabu (24/6/2020) – Foto: Jatmika H Kusmargana

Memiliki duri di bagian batangnya, gembili sangat mudah untuk ditanam di lokasi apa pun. Termasuk kawasan lereng-lereng perbukitan yang curam dan terjal.

“Memang gembili ini tubuhnya merambat di pohon-pohon besar. Gembili baru bisa dipanen 2 tahun setelah awal masa tanam. Namun setelah panenan pertama, gembili bisa dipanen setiap tahun. Di kawasan Gayamharjo ini hampir semua warga menanam. Karena memang sangat mudah tumbuh dan hampir tanpa perawatan sama sekali,” katanya, Rabu (24/6/2020).

Memiliki rasa gurih dan manis, umbi gembili dikatakan memiliki manfaat yang bagus untuk kesehatan. Dengan kandungan karbohidrat yang tinggi, Gembili baik dikonsumsi untuk penderita diabetes.

Termasuk juga bagi penderita masalah pencernaan lambung. Meski begitu gembili mudah diolah dan tidak memiliki racun seperti halnya tanaman umbi-umbian sejenis yakni gadung.

“Gembili bisa menjadi aternatif bahan pangan lokal. Karena kaya karbohidrat, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai pengganti nasi. Bahkan selama ini gembili juga telah mampu menambah pendapatan masyarakat sekitar karena bisa dijual dengan harga Rp4000-8000 per kilo. Padahal seorang warga di sini bisa menghasilkan 1 kuintal lebih gembili yang dipanen dari lahan,” katanya.

Salah satu hal unik yang perlu diketahui mengenai gembili ini adalah ciri khas rambatan batang/daunnya yang selalu memutar ke kanan atau searah jarum jam. Hal ini berbeda dengan ciri tanaman umbi-umbian sejenis lainnya yakni gadung yang arah rambatannya justru ke kiri atau berlawanan arah jarum jam.

Sejak zaman dahulu, masyarakat di pedesaan juga kerap menggunakan tanaman gembili sebagai alat bantu penunjuk datangnya musim. Pasalnya daun gembili yang merambat biasanya akan menguning dan mengering saat memasuki musim kemarau.

Namun beberapa minggu sebelum musim penghujan tiba, daun-daun itu biasanya akan tumbuh kembali dan mulai menghijau.

Lihat juga...