Lemak dalam Tubuh Berpotensi Turunkan Imunitas

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Menjalani masa new normal dengan aman, tidak cukup hanya dengan menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Tapi juga membutuhkan sistem imun tubuh yang tinggi, sehingga mampu meredam infiltrasi virus atau kuman lainnya yang masuk ke dalam tubuh. 

Spesialis Gizi Klinik, dr. Gaga Irawan, menyebutkan untuk menjaga sistem imun tubuh perlu untuk selalu menjaga asupan makanan atau minuman.

“Naiknya jumlah lemak pada tubuh akan mengakibatkan potensi penurunan imunitas. Karena lemak berlebih akan memunculkan mediator yang menyebabkan imunitas seseorang akan menurun,” kata dr. Gaga, dalam webinar kesehatan, Senin (22/6/2020).

Untuk menjaga agar tidak terjadi penumpukan lemak di tubuh, selain menaikkan aktivitas fisik, seseorang perlu mengurangi proses pengisian perut.

“Kenapa saya bilang proses pengisian perut? Karena kalau saya bilang makan, biasanya di masyarakat kita identik hanya dengan asupan nasi. Padahal, semua yang masuk ke mulut itu sudah merupakan proses pengisian perut. Jadi, saya lebih cenderung untuk menggunakan istilah pengisian perut. Yang artinya semua makanan, ya cemilan, ya nasi atau jenis makanan lainnya,” ujarnya.

Spesialis Gizi Klinik, dr. Gaga Irawan, saat Zoom Webinar, Senin (22/6/2020). –Foto: Ranny Supusepa

Agar selama proses pengisian perut, lemak tubuh tidak naik dan imunitas tubuh meningkat, perlu dilakukan beberapa hal.

“Pertama, pastikan mengkonsumsi makanan dengan jadwal yang teratur. Selain mencegah perut akan terasa lapar di luar jadwal makan, kebiasaan jadwal teratur ini juga akan memberikan kesempatan pada tubuh untuk mengurai lemak yang tersimpan dalam tubuh,” urainya.

Ke dua, makan utama tidak berlebih dan hanya menyelingi waktu makan, yaitu antara makan pagi dan makan siang dan antara makan siang dan makan malam, dengan mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung banyak air.

“Ini pentingnya menjaga jadwal makan yang teratur, sehingga badan tidak akan merasa lapar sebelum waktunya, dan hanya akan makan sesuai kebutuhan tubuh di waktu yang telah ditetapkan. Sekitar 2,5 jam dari makan pagi atau makan siang, boleh makan selingan. Tapi hanya berupa buah, seperti pepaya, jeruk, nanas, semangka, melon dan buah naga,” paparnya lebih lanjut.

Setelah makan malam, antara pukul 17-19, tidak boleh mengkonsumsi makanan apa-apa lagi. “Puasa selama sekitar 12 jam ini akan memberikan waktu tubuh untuk mengurai lemak yang tersimpan di tubuh. Sekaligus, mengistirahatkan organ tubuh,” ujarnya.

Yang terakhir, menurut dr. Gaga, adalah menghindari makanan dan minuman yang menggemukkan.

“Hindari semua yang terbuat dari tepung. Karena makanan yang diolah menjadi tepung, molekulnya akan berubah menjadi lebih pendek dan mudah dicerna. Artinya, akan mudah meningkatkan gula darah dan menaikkan berat badan. Lebih baik mengkonsumsi makanan yang membutuhkan proses pengunyahan, seperti ubi, nasi atau buah,” ucapnya.

Lalu, lanjutnya, hindari semua yang mengandung gula. Karena gula merupakan karbohidrat sederhana yang memiliki efek sama pada tubuh seperti produk tepung.

“Dan yang terakhir, batasi makanan berlemak tinggi, terutama lemak jenuh. Ganti dengan lemak yang termasuk dalam MUFA atau PUFA. Dan, barengi dengan konsumsi buah dan sayur serta bumbu tradisional yang berbentuk akar, daun maupun biji,” pungkasnya.

Lihat juga...