Klub-Klub Liga Indonesia Tunggu Kejelasan Subsidi Kompetisi
JAKARTA – Klub-klub yang berlaha di kompetisi Liga 1 dan 2 Indonesia, menunggu kejelasan subsidi dari PT Liga Indonesia Baru (LIB), setelah kompetisi diputuskan berlanjut mulai September atau Oktober 2020.
Presiden Borneo FC, Nabil Husein Said Amin menyebut, klubnya membutuhkan informasi akurat mengenai subsidi. Hal itu dikarenakan, manajemen klub tetap membayar gaji pemain dari bulan April sampai Juni 2020. “Jadi Borneo menunggu kejelasan subsidi. Bagaimana pun, kan, Borneo terus membayar gaji 25 persen sampai Juni,” ujar Nabil.
Hal senada juga diutarakan Manajer klub Liga 2 PSIM, David Hutauruk. Menurutnya, penjelasan mengenai subsidi penting supaya setiap tim dapat merancang anggaran kompetisi. “Kepastian subsidi sangat dibutuhkan, agar kami dapat mengalkulasikan bujet operasional dan lain-lain,” kata David.
Dalam surat keputusannya soal keadaan kahar (force majeure) sepak bola nasional SKEP/48/III/2020l, tertanggal 27 Maret 2020, PSSI menyebut, setiap klub Liga 1 dan 2 musim 2020 dapat membayar penghasilan pemain, pelatih dan ofisial sebesar 25 persen dari yang tertera dalam kontrak pada Maret-Juni 2020.
Akan tetapi, 18 klub Liga 1 musim 2020 dan 18 dari 24 klub Liga 2 baru menerima pembayaran pertama cicilan subsidi musim 2020 pada Mei 2020, yang semestinya dilunasi pada Maret 2020. Cuma enam tim Liga 2 yang menerima subsidi termin pertama tepat waktu yaitu pada Maret 2020.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi dari LIB mengenai subsidi untuk April sampai Juni 2020. Untuk melanjutkan liga, David Hutauruk menginginkan PSSI mengatur besaran gaji pemain dan pelatih. “Harapan saya, semoga ada keputusan terbaru dari PSSI mengenai kontrak tim termasuk gaji pemain dan pelatih,” tutur David.
Sebelumnya, PSSI sempat mengutarakan wacana bahwa setiap tim Liga 1 akan mendapatkan tambahan cicilan subsidi menjadi Rp800 juta per termin dari sebelumnya Rp520 juta di lanjutan kompetisi. Lalu, tim-tim Liga 2 memperoleh Rp200 juta per termin, atau lebih banyak dari sebelumnya Rp100 juta. (Ant)