UMKM di Sikka Mulai Beraktivitas Meski Terbatas
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
MAUMERE — Dampak Covid-19 dirasakan oleh pelaku UMKM di Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berupa penurunan omzet penjualan karena pembatasan berbagai aktivitas, seperti sekolah diliburkan dan masyarakat dianjurkan untuk lebih banyak tinggal di dalam rumah.
Selain itu juga pembatasan jam operasional tempat usaha dan kantor kegiatan jual beli sampai hingga Pukul 17.00 WITA serta pembatasan jam malam sejak bulan April.
“Pengangkutan antar kota dan antar pulau juga terhambat. Di tengah keterpurukan ini, kami sebagai pelaku UMKM saling memotivasi untuk bangkit, “ kata pelaku UMKM di Kabupaten Sikka, NTT, Sherly Irawati, Selasa (19/5/2020).
Untuk itu kata Sherly, pihaknya merubah pola usaha lebih pada pola usaha kemitraan yaitu bekerjasama dalam suatu jaringan yang dibangun serta saling membantu.
Pelaku UMKM juga sambungnya, dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam mengelola bisnis ini dan harus bisa bertahan serta dituntut untuk beradaptasi dalam menghadapi bencana ini.
“Disamping itu kita dituntut harus jeli menangkap peluang usaha, mengamati apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Yang terpenting mau berusaha dan pantang menyerah, kita harus bangkit sebelum jatuh terpuruk lebih dalam lagi,” ungkapnya.
Mau sampai kapan sembunyi dibalik ketakutan? Tanya Sherly sebab modal usaha akan habis hanya untuk kebutuhan sehari-hari saja sehingga tetap harus berativitas walaupun dengan batasan dan mengikuti protap kesehatan demi keselamatan.
“Toko saya sepi pembeli dan penjualan handicraft juga sepi sehingga saya manfaatkan mesin jahit yang ada untuk produksi masker. Kami juga membuat pelindung muka agar bisa ada pemasukan untuk menggaji karyawan,” ungkapnya.
Pemilik usaha Keripik Wailiti, Margaretha Setia Rahayu menyebutkan, produk Keripik Wailiti yang dititipkannya di berbagai kios, gerai dan swalayan, banyak yang lama baru laku terjual
Biasanya seminggu kata Eta sapaannya, produk sudah habis terjual tetapi sekarang bisa sebulan sehingga dirinya terpaksa mengambil uang sesuai produk yang laku terjual setiap minggunya untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya.
“Satu nota uangnya tidak bisa diambil semua tapi hanya yang laku terjual saja. Namun saya bersyukur uangnya masih bisa untuk membeli bahan pokok sehari-hari,” ungkapnya.
Meskipun keuntungan yang didapat hanya cukup untuk kebutuhan hidup 2 sampai 3 hari, namun Eta beryukur sebab penjualan keripik di rumahnya pun masih ada setiap harinya meskipun sedikit.
Dirinya pun mulai menjual ke rumah-rumah pelanggan supaya bisa mendapatkan uang walaupun sedikit agar kebutuhan hidup keluarganya bisa tertangani dari usaha yang digelutinya.
“Sebelum wabah Corona saya bisa dapat uang hingga 2 juta seminggu dari penjualan keripik. Sekarang pendapatan tidak pasti, tetapi selalu saja ada sedikit dan hanya cukup untuk makan,” ungkapnya.