Pemerintah Akui Sistem Kesehatan Nasional Masih Lemah

Editor: Koko Triarko

Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, saat ditemui di salah satu acara di Jakarta, beberapa waktu lalu. –Dok: CDN

JAKARTA – Pandemi Covid-19 telah menyadarkan bangsa Indonesia, bahwa sistem kesehatan nasional masih sangat lemah dan tak cukup memadai untuk mengatasi bencana nonalam. Hal itu diakui oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa.

“Saat ini kita benar-benar menyadari, bahwa sistem kesehatan kita belum kuat. Untuk itu, sebagaimana juga arahan Bapak Presiden, kita akan melakukan reformasi di bidang ini mulai 2021 mendatang,” ujar Suharso di Jakarta, Rabu (13/5/2020).

Reformasi tersebut, kata Suharso, juga diharapkan mampu membuat sistem kesehatan nasional menjadi lebih tajam melihat dan mengatasi berbagai penyakit berbahaya lain, yang sejatinya sudah mengendap di Indonesia sejak lama, namun tidak dianggap serius.

“Masih banyak penyakit berbahaya di negeri kita yang tidak kita tangani secara serius. Sebut saja penyakit TB (Tuberkulosis). Kita itu adalah negara terbesar ke tiga yang penduduknya terjangkit TB, sekitar 843 ribu orang, dan 14 orang di dunia bisa meninggal setiap jamnya karena TB ini,” ungkap Suharso.

“Masih banyak daerah-daerah yang belum tereliminasi dengan malaria. Kita juga adalah negara ke tiga di dunia (setelah Brazil dan India) yang masyarakatnya terjangkit kusta. Padahal, kita pernah mengumumkan eliminasi kusta sedemikian rupa di akhir 1980an, tetapi sekarang sudah muncul lagi, bahkan di wilayah besar seperti Jawa Barat dan Jakarta,” sambungnya.

Program reformasi sistem kesehatan nasional akan dimulai dari ujung tombaknya pelayanan kesehatan, yaitu puskesmas. Suharso mengimbau, seluruh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) memperhatikan kualitas puskesmas yang ada di wilayah masing-masing.

“Dari puskesmas kita akan mulai menggalakkan upaya promotif dan preventif kepada masyarakat, agar kesadaran terhadap penyakit bisa lebih tumbuh. Kita akan laksanakan pemenuhan dokter dan 9 tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas,” tukas Suharso.

Ada pun fokus penguatan kesehatan lainnya di 2021 berdasarkan rencana Bappenas, antara lain penguatan Germas, meliputi air bersih, sanitasi, cuci tangan pakai sabun, olah raga, kesehatan lingkungan dan kawasan sehat.

Kemudian penguatan juga akan difokuskan pada sektor health security atau kemampuan untuk prevent, detect dan response, yang meliputi pos pintu masuk (KKP), sistem peringatan dini, kapasitas dan jejaring laboratorium, kapasitas SDM, protokol dan tata laksana respons cepat dan litbang, serta karantina kesehatan.

Lihat juga...