Disporapar Jateng Susun Rencana Bidang Pariwisata

Editor: Koko Triarko

Kepala Disporapar Jateng, Sinoeng N Rachmadi, saat ditemui di Semarang, Minggu (31/5/2020). –Foto: Arixc Ardana

SEMARANG – Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19. Selama pandemi berlangsung, seluruh tempat wisata ditutup, demi mencegah penyebaran. Imbasnya, terasa bagi para pengelola obyek wisata, hingga mitra, seperti hotel, resto, agen wisata, hingga tranportasi.

“Libur lebaran yang biasanya menjadi puncak pengunjung juga berlalu begitu saja, karena obyek wisata masih tutup. Kini seiring dengan kebijakan new normal, dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, sektor wisata bisa menggeliat kembali,” papar Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng, Sinoeng N Rachmadi, di Semarang, Minggu (31/5/2020).

Dipaparkan, dalam konsep fase new normal bidang pariwisata di Jateng, ada beberapa langkah yang harus dilakukan.

“Kita memasuki masa tanggap daruat, dari bulan Maret hingga Mei 2020, dengan merujuk pada kebijakan pemerintah dalam upaya pencegahan Covid-19,” lanjutnya.

Kemudian, masa pemulihan, Juni-Desember 2020. Meskipun ada kemungkinan masa tanggap darurat diperpanjang, namun Disporapar Jateng sudah menyediakan strategi action plan dalam persiapan new normal.

“Kita menyebutnya fase waktu menyesuaikan perkembangan keadaan,” terang Sinoeng.

Terlebih, pemerintah melalui Kemenkes sudah mengeluarkan surat edaran HK.02.01/MENKES/335/2020 itu tentang Protokol Pencegahan Penularan Covid-19 di Tempat Kerja Sektor Jasa dan Perdagangan (Area Publik), dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha.

“Melihat hal tersebut, sudah kita susun recana ke depan dalam persiapan new normal, dari bulan Juni hingga September 2020,” lanjutnya.

Dijelaskan, pada bulan Juni 2020, pihaknya akan melakukan identifikasi destinasi wisata yang siap sebagai pilot project. Termasuk destinasi berbasis masyarakat dan swasta terseleksi, yang siap melakukan penerapan protokol kesehatan sebagaimana surat edaran Menteri Kesehatan RI.

“Termasuk pengajuan persetujuan kepada kepala daerah, bupati/wali kota dan gubernur, tentang rencana simulasi pembukaan destinasi skala terbatas dan bertahap,” lanjut Sinoeng.

Sementara pada Juli 2020, diharapkan uji coba pelaksanaan simulasi operasional destinasi wisata bisa dilakukan.

“Tentunya disertai dengan evaluasi dan rencana tindak lanjut. Sementara pada Agustus-September, bisa dilakukan pembukaan destinasi wisata terbatas,” jelasnya.

Ada standar persyaratan opersional prosedur (SOP), yang harus diterapkan oleh pengelola obyek wisata selama new normal. Di antaranya, memiliki izin dari Pimpinan Daerah dan Gugus Tugas Covid-19, pembatasan operasional saat simulasi berlangsung 2-3 jam, melakukan sterilisasi obyek wisata secara berkala dengan penyemprotan desinfektan, membatasi jumlah pengunjung agar tidak terjadi penumpukan, hingga tersedia tim kesehatan dan ambulans, serta pola rujukan.

“Selain itu, tentu saja juga penerapan protokol kesehatan, yang saat ini sudah dilakukan. Mulai mengenakan masker, penyediaan tempat cuci tangan atau handr sanitizer, pengecekan suhu badan, hingga pembatasan jarak antrian,” tegasnya.

Ditegaskan, ada cukup banyak persyaratan yang harus dipenuhi, namun itu semua bukan untuk mempersulit pengelola daya tarik wisata, tetapi untuk kebaikan bersama.

Sementara, harapan pun dilontarkan para pengelola obyek wisata. Salah satunya, Siswanto, penggagas desa wisata Kampung Jawi, Gunungpati, Semarang.

“Tentu kita akan sambut gembira, jika pemerintah sudah mengizinkan kembali. Tentu saja dengan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Selama pandemi ini, memang kita tidak melakukan kegiatan dengan mengundang atau mendatangkan massa atau wisatawan,” terangnya.

Hal senada juga dilontarkan, Syaiful, pengelola Nirwana Stable. Diterangkan, sejak pandemi Corona, obyek wisata berkuda tersebut ditutup dan para pegawai di rumahkan. “Selain untuk mencegah penularan, juga terjadi penurunan pengunjung yang sangat tajam, jadi kita pilih untuk menutup. Mudah-mudahan dengan rencana new normal, obyek wisata ini bisa dibuka kembali. Pada prinsipnya, kita siap mengikuti rencana pemerintah, termasuk persyaratan yang harus dipenuhi,” pungkasnya.

Lihat juga...