Pedagang Kuliner di Lamsel Sambut Gembira ‘New Normal’
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Segera dibukanya sejumlah objek wisata di Lampung Selatan di masa new normal, turut disambut gembira oleh para pedagang kuliner. Mereka yang semula harus tutup, mulai bisa berjualan lagi di sejumlah objek wisata.
Sempat berhenti sejak 16 Maret 2020 silam, sektor pariwisata bahari di pesisir Bakauheni, Rajabasa, Kalianda, Lampung Selatan, perlahan dibuka. New normal bidang pariwisata ini pun disambut positif Rupiani, salah satu pemilik usaha kuliner di pesisir Rajabasa.
Pedagang kuliner tradisional di pantai Sikop Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, itu mengaku telah istirahat berjualan selama dua bulan. Faktor pencegahan penularan Coronavirus Disease (Covid-19) menjadi alasan pelaku usaha sektor pariwisata dilarang beroperasi. Pada kondisi normal, pantai Sikop atau dikenal dengan pantai Wat Wat Gawoh ramai dikunjungi wisatawan.
Destinasi pantai Sikop tepat di jalan lingkar pesisir Rajabasa. menjadi satu tempat wisata bahari. Lokasi strategis dengan area parkir luas, saung bambu tematik dan artistik menghadap laut menjadi pilihan.
“Pandemi Covid-19 ikut memukul usaha sektor pariwisata, terutama bagi sebagian pedagang kuliner yang mengandalkan konsumen dari wisatawan yang datang, namun saat ada aturan new normal, sektor pariwisata boleh beroperasi kembali,” terang Rupiani, saat ditemui Cendana News, Minggu (31/5/2020).
Rupiani mengaku harus memulihkan ekonomi keluarga sejak terjangan tsunami 28 Desember 2018, silam. Belum usai tsunami melanda, pandemi global Covid-19 memaksa sejumlah pelaku usaha pariwisata menghentikan aktivitas. Sepekan sebelumnya, objek wisata pantai ikut terimbas banjir rob oleh gelombang pasang dan angin kencang.
Sesuai arahan Dinas Pariwisata Lamsel, inovasi dan perbaikan pada masa new normal telah ditetapkan. Ia telah berjualan pada pekan terakhir Mei dengan sejumlah menu kuliner. Jenis kuliner yang dijual meliputi bakso, mi ayam, sate dan berbagai jenis minuman ringan. Sejumlah pengunjung yang mulai berdatangan, memilih membeli makanan dan minuman yang dijualnya.
“Protokol kesehatan telah disediakan dengan adanya tempat cuci tangan memakai sabun, mengatur jarak tempat duduk bagi pengunjung,” cetusnya.
Sebagai pelaku usaha kecil bidang pariwisata, Rupiani mengaku tidak mendapat stimulus bantuan. Meski sejumlah warga memperoleh bantuan sosial tunai selama masa pandemi Covid-19, ia memilih menggunakan modal simpanan. Selain itu, potensi kebun dimaksimalkan untuk dijual, seperti kelapa muda, pisang yang diolah menjadi sajian kuliner.
Aturan new normal sektor pariwisata, menurut Rupiani bisa membantunya bangkit. Sebab, wisatawan domestik dari wilayah Lampung tetap bisa berkunjung dengan memakai protokol kesehatan.
Berjualan di objek wisata, meski belum normal seperti sedia kala tetap bisa memberinya sumber pemasukan harian.
“Butuh adaptasi yang lama agar sektor pariwisata bisa pulih, sehingga pelaku usaha kuliner juga bisa kembali beraktivitas,” terangnya.
Rudi, pegiat wisata sekaligus anggota Pokdarwis Desa Kunjir, menyebut new normal bisa mendorong bangkitnya sektor pariwisata. Perubahan baru dalam pengelolaan sektor pariwisata telah berlangsung selama masa pandemi Covid-19.
Sejumlah pengunjung yang kerap datang berkerumun, saat new normal tetap bisa datang dengan melakukan social distancing.
Objek wisata pantai, menurutnya bisa menjadi penyedia energi positif. Sebab, dengan melakukan rekreasi, melakukan snorkeling, menyelam di pantai Sikop, bisa menjadi sarana untuk meningkatkan imun tubuh. Pada new normal, kewajiban pengelola mengutamakan kesehatan, keselamatan, sesuai protokol kesehatan tetap harus diterapkan.
“Selama ini wisatawan domestik mendominasi, namun tetap harus menjaga protokol kesehatan,” cetusnya.
Menurut Rudi, wisatawan yang mendatangi pantai Sikop atau Wat Wat Gawoh berangsur mulai berdatangan. Saat pengunjung datang dengan membeli makanan, minuman ringan, akan membantu pemulihan ekonomi.