Butuh Penelitian Lanjutan Terkait Munculnya Orca di Indonesia
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
JAKARTA — Kemunculan Orca atau Paus Pembunuh beberapa waktu lalu di perairan Kepulauan Anambas menurut beberapa peneliti bisa disebabkan oleh banyak faktor. Dan untuk memastikannya, masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut.

Peneliti Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) Dharmadi menyebutkan Orca masuk dalam kategori Data Deficient dalam International Union of Conservation Nature (IUCN).
“Selain yang viral kemarin itu, kemunculan Orca di Indonesia sempat tercatat di Morotai pada Juni 2014 dan Juli 2017,” kata Dharmadi saat dihubungi, Sabtu (2/5/2020).
Dharmadi menyatakan, prakiraan sebab hadirnya Orca ke perairan Kepulauan Anambas bisa disebabkan tiga faktor kemungkinan.
“Saya menduga, sebab pertama adalah karena pengaruh perubahan iklim global. Kedua adalah karena adanya gangguan pada sensor indra suara yang bagi marine mammals sangat sensitif,” paparnya.
Gangguan sensor ini menurut Dharmadi kemungkinan dapat disebabkan oleh adanya pengeboran minyak di laut lepas yang menggunakan teknologi dentuman suara dalam air.
“Kondisi ini sangat mengganggu pada saat marine mammals bermigrasi. Karena pengaruh suara dapat menyebabkan disorientasi pada saat bermigrasi,” ujarnya.
Penyebab ketiga, kemungkinan menurut Dharmadi, adalah karena melimpahnya sumber daya ikan di perairan Indonesia, terutama ikan pelagis kecil, yang merupakan makanannya.
“Sejauh ini, belum ada info jika Orca pernah menyerang manusia walaupun Orca termasuk Marine mamals ganas seperti hiu putih. Namun jika penyelam bertemu Orca, tetap harus hati-hati,” ucapnya tegas.
Peneliti Bidang Oseanografi Terapan Dr. -Ing. Widodo Setiyo Pranowo menjelaskan sistem sonar Orca atau marine mamals lainnya dapat terbelokkan ketika ada gangguan di kolom air.
“Gangguan tersebut bisa diakibatkan polusi suara yang ekstrim. Polusi suara ekstrim ini contohnya ada bunyi ledakan bom di bawah air, atau gelombang bunyi yang ditembakkan oleh seismic gun dari kapal survei seismik yang sedang mencari sumber-sumber minyak bumi di bawah dasar laut,” urainya saat dihubungi secara terpisah.
Tapi, memang kondisi gangguan ini masih membutuhkan investigasi yang lebih mendalam, apakah memang ada sumber gangguan di sekitar Laut China Selatan hingga kawasan Laut Natuna.
Widodo memaparkan berdasarkan simulasi model yang dibuat, vektor panah arus menunjukkan arah arus adalah datang dari arah Laut China Selatan melewati Laut Natuna menuju ke arah Anambas.
“Sebagian besar arus kemudian bergerak menuju ke Selat Karimata. Sedangkan sebagian kecil ada yang bergerak menuju le Selat Malaka. Berdasarkan pola pergerakan arus inilah sebagai dasar kemungkinan orca bukan berasal dari Phuket. Karena bila berasal dari Phuket pasti akan melewati Selat Malaka bila akan menuju ke Anambas, dan itu berarti harus melawan arus. Namun, sepertinya orca tidak akan melawan arus,” ujarnya.
Sehingga kemungkinannya, orca yang di Anambas, datangnya dari arah Laut China Selatan. Sementara habitat orca terdekat dari arah Laut China Selatan adalah habitat yang berada di Samudera Pasifik Barat Laut, seperti Laut Jepang dan sekitarnya.
“Secara pasti saya tidak tahu, setelah dari Anambas mereka akan lanjut kemana lagi. Karena itu memerlukan pengetahuan fisiologi orca. Saya bukan ahlinya. Tapi kalau dilihat arusnya, maka dari Anambas arus ada dua percabangan gerak, sebagian besar menuju ke Selat Karimata, dan sebagian kecil berbelok ke Selat Malaka. Bisa saja orca dari Anambas memilih berbelok ke Selat Malaka lalu menuju ke habitatnya yang di Phuket Thailand. Namun untuk memastikannya maka perlu diteliti dan diobservasi lebih lanjut,” pungkasnya.