Wakaf Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Terdampak Covid-19
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Wakaf merupakan instrumen yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat, apalagi di tengah pandemi wabah Corona atau Covid-19.
Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI), Iwan Agustiawan Fuad, mengatakan, dalam mengembangkan wakaf agar bisa berhasil, utamanya dalam melawan pandemi wabah Covid-19 ini, yakni dengan membangun semangat gerakan gotong royong.
Wakaf sebagai sebuah gerakan gotong royong, dibangun sejak awal ajaran Islam lahir dan masa kemerdekaan sehingga dapat dihidupkan kembali menjadi gerakan ekonomi berjamaah.
“Ketika Rasulullah masuk ke Madinah, banyak rakyat yang hidupnya sejahtera karena wakaf,” kata Iwan pada diskusi online tentang Wakaf Produktif dan launching Ramadan Produktif di Jakarta, Rabu (22/4/2020).
Selain itu, tambah dia, memperkuat basis teknologi dengan membangun kekuatan keyakinan pada ajaran Islam. Bahwa wakaf adalah instrumen penting yang dapat menjaga dan memelihara alam, menguatkan negara, kesejahteraan dan keadilan.
Terpenting lagi kata Iwan, para nazir harus profesional dalam mengelola wakaf, terus ditingkatkan dengan pelatihan, pendampingan dan kemitraan baik dalam negeri maupun luar negeri.
Kreativitas produk pangan dan pengelolaan wakaf produktif juga menjadi hal penting. Menurutnya, pengelolaan wakaf yang inovatif baik produk, program maupun teknik pendayagunaan harus melibatkan masyarakat luas.
Selain itu, sebut dia, adalah dukungan seluruh stakeholder wakaf baik pemerintah maupun masyarakat.
“Literasi yang sistematis, penyempurnaan kebijakaan, dan regulasi yang ketat untuk mendorong tumbuhnya wakaf di Indonesia,” imbuh Iwan.
Menurutnya, ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan nazir dalam mengatasi masalah Covid-19, yaitu fase inkubasi, akurasi dan risiko.
“Maka kita membuat program yang menyesuaikan dengan situasi yang ada di lapangan. Pada fase inkubasi perlu ada edukasi maupun promosi melalui media sosial dan elektronik untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat di dalam memahami Covid-19,” ujar Iwan.
Adapun fase akurasi, seperti menjaga kebersihan dan kesehatan masyarakat, serta lingkungan. Ini dilakukan secara masif lewat medsos yang dilakukan najir wakaf.
Selain itu, dalam bentuk bantuan langsung. Karena menurutnya, banyak juga yang setelah terjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan lainnya, masyarakat mulai kesulitan ekonomi.
“Maka kita perlu memberi bantuan langsung berupa logistik, masker, peralatan rumah sakit, Alat Pelindung Diri (APD) dan lainnya,” imbuhnya.
Di masa resesi, jelas dia, perlu penanaman pangan di perumahan atau di atas lahan wakaf, seperti budidaya tanaman herbal yang bermanfaat untuk menjaga stamina tubuh.
Juga mengadakan penelitian dan kajian tentang vaksin Covid-19. Ini menurutnya, perlu didorong supaya akademisi aktif untuk menemukan vaksin Covid-19.
“Kita terus galakkan bantuan langsung dan recovery ekonomi masyarakat melalui pengelolaan wakaf produktif,” paparnya.
Misalnya, kata dia, membantu petani untuk menjual produk pangan yang mereka panen. Tentu selain itu juga, harus diberi bantuan modal.
Karena dalam kondisi semacam ini walaupun ada kebijakan PSBB, tapi di beberapa daerah masih aman. “Seperti Probolinggo itu hanya beberapa terpapar dan juga mereka masih bisa bertani karena sudah diisolasi di rumah,” ujarnya.
Isolasi penduduk tersebut menurutnya, sudah dilakukan juga di beberapa desa dan sampai saat ini masih berjalan.
“Pada saat jual hasil pertanian, mereka kesulitan. Maka kita perlu jembati mereka untuk memasarkan produk pangan yang dipanen,” tandasnya.
Kembali dia menegaskan, sebagai umat harus membangun keyakinan bahwa ajaran Islam sangat sempurna.
Tentu ada hikmah di balik wabah pandemi Covid-19 ini.
“Kita gunakan wakaf, dan selalu saja peradaban apa pun ketika mau bangkit kondisinya bisa sangat susah. Nah, barangkali ini hikmah ketika sedang susah terdampak Covid-19, pasti ada gelap. Ini sebuah isyarat, agar kita lebih siap,” pungkasnya.